Visum et Repertum Sebagai Alat Investigasi

Pada hari Rabu (4/4), mahasiswa Kriminologi FISIP UI yang mengambil mata kuliah intelijen dan investigasi kejahatan melakukan kunjungan ke Departemen Ilmu Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan juga merupakan bagian dari RSCM. Kunjungan ini dilakukan untuk mengetahui proses forensik yang dilakukan oleh para tenaga medis. Tujuan mengetahui hal ini adalah untuk mengetahui proses forensik yang nantinya dapat membantu untuk proses investigasi suatu kejahatan.

 Dari hasil kunjungan tersebut, diketahui bahwa seorang dokter memiliki beberapa tugas. Tugas tersebut adalah pelayanan kesehatan dan tugas yang berhubungan dengan proses investigasi kejahatan adalah tugas untuk melakukan penegakan hukum. Tugas untuk melakukan penegakan hukum ini terkait dengan pencarian dan pemeriksaan barang bukti. Biasanya yang berkaitan dengan barang bukti yang diperiksa seorang dokter adalah kondisi tubuh korban maupun pelaku baik masih dalam kondisi hidup maupun sudah mati.

Proses investigasi yang dilakukan oleh pihak RSCM terhadap seorang korban biasanya dengan melakukan visum. Untuk melakukan visum sendiri terdapat beberapa prosedur yang harus dipenuhi. Hal pertama yang harus dipenuhi adalah memastikan identitas korban harus sesuai dengan surat permintaan Visum et Repertum (SPV) yang berlabel kepolisian maupun RSCM. Langkah selanjutnya apabila terdapat korban yang diduga akibat tindak pidana tetapi belum ada SPV nya, maka hal yang dilakukan adalah menghubungi polisi pengirim atau Polres Jakarta Pusat. Jenis pemeriksaan yang dilakukan dokter forensik ada dua, yaitu pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Pemeriksaan luar dilakukan bila hanya ada SPV nya, atau dalam keadaan yang memaksa dan telah yakin ada SPV nya. Kemudian pemeriksaan dalam yang seing disebut sebagai otopsi. Tanpa otopsi, surat keterangan pemeriksaan mayat (model A) hanya diberikan jika; a) SPV hanya meminta pemeriksaan luar, b) SPV pemerintaan pemeriksaan mayat atau c) SPV nya dicabut. Ketika kondisi SPV nya dicabut, maka pada SKPM harus tertera pernyataan dari penyidik. Bila belum ada pernyataan penyidik, maka hal tersebut belum dapat dilakukan dan diputuskan. Otopsi dapat dilakukan jika dokter pemeriksa telah hadir. Otopsi ini dilakukan dengan syarat bahwa dengan sepengetahuan keluarga korban yang dinyatakan dengan formulir tidak keberatan dari keluarga korban atau statusnya telah kadaluarsa yaitu dua hari sejak pemeriksaan luar. Dalam proses otopsi ini, yang menjadi penganggung jawabnya adalah dokter spesialis forensik yang memeriksa.

            Bentuk tindakan forensik ada tiga yaitu forensik patologi dan klinik. Forensik patologi merupakan tindakan forensik yang bertujuan untuk mencari penyebab kematian berdasarkan atas pemeriksaan mayat atau yang sering disebut dengan otopsi. Forensik patologi ini yang biasa digunakan untuk pemeriksaan dan proses investigasi terhadap suatu kejahatan. Sedangkan yang dimaksud dengan forensik klinik adalah proses pemeriksaan terhadap korban yang masih hidup. Hal ini juga membantu dalam proses investigasi suatu kejahatan. Contohnya adalah untuk pemeriksaan terhadap korban pemerkosaan, sexual abuse dan child abuse.

Pada kunjungan tersebut, dilakukan otopsi terhadap mayat korban dari kecelakaan. Korban tertabrak kereta jurusan Jakarta – Karawang. Korban mengalami kecelakaan pada tanggal 29 Maret 2012 pada pukul 07.00 AM. Korban dikirimkan dari Polsek Jatinegara dan identitasnya belum diketahui dengan jelas. Permintaan pemeriksaan dari pihak kepolisian Jatinegara adalah berupa pemeriksaan luar dan dalam atau external exam dan internal exam. Setelah 2 x 24 jam, maka otopsi bisa dilakukan karena tidak ada keberatan dari pihak keluarga yang memang identitasnya tidak diketahui.

Otopsi ini dilakukan untuk mengetahui beberapa hal. Pertama untuk mengetahui waktu kematian. Waktu kematian dari korban bisa diperkirakan dari proses otopsi. Sesuai dengan laporan dari Polsek Jatinegara bahwa korban dilaporkan pukul 07.00 AM. Berdasarkan hasil otopsi, korban diperkirakan sudah meninggal sejak 2 sampai 8 jam sebelum ditemukan. Kemudian, fungsi dilakukan otopsi yang lain adalah untukmengetahui penyakit kronis yang diderita korban. Penyakit kronis yang diderita korban ini dapat diketahui dari pemeriksaan organ dalam yang dilakukan saat otopsi. Hal ini dilakukan karena pemeriksaan luar dan dalam akan menghasilkan laporan pemeriksaan yang berbeda. Jika dilihat dari pemeriksaan dalam maka dapat diketahui kondisi dari organ dalam korban. Hal ini berpengaruh apakah kondisi organ dalam dari korban dapat mempengaruhi kematiannya. Proses pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama adalah melakukan pembedahan terhadap rongga perut dan rongga dada. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hubungan sistem organ yang ada dan bisa menyebabkan kematian. Selanjutnya, yang dilakukan adalah pembedahan rongga kepala. Tujuannya sama, yaitu untuk mengetahui sistem organ yang kemungkinan bisa menyebabkan kematian. Berdasarkan pemeriksaan, diketahui bahwa selain kondisi lengan yang patah, ternyata terdapat benturan di kepala yang menyebabkan pendarahan pada korban. Hal ini bisa menjadi merupakan salah satu kematian korban yang tertabrak kereta. Fungsi lain otopsi adalah untuk mengetahui kondisi perut dari korban. Apa makanan yang dimakan korban sebelum kematian. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi korban sebelum kematian. Apakah korban mengkonsumsi makanan yang beracun atau tidak.

Selanjutnya, hal paling penting dalam melakukan otopsi adalah melakukan identifikasi. Identifikasi terhadap korban dilakukan untuk mencari bukti primer dan sekunder. Bentuk bukti primer adalah seperti kondisi gigi, DNA, sidik jari dan kekhasan tubuh korban. Sedangkan bukti sekundernya adalah berbentuk pakaian, tanda tubuh, aksesoris yang dipakai dan sebagainya.

Identifikasi memiliki berbagai macam cara. Pertama adalah identifikasi membandingkan data adalah identifikasi yang dilakukan dengan cara membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan orang tak dikenal dengan data ciri orang hilang yang diperkirakan pernah dibuat sebelumnya. Pada penereapan identifikasi kasus korban jenazah tak dikenal,maka kedua data ciri yang dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data ante mortem. Data ante mortem yang baik adalah berupa medical record atau dental record. Metode ini berpeluang menghasilkan identitas sampai taraf individu. Hasil dari metode ini hanya ada dua alternatif yaitu identifikasi positif apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama,sehingga dapat disimpulkan bahwa jenazah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang. Adapun syarat dari data ante mortem itu adalah lengkap,akurat dan up to date. Identifikasi negatif apabila kedua data yang dibandingkan tidak sama-sama. Identifikasi cara rekonstruksi merekonstruksi data hasil pemeriksaan post mortem kedalam perkiraan mengenai jenis kelamin, umur, ras, tinggi, dan bentuk badan yang sesuai.

Otopsi juga berfungsi untuk mencari bentuk kekerasan yang diterima oleh korban. Bentuk-bentuk kerasan yang diterima korban ini menjadi suatu jalan untuk mengetahui hal apa yang diterima korban. Apakah kekerasan yang diterima berasal dari benda tajam atau benda tumpul. Hal ini juga berfungsi untuk mengetahui alat yang digunakan sehingga menyebabkan kematian korban. Selanjutnya, otopsi juga berpengaruh untuk mengetahui sebab kematian dan mekanisme kematian. Adanya otopsi berguna untuk mengetahui bagaimana cara korban bisa mengalami kematian.

Berdasarkan kunjungan ke RSCM, dr. Ade Firmansyah Sugiharto Sp.F., mengungkapkan bahwa otopsi memiliki lima tujuan. Tujuan tersebut adalah identifikasi korban, mencari adanya perlukaan, jenis kekerasan yang diterima korban, sebab kematian dan mekanisme kematian korban dan waktu kejadian. Hal yang disampaikan dr. Ade ini sesuai dengan apa yang diuraikan pada paparan diatas.

Dalam proses otopsi juga terdapat fotografi forensik. Terdapat salah satu dokter yang bertugas untuk mendokumentasikan foto dari korban. Proses pemeriksaan ini harus didokumentasikan oleh seorang fotografer autopsi. Syarat utama yang harus dimiliki seorang fotografer autopsi adalah memiliki dasar pengetahuan anatomi tubuh manusia. Proses fotografi forensik adalah sebagai berikut. Pengambilan gambar dilakukan sejak tubuh korban tiba, dimulai dari jarak pengambilan terjauh dari tubuh korban dengan sudut pengambilan gambar pada bagian depan dan belakang korban, dilanjutkan dengan proses serupa saat pemeriksaan dimulai, yakni mulai dari pelepasan pakaian hingga pembersihan tubuh korban. Close-up dilakukan pada pengambilan gambar perlukaan yang ditemukan pada tubuh korban, pada luka tembak, patah tulang, atau terhadap jaringan parut, tattoo, dan lain sebagainya, berkaitan dengan kepentingan foto untuk proses identifikasi pada mayat tak dikenal. Pada pemeriksaan dalam, pengambilan gambar dilakukan dua kali. Pertama, ”in situ” untuk memperlihatkan lokasi dan beratnya penyakit atau kerusakan yang terjadi. Kedua, gambar diambil setelah organ dikeluarkan dan dibersihkan.

Forensik dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian yang tidak wajar. Penyebab kematian yang tidak wajar tersebut adalah pembunuhan, kecelakaan, bunuh diri, atau hal lain yang bisa dianggap sebagai suatu kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar ini juga termasuk didalamnya adalah dugaan-dugaan bahwa korban merupakan hasil dari tindakan pidana.

Proses otopsi juga memiliki etika tersendiri. Seperti yang telah dicantumkan diawal bahwa otopsi dapat dilakukan apabila ada persetujuan dari keluarga korban atau setidaknya dalam jangka waktu 2 x 24 jam setelah korban dilakukan pemeriksaan luar. Kondisi yang kedua dapat dilakukan apabila tidak ada identitas yang jelas yang diketahui dari korban. Selanjutnya, etika yang wajib dipenuhi adalah memberlakukan mayat dengan baik. proses otopsi tidak dapat dilakukan secara semena-mena. Kondisi mayat harus diperlakukan seperti semula ketika diawal sebelum dilakukan pembedahan. Mayat harus dijahit kembali dan dikembalikan pada kondisi awal dengan melihat bagaimana bentuk kondisi mayat sebelum dibedah. Selanjutnya, semua organ yang telah diambil juga harus dikembalikan. Etika selanjutnya adalah apabila korban merupakan gelandangan atau orang yang tidak diketahui keluarganya maka pemakamannya harus diurus dan diserahkan kepada dinas pertamanan dan pemakaman. Biasanya telah terdapat tempat khusus yang disediakan untuk orang-orang yang tidak diketahui identitasnya. Mayat yang dilakukan otopsi juga harus diurus proses pemakamanannya sesuai dengan agama yang dianut. Apabila terdapat mayat yang tidak diketahui agamanya, biasanya pihak RSCM melakukan perawatan mayat sesuai dengan agama Islam.

Dasar hukum untuk melakukan otopsi terdapat dalam beberapa peraturan yang berlaku. Salah satu peraturan yang berlaku terdapat di dalam KUHAP yang membahas bagian tentang penyidikan. Pertama, polisi sebagai penyidik yang bergerak melakukan segala pelaporan kepada pihak rumah sakit untuk dilakukan visum. Selanjutnya apabila telah keluar surat SPV, maka visum dapat dilakukan. Hasil visum maupun otopsi selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh kepolisian untuk melanjutkan proses penyidikan. Mengenai biaya otopsi maupun visum, hal ini juga diatur dalam peraturan yang ada. Idealnya biaya otopsi dan visum ditanggung oleh negara. Namun, dalam prakteknya seringkali biaya ini tidak ditanggulangi oleh negara. Hal ini terjadi karena tidak jelasnya pihak mana yang bertanggung jawab atas proses visum maupun otopsi ini.

Hal lainnya juga diatur dalam KUHP. Hal ini berkaitan dengan penggunaan dan pencarian barang bukti yang berasal dari mayat.   Barang Bukti merupakan barang-barang yang telah di sita nantinya akan menjadi barang bukti di pengadilan , mengenai barang bukti ini terdapat penjelasan pada pasal 130 KUHP. Implementasi dari pasal di atas ialah bahwa barang bukti harus dibungkus rapih sedemikian rupa agar tidak tertukar dengan barang bukti lainnya jika nanti di perlihatkan di persidangan. Tata cara pemeriksaan mayat/tubuh manusia di atur dalam pasal 133 KUHP yang menyebutkan bahwa:

  1. Untuk kepentingan pengadilan seorang korban berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli baik dari dokter kehakiman atau dokter lainnya.
  2. Permintaan keterangan ahli itu di ajukan dengan surat dan isinya di sebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka, mayat atau badan mayat.
  3. Mayat yang di kirim ke pada ahli kedokteran kehakiman harus di perlakukan dengan cara penuh rasa hormat dan diberi lebel yang memuat identitas mayat. Dengan diberi cap jabatan di bagian lain tubuh mayat.

Sebetulnya semua mayat harus di bedah, untuk menentukan sebab kematian, pemeriksaan luar di perlukan jika kelak perkaranya tidak diteruskan ke pengadilan negeri. Mengenai hal ini ada intruksi Kapolri No.Pol. INSE/20/IX/75 tentang tata cara mengajukan permohonan/pencabutan visum Et Repertum .Pihak keluarga yang menghalangi dilakukannya pemeriksaan mayat dapat di tuntut pidana penjara 9 bulan atau denda berdasarkan pasal 222 KUHP, dan untuk penggalian mayat perludilakukan dalam hal melakukan penyidikan pasal 133 (2), 134 (1).

Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa ilmu forensik dapat bermanfaat bagi proses penegakan hukum. Hal yang saat ini belum diketahui oleh banyak masyarakat adalah bahwa salah satu tugas dari dokter adalah membantu penegakan hukum. Peran penegakan hukum ini dapat dibantu oleh para dokter, terutama dokter forensik. Keberadaan dari ilmu forensik yang sangat membantu proses penegakan hukum ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Peran besar yang dimainkan oleh tenaga ahli forensik sangat bermanfaat dalam upaya penyidikan. Secara umum, kemampuan seorang penyidik dari kepolisian tidak dapat menjangkau hal ini. padahal, kebanyakan kasus yang melibatkan korban manusia, peran dari bukti yang diam (silent witness) sangat penting. Oleh karena itu, keberadaan dari ahli forensik sangat penting dalam proses penegakan hukum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s