Tentang Kartini

Saya memiliki keyakinan bahwa saat ini, di Indonesia, telah banyak Kartini baru yang bermunculan, tentunya sesuai dengan konteks sekarang. Tetapi, di balik itu semua, masih banyak orang yang terkungkung dan tidak sadar dengan konteks ruang dan waktu. Alih-alih menyuarakan gagasan Kartini, sebagian dari kita justru terjebak dalam selebrasi.

Kemarin (21/4), saya banyak membaca tulisan-tulisan yang mengulas Kartini, ada yang pro dan ada yang kontra. Saya mulai bertanya-tanya ketika kebanyakan media arus utama justru mengabarkan perayaan selebrasi Kartini di institusi pemerintah atau pendidikan. Sejauh yang saya baca, saya sama sekali tidak menemukan sebuah berita yang benar-benar menyenangkan. Rata-rata judul yang diangkat adalah “Perayaan Hari Kartini di….”. Hal ini justru semakin membuat kabur.

Hal yang selalu diangkat adalah ketika Kartini melakukan perlawanan terhadap kungkungan struktur sosial yang membelenggunya. Mereka selalu melihat hanya dari sisi seorang Kartini yang berkirim surat dengan Abendandon. Bagi saya, jika hanya melihat dari sisi tersebut, hal yang kemudian muncul di benak saya, jika keadaan tersebut disesuaikan dengan konteks sekarang adalah seorang Kartini yang sering curhat di sosial media. Setidaknya, imajinasi itulah yang muncul jika seorang Kartini hidup di masa kini namun dengan gaya lampau.

Paragraf di atas bukan berarti bahwa saya meremhtemehkan seorang Kartini. Justru pemaknaan masyarakat tentang seorang Kartini menjadi bias. Biasnya Kartini ini muncul karena kehadiran Kartini ini justru diawali dari konstruksi yang diciptakan Pemerintah Kolonial Belanda. Pada masa itu, Kartini justru dijadikan sebagai alat kampanye keberhasilan Politik Etis Belanda (baca lebih lanjut di: Kartini ‘Bikinan’ Belanda). Sayangnya, setelah merdeka, para kelompok intelektual di Indonesia justru tidak bisa melepaskan konstruksi tersebut. Lagi-lagi Kartini dikomodifikasikan oleh orde yang berkuasa.

Pada masa Orde Lama, Kartini dijadikan sebagai simbol seorang perempuan yang melakukan perjuangan politik. Hal ini juga sejalan dengan masa itu bahwa organisasi perempuan memang sedang menjamur dan terjun ke ranah politik. Salah satu organisasi perempuan yang menyematkan Kartini sebagai simbol perjuangannya adalah Gerwani. Dari perjuangan mereka Kartini ditetapkan sebagai pahlawan Nasional dan muncul perayaan Hari Kartini, yang ditetapkan pada tahun 1964. Namun, Kartini, oleh mereka, tidak semata-mata hanya dirayakan pada tanggal 21 April. Lebih dari itu, Kartini mereka jadikan simbol sebagai simbol perlawanan terhadap kolonial. Bagi Gerwani, hal ini dijadikan sebagai penyemangat mereka untuk melakukan revolusi nasional.

Api Kartini, salah satu majalah yang diterbitkan Gerwani sempat menuliskan (ulasan lengkapnya dapat dibaca di: Menyalakan Kembali ‘Api Kartini’):

“Sesungguhnya gadis ideal yang dikehendaki Kartini sesuai dengan panggilan revolusi, seorang gadis yang tidak hanya dengan ciri perilaku nrimo ing pandum (menerima nasib), tetapi tangkas, berdiri tegak sejajar dengan para rekan laki-laki dalam segala bidang…semangat Kartini…selalu memberontak terhadap segala ketidakadilan, belenggu adat kolot serta derita kaum perempuan dan Rakyat.”

Komodifikasi Kartini tidak berhenti di masa Orde Lama saja, justru di masa Orde Baru semakin berkembang dan penafsiran tentang Kartini semakin berubah. Saya akan memulai dari munculnya lagu tentang Kartini yang dikarang oleh W.R. Supratman seusai meliput Kongres Perempuan Indonesia pada Desember 1928. Awalnya, lirik yang tertulis adalah “Raden Ajeng Kartini…”. Lalu pada masa Soekarno, lirik tersebut diubah menjadi “Ibu kita Kartini…”. Tujuan Soekarno merubah lirik ini adalah untuk menghilangkan frase ‘Raden Ajeng’ yang identik dengan feodalisme, karena pada masa pasca kemerdekaan, perlawanan terhadap kolonialisme, yang setali dengan feodalisme, sedang dilakukan bersamaan dengan perjuangan nasional. Selain itu, peran ‘ibu’ merupakan hal penting dalam rangka perjuangan kelompok kiri. Seperti yang termuat dalam Novel Ibunda karya Maxim Gorky yang diterjamahkan oleh Pramoedya Ananta Toer atau karya Pram lain yang menjadikan perempuan sebagai tokoh sentralnya (Baca lebih lanjut di: Perempuan dalam Sastra).

Namun, pada masa Orde Baru, frase ‘Ibu Kita Kartini’ tidak dihalangkan, tetapi penafsirannya yang berubah. Pada masa ini, Kartini kembali dirumahkan. Kartini tetap menyandang ibu di depan namanya, tetapi bagi kelompok penguasa, penafsiran Ibu yang sekarang berbeda. Bagi mereka perempuan hanya ada dua, ibu dan istri. Maka, jika ada perempuan yang berorganisasi dan melakukan gerakan politik, mereka tak jauh beda dengan Gerwani. Maka dari itu, Kartini dijadikan sebagai simbol bagi organisasi-organisasi bentukan Orde Baru, yaitu PKK dan Dharma Wanita. Maka di masa ini sosok Kartini berubah dari seorang pejuang menjadi seorang perempuan yang hanya punya dua fungsi, sebagai istri yang baik atau sebagai ibu yang baik.

Lalu, menjadi seperti apa Kartini setelah 16 tahun reformasi? Enam belas tahun adalah angka yang menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai setengah orde, jika dilihat dari pola orde-orde sebelumnya. Kembali lagi ke bagian awal tulisan ini bahwa saat ini, Kartini hanya dilewatkan sebagai sebuah selebrasi saja. Para perempuan menggunakan kebaya dan bersanggul, seolah-olah Kartini mengharapkan yang demikian. Tetapi, hal tersebut tidak disadari sebagai sebuah peninggalan orde sebelumnya oleh masyarakat. Bahwa, bagi saya, dengan memakai kebaya dan sanggul untuk kemudian melakukan aktivitas yang menunjukkan dirinya seorang “perempuan” pada umumnya, itu sama halnya dengan menjadi ibu yang baik atau istri yang baik. Bukan menjadi Kartini.

Bentuk-bentuk perayaan Hari Kartini yang umumnya terjadi bukan mencerminkan upaya untuk menuju kesetaraan gender. Justru kegiatan yang berpola semacam itu lah yang menyebabkan perempuan terjebak dalam konstruksi sosial atas relasi laki-laki dan perempuan. Toh saat ini kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sudah mulai terang di Indonesia, dengan melihat angka-angka di bawah ini.

Ada sebuah tulisan di Akumassa yang membahas mengenai bagaimana seorang laki-laki berkomentar mengenai Kartini (dapat dilihat di: Saya Laki-laki Berkomentar tentang Komentar Laki-laki tentang Kartini). Salah satu gagasan penting yang saya amini adalah bahwa saat ini, ketika berbicara tentang Kartini sudah bukan semata perjuangan kesetaraan gender, tetapi sudah mengenai perjuangan tentang kemanusiaan. Saya sepakat dengan hal ini karena, menurut saya, jika posisi perempuan dan laki-laki masih berada di dua kutub yang berbeda, maka sampai kapanpun kesetaraan tidak akan terwujud. Pertama, kita harus melepaskan dikotomi tersebut sehingga tujuan perjuangan yang digagas Kartini bisa terlihat.

Memahami Kartini tidak melulu harus dirayakan dengan berkebaya (bukan berarti tidak), tetapi juga melihat gagasannya untuk perempuan dan Indonesia. Semua harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu. Tetapi jangan pula menjerumuskan ‘Kartini’ sebagai alat semata, seperti yang dilakukan para penguasa dengan mengkomodifikasinya. Alangkah nikmatnya jika gagasan Kartini dijadikan sebagai sarana kontemplasi untuk perjuangan kemanusiaan.

Fatahillah Food Festival (Katanya)

Satu minggu yang lalu saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta yang di sana sedang berlangsung Fatahillah Food Festival. Rencana ini sebenarnya juga dadakan. Saya berangkat dari Depok dengan Ekky. Sementara itu, ternyata Ovan dan kawan-kawan juga mengajak kemari. Tetapi saya memilih naik kereta, sedangkan Ovan dkk naik motor, karena setelah itu rencananya mereka akan nonton Iwan Fals (yang ternyata setelah sampai monas cuma dapet macetnya doang).

Berangkat dari Depok dengan optimisme dan ekspektasi yang tinggi, tapi ujung-ujungnya malah kecewa. Lalu, sebenarnya apa yang saya ekspektasikan? Kita semua pasti tahu dengan acara Braga Culinary Night yang diselenggarakan di Bandung beberapa bulan yang lalu. Seperti itulah yang ada di kepala saya. Mengapa demikian? Karena, dari informasi yang tertulis dan disebarluaskan, kegiatan ini baru dimulai sekitar jam lima sore dan berakhir jam sepuluh malam. Dari kegiatan yang sama-sama diselenggarakan di malam hari berarti apa yang disajikan tentu tidak akan jauh berbeda. Apa yang ada di kepala saya adalah gambaran Braga Culinary Night yang diselenggarakan di Kota Tua. Artinya, ketika saya datang, saya bisa makan jajanan pasar atau cemilan tradisional dengan puas dan tidak begitu berdesak-desakan, karena diselenggarakan di Kota Tua. Ternyata hasilnya berbeda.

Kerumunan di Food Festival yang terkesan eksklusif

Kerumunan di Food Festival yang terkesan eksklusif

Pertama, yang paling bikin menyesal adalah makanan yang disediakan adalah makanan-makanan berat semua. Seperti yang saya sebutkan di awal tadi, saya mengira bahwa akan banyak jajanan di sini, ternyata tidak. Stan makanan yang tersedia sebagian besar adalah makanan berat, yang harus menggunakan nasi. Bentuk yang tersaji di sini kesannya justru seperti tempat makan  yang tadinya ada di  dalam mall sekarang dipindahkan ke halaman Museum Fatahillah. Belum lagi sekat yang ada di arena “festival” tersebut. Seolah-olah menghilangkan identitas Taman Fatahillah yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang tanpa adanya batas ruang.

Selanjutnya, model pembayaran yang bagi saya kurang nyaman. Semua makanan dan minuman di sini harganya kelipatan lima ribu rupiah. Selanjutnya, tidak ada aturan yang jelas. Tiba-tiba saja, saya dan Ekky mendapatkan informasi dari salah satu teman kampus yang kita temui di sana bahwa sebenarnya voucher tersebut bisa direfund. Kalau saja kita tidak dapat informasi tersebut, bisa saja vouchernya kita buang sia-sia.

Saya sempat berfikir jika penyelenggaraan kegiatan ini hanya setengah-setengah saja. Untuk ukuran sebuah food festival, ruang yang digunakan sangatlah kecil dan yang disajikan tidak sesuai dengan konteks waktu. Hanya disediakan tempat kurang dari seperempat luas lapangan dan justru banyak makanan berat yang tersaji ketika pilihan waktunya adalah malam hari. Padahal, berdasarkan informasi yang saya dapat, tujuan dari diselenggarakannya food fest ini adalah bagian dari revitalisasi kota tua. Penyelenggara sempat menjanjikan jika makanan yang disediakan adalah makanan khas ibu kota. Namun yang saya temui justru kuliner nusantara, tapi ini bukan masalah. Hanya saja kurang terasa “Jakarta dan Kota Tua-nya”.

Tapi gak apa-apa, soalnya cakalang yang saya makan enak dan pedas (biarpun mahal)! Semoga Food Festival berikutnya bisa lebih menyenangkan.

Bakau Jakarta

Berawal dari obrolan di kantin kampus, saya dan teman-teman berangkat ke Taman Wisata Alam Jakarta. Emang ada? Ada coy, tempatnya di PIK, isinya kebanyakan pohon bakau dan…. sampah. Menyedihkan ya?

Kita berlima (saya, Ovan, Drajat, Kaspo dan Reza) berangkat jam sembilan, rencananya, tapi akhirnya kita berangkat jam sebelas. Sampe di sana pas banget matahari lagi terik-teriknya. Sebenarnya, kalau masuk ke dalam teriknya udah nggak terasa, tapi karena kita belum tau akhirnya saya memilih pake jaket tapi akhirnya bikin kepanasan.

Seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa sampah di tempat ini lebih banyak daripada banyaknya orang yang berkunjung. Padahal, kalo nggak ada sampah saya yakin tempat ini bakal lebih menyejukkan. Tapi ya gimana lagi, kayaknya kebiasaan membuang sampah menjadi masalah terbesar orang Indonesia, dan mungkin juga bagi saya.

Perjalanan masuk hutan bakau di mulai

Perjalanan masuk hutan bakau di mulai

Semakin dekat dengan hutan bakau

Semakin dekat dengan hutan bakau

Jadi, sebelum masuk ke lokasi hutan bakau kita akan melewati sebuah jembatan besar. Saran dari saya jangan lupa baca peta daripada nanti jadi bingung. Oya, selain itu, di sini dilarang memotret menggunakan kamera DSLR, jadi kita hanya mengandalkan kamera handphone.

Setelah muter-muter di dalam, ada beberapa tempat yang bagus. Favorit saya adalah menara pandang. Fungsinya sih untuk melihat aktivitas burung yang habitatnya di hutan bakau. Selain itu, kita juga bisa melihat aktivitas Jakarta yang berada di dekat hutan bakau. Contohnya, aktivitas pembangunan kawasan PIK dan pabrik yang ada di sekitarnya, ditandai dari asapnya yang mengepul.

keren kan? Ini masalah framing aja kok...

keren kan? Ini masalah framing aja kok…

keluar hutan bakau, kita menuju pantai. Seperti apa bentuk pantainya? Silahkan membacanya di sini. Selanjutnya kita bersantai di taman dan beberapa penginapan yang ada di sini. Sebenernya bukan di dalam penginapannya sih, tapi di teras-teras penginapan yang ada. Sebagian besar bentuk penginapannya seperti tenda, jadi mungkin serasa lagi berkemah kalau nginep di sini.

Pokoknya, kita harus bisa menjaga tempat ini karena menurut saya ini satu-satunya tempat yang bisa menjaga Jakarta. Menjaga Jakarta dari banjir rob, menjaga Jakarta untuk tetap hijau, dan menjaga Jakarta supaya tetap memiliki tempat rekreasi alam. Intinya, kalau ke sini buanglah sampah pada tempatnya, karena tong sampah di tempat ini bersih semua.

Salam selfie dari bujang selfie!

Salam selfie dari bujang selfie!