Basa-Basi Obama

Mulai dari tragedi jabat tangan hingga kalimat “Pulang kampung nih!”. Hal inilah yang menjadi bumbu-bumbu penyedap kedatangan presiden AS, Barack Husein Obama. Bumbu-bumbu tersebut seharusnya bisa menyadarkan rakyat Indonesia bahwa kita masih didikte oleh Amerika.

Mungkin kedatangan Obama ke Indonesia sudah tidak lagi menjadi isu yang ‘panas’ untuk dibicarakan kembali. Wajar hal tersebut sudah tidak menarik lagi untuk dibahas. Seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia hanya mengandalkan media massa untuk menyebarkan isu penting. Setelah media tidak memberitakan lagi, tenggelamlah isu tersebut.

Lalu, apa yang menjadi pertimbangan penulis mengangkatnya kembali dalam tulisan ini? melalui tulisan ini, penulis mencoba untuk mengajak pembaca untuk melihat hal-hal kecil yang cukup ‘menyentil’ kita sebagai seorang Indonesia. Hal kecil yang sebenarnya merendahkan martabat Indonesia sebagai negara yang merdeka. Namun sayangnya, hal tersebut tidak disadari oleh rakyatnya.

Hal pertama yang menjadi perhatian penulis didalam kunjungan Obama adalah insiden jabat tangan antara Tifatul Sembiring dan First Lady AS, Michelle Obama. Insiden ini tiba-tiba menghiasi seluruh media Internasional. Bahkan seorang bintang porno, yaitu Vicky Vette, sempat menuliskan sebuah pernyataan yang cukup menggelitik di akun twitternya. “@tifsembiring Come to the USA and shake anything you want :)” tulisnya ditujukan untuk Tifatul.

Bagi penulis, yang menjadi permasalahan sesungguhnya bukanlah insiden jabat tangan itu sendiri. Namun, bagaimana reaksi masyarakat menanggapi hal tersebut. masyarakat Indonesia, yang seharusnya membela pemimpinnya di muka internasional justru ikut mengolok-oloknya. Penulis disini bukan bermaksud untuk menjadi pembela dari seorang Tifatul itu sendiri. Penulis hanya ingin menyadarkan kembali bahwa Indonesia itu beragam, biarlah seorang Tifatul tetap menjadi seorang yang menganut islam konservatif.

Hal yang dilakukan ‘sebagian’ rakyat ini merupakan cerminan dari karakter mereka. Mereka seakan-akan lupa dengan pidato Obama di Balairung UI yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat dimana orang-orang memiliki berbagai macam jalan untuk mencapai Tuhan. Mungkin, mereka yang menyalahkan Tifatul melupakan kata-kata tersebut. ucapan dari seorang Obama yang mendapatkan apresiasi tinggi dari orang-orang yang menyaksikannyaberpidato.

Penulis juga tidak bermaksud bahwa kita tidak boleh memperingatkan menteri kita yang satu ini. Kita boleh saja memperingatkan dan bahkan mencercanya, tetapi jika sudah masuk dalam pembicaraan internasional kita wajib membelanya. Ini merupakan sebuah implementasi dari bhineka tunggal ika yang juga disebutkan oleh Obama ketika berpidato.

Jadi, apa yang sesungguhnya membuat masyarakat Indonesia tidak bisa sadar akan identitasnya sebagai rakyat negeri ini. satu hal saja, mereka mudah sekali terprovokasi oleh media internasional, bahkan oleh seorang bintang porno. Alhasil, Amerika dengan sukses mendikte Indonesia.

‘Bumbu’ kedua yang dilihat penulis adalah tentang salah satu pernyataan Obama ketika pidato di UI. Sebuah pernyataan yang bagi orang-orang di Indonesia menjadi kebanggaan. Namun, tidak bagi penulis. Pernyataan itu adalah “Indonesia bagian dari diri saya.” ucap Obama dalam Bahasa Indonesia.

Seharusnya sebagai seorang WNI yang baik, kita juga harus bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dengan pernyataan yang seperti itu masih seharusnya kah kita bangga? Banyak masyarakat yang masih bangga dengan pernyataan tersebut karena yang terjadi adalah adanya pergeseran makna yang ditangkap oleh masyarakat pada umumnya.

Masyarakat menganggap bahwa Obama adalah bagian dari Indonesia. Jika hal tersebut yang terujar saya setuju-setuju saja. Mungkin saja ketika ia mengucapkannya dalam Bahasa Inggris, maka makna yang muncul bisa jadi seperti yang tertera diatas. Namun dalam kenyataannya yang terucap tetaplah saja seperti itu. Pemaknaan yang dapat diambil dari pernyataan itu tetaplah tidak bisa diterima.

Bagaimana bisa kita, Indonesia, menjadi bagian dari Obama yang merupakan Presiden AS. Secara tidak langsung, mungkin saja Obama ingin berucap bahwa Indonesia bagian dari Amerika. Pesan-pesan yang tersirat seperti inilah yang lagi-lagi tidak disadari masyarakat. Kembali lagi, Amerika sukses mendikte Indonesia.

Satu hal yang menjadi pesan dalam tulisan ini adalah kita sebagai bangsa besar, bangsa yang telah merdeka jangan sampai dan tunduk begitu saja oleh bangsa lain. Kita juga mempunyai pengaruh besar di dunia ini. kita juga punya posisi tawar yang cukup kuat di dunia. Hal tersebut seharusnya bisa kita sadari sedari dulu.

Kita jangan mau untuk didikte! Ingat, dua contoh diatas merupakan hal kecil tetapi bisa menganggu eksistensi negeri ini. Sebenarnya masih banyak lagi ‘bumbu penyedap’ yang dihasilkan dari kedatangan Obama. Layaknya orang yang terlalu banyak mengkonsumsi MSG, maka ia beresiko terkena kanker. Maukah kita kalau negara yang kita cintai ini terserang penyakit akibat ‘bumbu-bumbu’ kedatangan Obama kemarin?

Perjuangan untuk melawan hal tersebut harus segera dimulai dari diri kita sendiri, mahasiswa. Peran mahasiswa sebagai agent of change harus segera diaplikasikan. Untuk menjaga negeri ini agar tidak lagi dikebiri oleh negara super power.

Depok, 17 November 2011

*Tulisan dibuat dalam rangka kunjungan Presiden AS, Barack Obama, di Universitas Indonesia tahun 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s