State Crime atau State Terrorism?

State crime memiliki definisi dalam arti luas dan arti sempit. Definisi ini terbagi dikarenakan memiliki cakupan yang berbeda. Dasar perbedaan cakupannya terdapat dalam kejahatan yang dilakukan oleh negara. Jika dalam cakupan sempit, kejahatan yang dilakukan hanya terbatas pada state terrorism. Sedangkan dalam arti luasnya, kejahatan yang dilakukan negara tidak terbatas hanya pada state terrorism.

State crime dalam arti sempit terbatas pada state terrorism. Kejahatan teror yang dilakukan negara mencakup pada teror yang dilakukan terhadap warga negaranya. Misalnya adalah yang dilakukan di Inggris dalam bentuk pembunuhan massal terhadap para golongan anti apartheid. Selain itu bentuk lainnya adalah sebuah negara memfasilitasi negara lain untuk melakukan terror. Misalnya pemerintahan US yang melakukan upaya penegakan hukum untuk menekan negara-negara yang berada di kawasan Amerika Latin. Bentuk lainnya adalah terror yang dilakukan terhadap negara lain. Contohnya adalah pada tahun 1983 seorang agen dari Korea Utara melakukan pengeboman di Burma karena pada saat itu terdapat perdana menteri Korea Selatan yang melakukan pengeboman. Akibatnya, terdapat 21 orang meninggal setelah pengeboman dilakukan. Bentuk teror lain yang dilakukan oleh negara adalah teror terhadap organisasi privat. Misalnya, pada tahun 1985, dua agen dari pemerintahan perancis melakukan pengeboman terhadap kapal milik Greenpeace. Bentuk yang terakhir adalah negara memfasilitasi aktor privat untuk melakukan teror. Misalnya, rezim taliban di Afghanistan melakukan dukungan terhadap Al Qaeda untuk melakukan teror pada tanggal 11 September 2001.

State crime dalam definisi luas memiliki cakupan yang lebih banyak. Pada definisi ini kejahatan yang dilakukan negara tidak terbatas pada kejahatan teror yang dilakukan negara saja tetapi kejahatan-kejahatan dalam bentuk lain.

Kasus state crime dalam arti luas bisa kita bagi dalam dua hal pokok. Pertama, para pelaku kejahatan itu adalah negara. Kejahatan ini juga termasuk di dalamnya adalah teror yang dilakukan negara. Bentuk lainnya adalah kasus korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan. Misalnya, di Indonesia, Presiden Soeharto melakukan korupsi sebesar 15 sampai 35 milyar US $. Bentuk lainnya adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang lain atau organisasi lain tetapi dibiarkan saja oleh negara. Misalnya kejahatan yang dilakukan oleh kelompok pengedar narkoba. Negara membiarkan adanya kejahatan ini terjadi dan tidak menindak pelakunya. ini merupakan pembiaran yang dilakukan oleh negara terhadap kejahatan yang terjadi di negara tersebut.

Dari kedua penjelasan diatas mengenai definisi state crime, maka, dari pendapat penulis sendiri lebih setuju dengan penjelasan dari definisi dalam arti luas. Namun, demikian tidak berarti penulis secara mutlak menerima definisi dar definisi tersebut. Alasan penulis memilih definisi dalam arti luas dikarenakan bahwa dalam definisi tersebut kejahatan tidak saja dibatasi dalam bentuk teror, tetapi kejahatan dalam bentuk lain yang dapat merugikan warga negaranya.

Adanya Internasionalisasi Mempengaruhi State Crime Menjadi Lebih Kompleks

Internasionalisasi tidak dapat dihindarkan dalam era globalisasi. Adanya globalisasi menyebabkan hilangnya batas-batas yang nyata dalam struktur sosial masyarakat. Salah satu contohnya adalah akses informasi, perdagangan dan komunikasi menjadi tanpa batas, termasuk juga di dalamnya kejahatan yang akan menjadi tidak terbatas.

Salah satu bentuk kejahatan pelakunya adalah negara. Artinya, state crime pun juga akan dipengaruhi adanya globalisasi. Makin semunya batas-batas diantara negara juga akan menambah kompleks kejahatan yang dilakukan oleh negara. Contohnya adalah kejahatan dalam bentuk teror terhadap negara lain. Misalnya yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Awalnya, konfrontasi diantara kedua negara tersebut merupakan sebuah kepentingan merebut wilayah kedaulatan. Namun, akibat adanya internasionalisasi, isu tersebut meluas menjadi permasalahan internasional. Banyak organisasi di dunia maupun negara lain berusaha untuk turut serta dalam konflik ini, baik untuk meredakan masalah maupun membela salah satu pihak.

Maka dari itu, adanya internasionalisasi dapat mempengaruhi state crime menjadi lebih kompleks. Hal ini dikarenakan adanya keterbukaan akses dan kebebasan dalam mendapatkan informasi. Selain itu berbagai kepentingan politik yang ada di dunia juga turut mempengaruhi semakin kompleksnya state crime.

Referensi: Grabosky, Peter dan Michael Stohl. 2010. Crime and Terrorism. California: Sage Publications

*)Salah satu tugas mata kuliah Teror dan Kontra Terorisme

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s