Menulis atau Terhempas oleh Waktu?

Melihat judul diatas, mungkin banyak yang akan bertanya, apa hubungannya? Mengapa menulis? Mengapa bisa terhampas oleh waktu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan sederhana..

Aku teringat ketika dahulu masih duduk di bangku SMA duniaku tidak jauh dari kegiatan yang bernama tulis-menulis. Bahkan pencapaian terbesarku adalah bisa mengikuti sebuah lomba tingkat nasional.  Hebat bukan? yah, dampaknya lumayan besar. Aku menjadi bangga hingga berakhir menjadi jumawa. Seketika itu, aku lupa apa makna dan esensi menulis! Lupa kawan!

Kealpaan tersebut mengalir hingga aku menjadi seorang mahasiswa. Aku sendiri pun tidak sadar, hari-hari tanpa menulis menjadi biasa dan makin terlupa. Apa ini akibat dari aku yang berkuliah di kampus yang dijuluki sebagai kampus perjuangan sehingga orientasi menjadi berubah? Dari menulis menjadi banyak cakap! Ah, tidak baik mencari kambing hitam…

***

Suatu hari, seorang kawan menghampiriku dengan membawa buku tebalnya. Saat itu, aku tidak begitu peduli, toh dia memang orang yang suka melahap buku. Buku macam apapun dia baca. Sampai-sampai pacar pun kalah dengan bukunya.

Ketika itu, aku sedikit mengintip buku apa yang ia baca. Rasa penasaran ini muncul karena biasanya buku yang ia baca adalah buku yang aneh-aneh. Namun, saat itu ia membaca karya dari Pramoedya Ananta Toer yangberjudul Bumi Manusia. Sebenarnya nama ini cukup familiar di telingaku, karena ketika aku berkunjung ke rumah oom-ku di Bandung, ia bercerita bahwa buku-buku Pram adalah bacaan favoritnya ketika menjadi mahasiswa.

Langsung saja aku perhatikan sampul depan dan belakang buku tersebut. Biasa lah, orang tertarik dengan sampul sebuah buku sampai-sampai muncul istilah “don’t judge a book by its cover”. Ketika menengok sampul belakang, ada sebuah kutipan menarik dari Pram. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”. Seketika aku teringat momen itu.

***

Kata-kata dari Pram seakan-akan menjadi sebuah kelapa yang jatuh tepat diatas kepala kita ketika sedang bersantai di bawah pohonnya. Ya, sebuah teguran ketika kita sedang terlena dengan keadaan sehingga lupa dengan hal yang penting. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Keabadian!

Sejak saat itu, aku berpikir kenapa tidak mencoba menulis lagi. Menulis untuk sebuah tugas kuliah saja bisa, kenapa untuk tulisan yang lain tidak? Bukankah menulis itu mudah dan bisa mencatatkan namamu dalam sejarah. Bahkan kalau kau sudah pergi ke dunia yang berbeda, kau tetap diingat melalui tulisanmu.

Lalu darimana kita bisa mulai menulis? Tak usah lah berfikir harus menulis sebuah karya yang hebat dan ilmiah seperti tugas kuliah. Omong kosong dengan tugas kuliah! Toh aku membuatnya hanya untuk memenuhi tugas kuliah saja. Bukankah kalian juga begitu kawan?

Mulailah dari hal yang diketahui, dari hal yang muncul disekitar. Tulis pengalaman yang didapat dan ceritakan semuanya melalui sebuah tulisan, bukan percakapan basi-basi. Tulisan dengan gaya kita! Tunjukkan kalau tulisan itu karya sendiri! Menulis itu sungguh menarik. Kita bisa berbagi kepada siapapun, dan tidak dibatasi oleh waktu.

Namun, kita harus ingat perbedaan menulis dan bercakap. Menulis itu bukan berkoar-koar tanpa dasar. Menulis itu bukan menggunjing tanpa makna. Menulis itu butuh suatu gagasan. Gagasan tersebut diperkuat dengan pengetahuan yang ada. Pengetahuan itu didapat dari membaca. Jadi, menulis dan membaca adalah dua sejoli tak terpisahkan. Kelak, tulisan kita akan dibaca orang lain sehingga dapat dijadikan pengetahuan untuk sebuah tulisan baru.

Menulis juga butuh keberanian untuk berkata apa adanya jujur. Bukankan kalian juga tahu tentang kisah Pram yang dipenjara hingga buku-bukunya dimusnahkan? Ia tetap menulis meskipun ia menghadapi ancaman. Begitu juga Widji Thukul, seorang penyair yang hilang karena tulisan-tulisannya.

Jadi, pilihan sekarang ada di tangan kalian. Mau menulis atau membiarkan diri terhempas oleh waktu? Pilih lah dengan bijak, karena sekali lagi, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Depok, 8 Mei 2012

Advertisements

One thought on “Menulis atau Terhempas oleh Waktu?

  1. Reblogged this on manshur zikri and commented:
    Sebuah tulisan dari teman saya, Riefky Bagas Prastowo, tentang menulis. Tulisan ini menjadi semacam pengingat, penegas, dan penambah rasa percaya diri untuk tetap menulis sampai kapan pun. Saya, Bagas, dan rekan-rekan yang senang menulis adalah orang-orang yang tidak ingin hilang dalam sejarah; tidak ingin terhempas oleh waktu ke titik antah berantah. #asyek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s