Teror Bukan Hanya Bom!

Terorisme, menurut International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, adalah setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyebabkan kematian atau cedera tubuh yang serius kepada pihak sipil, atau kepada orang lain tidak terlibat secara aktif dalam permusuhan atau dalam situasi konflik bersenjata, ketika tujuan dari tindakan tersebut, menurut sifat atau konteksnya, adalah untuk mengintimidasi penduduk, atau untuk memaksa pemerintah atau organisasi internasional untuk melakukan atau untuk tidak melakukan suatu tindakan apapun.

Salah satu contoh kasus terorisme yang belakangan ini terjadi di dunia adalah kasus perompakan yang terjadi di Perairan Somalia. Para perompak melakukan terhadap kapal yang melintas di sekitar perairan tersebut, dan kapal dagang milik Indonesia pernah dirompak di sana.

Sebelum membahas lebih lanjut, hal yang pertama kali akan dibahas adalah mengenai latar belakang munculnya tindak perompakan di Somalia. Negara ini berdiri pada tahun 1960 setelah unifikasi dari wilayah Italia dan Inggris. Sejarah negara ini sangat lekat dengan kekerasan, kudeta militer, pembantaian, persekutuan yang abadi, dan akhir-akhir ini yang berkembang adalah militansi islam radikal. Hal ini menyebabkan munculnya banyak kelompok-kelompok yang bermunculan di negara ini.

Sebelum perang sipil pada tahun 1990, Somalia menjadi eksportir utama dari produk agraris dan hasil laut. Perang sipil yang terjadi di Somalia membuat banyak orang kehilangan harta, pekerjaan dan menciptakan ekonomi paralel yang didorong oleh praktek perompakan. Hal ini menyebabkan kekosongan kekuasaan di pemerintahan Somalia. Hal ini menyebabkan tidak adanya pembuat kebijakan di negara tersebut sehingga membuat keadaan yang tidak memiliki keamanan dan mengembangkan adanya kelompok pelaku kejahatan. Salah satunya adalah kelompok yang melakukan perompakan.

Pembajakan telah menjadi hal yang sangat menguntungkan di Somalia, karena melibatkan lalu lintas maritim, maka, Somalia adalah salah satu negara yang memiliki posisi yang paling baik secara geografis di dunia. Terletak antara “Tanduk Afrika” dan ujung selatan Semenanjung Arab, Somalia terletak pada inti dari semua jalur pelayaran utama dunia.

Tujuan utama dari pembajakan Somalia biasanya untuk mendapatkan uang tebusan atas kapal dan awaknya. Akibatnya, perusahaan pelayaran telah menderita kerugian yang sangat besar. Namun, untuk saat ini, pembajakan telah jarang mengakibatkan pembunuhan sandera (Silva, 2010).

Duta Besar Somalia Muhamod Alow Barow mengungkapkan, aksi bajak laut Somalia bukanlah tindak kriminal biasa. Ulah para perompak yang biasa menyandera kapal yang melintas di wilayah mereka dan meminta uang tebusan itu telah ditetapkan sebagai tindakan kriminal internasional. Bahkan, Barow menyebutnya sebagai “bisnis internasional”. Menurut Barow, hasil rampasan atau uang tebusan atas sandera yang diberikan kepada para perompak tidak sepenuhnya dinikmati perompak asal Somalia. Sebagian ada yang diberikan kepada kelompok pendana di negara-negara lain (kompas.com, 2011).

Dari penjelasan tersebut, maka, perompakan yang terjadi di Somalia dapat dikategorikan sebagai sebuah tindakan terorisme. Karena kecenderungan kejahatan teroganisasi ini adalah sebuah aksi terorisme. Hal ini disebabkan karena banyak kelompok teroris yang menggunakan teknik dari kejahatan terorgansiasi untuk tetap menjaga eksistensi kegiatannya.

Tindakan terorisme yang dilakukan oleh perompak Somalia ini dapat dikaitkan dengan teori dan model penjelasan tentang terorisme. Pertama, teori yang terkait adalah teori ekonomi pilihan rasional. Teori ini menjelaskan bahwa orang yang berbuat kejahatan memperhitungkan untung ruginya dari tindakannya dan motivasi kejahatan hanya terjadi jika keuntungan lebih tinggi dari kerugiannya. Pelaku yakin bahwa tindakannya menguntungkan diri mereka sendiri, kelompok dan masyarakat juga. Diyakini, terhadap tindakan yang tidak rasional sekalipun, orang akan bisa berpikir rasional. Pada saat orang atau kelompok lain melihat tindakan teror itu sebagai hal yang berguna, hal ini disebut sebagai efek penularan.

Munculnya motivasi pelaku perompakan dalam melakukan tindakan kejahatannya yang berdasarkan pada pilihan rasional disebabkan oleh beberapa hal. Seperti yang telah disebutkan di awal bahwa setelah meletusnya perang sipil, keadaan negara Somalia menjadi tidak stabil. Orang-orang kehilangan pekerjaan, harta benda dan hal yang berharga lainnya. Hal tersebut mendorong mereka untuk mencari sumber pencaharian yang lainnya.

Pilihan mereka jatuh kepada tindakan kejahatan berupa perompakan. Mereka memilih hal ini didasarkan pada kemampuan mereka dalam menguasai perairan di Somalia. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sebelum terjadinya perang sipil, Somalia merupakan pengekspor terbesar dari hasil laut. Hal ini menandakan bahwa sebelum meletusnya perang sipil, mata pencaharian mereka adalah dengan menjadi nelayan. Kemampuan melaut tersebut dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan berupa perompakan terhadap kapal-kapal yang melintas di perairan tersebut. Perompakan tersebut menciptakan ketakutan dan kekhawatiran bagi kapal-kapal yang melintasi perairan tersebut.

Kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil semakin menguatkan tindakan dari pelaku untuk melakukan perompakan. Mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan jalan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Hal ini disebabkan karena ketidaktersedianya lapangan pekerjaan yang seharusnya difasilitasi oleh pemerintah.

Teori kedua yang dapat digunakan adalah teori sosio-psikologis-frustasi-agresi. Situasi frustasi mendorong lahirnya agresi dan tindak agresi melegalkan frustasi tersebut. Faktor-faktor yang mendukung teori tersebut tidak jauh beda dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya. Keadaan ekonomi dan politik yang tidak stabil karena perang sipil menyebabkan kehilangan barang yang berharga. Hal ini menyebabkan mereka menjadi shock sehingga mengalami frustasi. Akibat kefrustrasian ini mereka melakukan agresi. Kondisi lingkungan sosial mereka yang sudah lekat dengan tindak kekerasan menjadi sebuah alasan pendukung yang memotivasi mereka untuk melakukan agresi. Bentuk agresi yang dilakukan adalah dengan melakukan kejahatan berupa perompakan.

Jadi, kejahatan terorisme yang terjadi di Somalia dalam bentuk perompakan kapal dapat dikaitkan dengan dua model dan teori terkait terorisme. Kedua teori itu adalah teori ekonomi pilihan rasional dan teori sosio-psikologis-frustasi-agresi.

Referensi

Silva, Mario. Somalia: State Failure, Piracy, and the Challenge to International Law. Virginia Journal of International Law, Vol 50. 2010: pp 553-578

Perompak Somalia: Bisnis International. http://internasional.kompas.com, 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s