#4

Hari ini, saya membeli nasi goreng keliling. Lebih tepatnya meminta si penjual untuk mengoreng nasi yang ada di rumah. Maksudnya supaya bisa ditambah telur dan kawan-kawannya.

Tiba-tiba si abang tukang nasi goreng curhat kalau malam ini banyak pelanggannya yang meminta untuk mengolah nasi miliknya. Persis seperti yang saya lakukan. “Nasi saya masih utuh mas,” begitu keluhnya. Bukan cuma itu saja, Ia juga mengucapkan kalimat “mimpi apa saya semalam?” Berulang-ulang. Seperti mantra.

Ngomong-ngomong soal mimpi, sudah tiga malam terakhir saya mimpi sedang bekerja. Terdengar konyol sih, tapi memang begitu adanya.

Begini ringkasan mimpinya. Malam pertama: cukup wajar. Pekerjaannya sama dengan yang dikerjakan sehari-hari. Malam kedua: sudah mulai aneh. Jam kerjanya dimulai malam hari dan berakhir pas adzan Subuh. Malam ketiga: paling aneh. Ketika sedang bekerja, tiba-tiba bos memanggil. Ternyata dia bukan bos yang biasanya melainkan seorang resi yang lagi menyebarkan ilmu kebajikan. Ujung-ujungnya saya diceramahi tentang hidup dan pandangan hidup. Absurd.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang mekanisme mimpi. Di dalamnya disebutkan bahwa mimpi sebenarnya hanya proses membuang memori yang sudah dianggap tidak berguna atau, justru sebaliknya, Ia mengabadikan keinginan yang tidak (pernah) terwujud.

Kembali lagi ke cerita si abang penjual nasi goreng, ketika saya hendak membayar, dia tetap melontarkan keluhan yang sama. Namun, sembari menabuh kentungannya, terdengar celetukannya “yang penting niat jualan dan ingat usaha yang udah dilakuin mas.” Saya pun hanya cengar-cengir.

Advertisements

#1

Kabar tentang gempa dan tsunami di Palu dan Donggala cukup membuatku kaget dan bingung di Jumat sore, 28 September 2018. Bagiku, kedua kota tersebut telah memberikan pengalaman yang cukup istimewa. Di sana pula, aku bertemu dengan kawan-kawan baru dan tentu bersama dengan cerita-cerita baru.

Setelah kabar tersebut kudengar, aku langsung menghubungi kawan-kawan yang tinggal di Palu dan Donggala. Tapi tidak ada jawaban. Yang membuatku lebih khawatir adalah kenyataan bahwa Pakdeku (kakak ibuku) yang tinggal di Palu juga tidak bisa dihubungi. Kepada mereka, aku hanya bisa meninggalkan doa lewat pesan singkat yang kukirim. Berharap mereka akan segera membacanya.

Singkat cerita, pada Selasa, 2 Oktober 2018, aku mendapatkan pesan singkat dari Pakdeku tentang keadaan keluarga dan dirinya yang baik-baik saja. Tak lama berselang, kawanku yang tinggal di Donggala menyampaikan kabar serupa. Syukur lah semua baik-baik saja. Meskipun begitu, komunikasi masih cukup sulit. Masih terbatas dengan berkirim pesan singkat.

Hingga pada Jumat, 5 Oktober 2018, jaringan telepon sudah berangsur membaik. Aku dan keluargaku di Jakarta sudah bisa berkomunikasi dengan pakdeku di Palu. Komunikasi yang sangat nyaman melalui telepon.

Pada kesempatan tersebut, sepupuku yang masih berusia enam tahun juga sempat mengobrol dengan pakdeku. Obrolan yang cukup hangat bagi seorang anak seusianya.

Tanpa diarahkan, Ia mulai bertanya tentang keadaan keluarga di sana dan mengungkapkan keinginannya untuk segera menengok keluarga di Palu. “Mau main ke Palu”, katanya. Keinginannya disambut dengan ajakan untuk datang ke Palu. “Tapi pantai di sini sudah tidak ada,” kata Pamanku. Adikku hanya menjawab “Gak apa-apa, nanti aku main-main di rumah Pakde aja.”.

Pada momen itu, aku memahami bahwa empati muncul dan tumbuh dari adanya kejujuran.

8 Oktober 2018

Duaribu Limabelas

Dahulu, saya mempunyai bayangan mengerikan tentang tahun 2015. Bayangan itu muncul ketika menjadi mahasiswa baru. Wujudnya berupa nafas terakhir dari masa studi saya yang berakhir pada 2015. Maka, saya terkadang memikirkan akan seperti apakah saya di tahun tersebut?
Akhirnya, waktu juga lah yang menjawabnya. Meskipun saya masih “gini-gini aja” setidaknya saya harus bersyukur karena telah lepas dari bayangan mengerikan itu. Terima kasih!
Happy New Year!