Deradikalisasi dalam Perbandingan

Setiap negara di dunia memiliki ancaman terhadap aksi teror. Hal ini disebabkan karena setiap negara memiliki kelompok teroris yang dapat mengancam keberadaan negara tersebut. selain itu, saat ini, jaringan teroris yang berbasis keagamaan membentuk jaringan internasional. Salah satu jaringan teroris internasional adalah berasal dari Al-Qaeda. Menurut Wiktorowicz (2005), Al-Qaeda dan beberapa fundamentalis radikal menganut gerakan jihad global.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu program anti teror untuk memberantas aksi terorisme di setiap negara. Salah satu program anti teror yang terdapat di beberapa negara adalah program deradikalisasi. Program ini merupakan suatu bentuk cara untuk mengatasi teror yang berasal dari kelompok-kelompok radikal Islam.

Indonesia termasuk negara yang menjalankan program deradikalisasi untuk memberantas aksi teror. Selain Indonesia, beberapa negara juga membentuk program deradikalisasi. Dalam tulisan ini akan dibahas program deradikalisasi yang berasal dari Saudi Arabia, Yaman, Mesir dan Singapura. Setelah itu, program-program yang dijalankan beberapa negara tersebut akan dibandingkan dengan program deradikalisasi yang terdapat di Indonesia.

Program Deradikalisasi di Saudi Arabia

Pembahasan pertama dalam tulisan ini adalah program deradikalisasi yang berasal dari negara Saudi Arabia. Pertama-tama, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana munculnya gerakan teror di Saudi Arabia. Selama tahun 2003 hingga 2007, Arab Saudi menjadi sasaran teror dari kelompok AQAP. Sebagai sebuah negara yang merupakan tempat kelahiran Islam, Saudi Arabia menjadi simbol yang utama bagi Al-Qaeda. Pada tahun 2007, Osama bin Laden mengeluarkan pernyataan bahwa rezim Arab merupakan musuh yang utama. Untuk mengahadapi teroris ini, Saudi Arabia meluncurkan strategi kontra terorisme yang berusaha mengatasi dan menekan kelompok radikal agar kembali pada masyarakat. Strategi kontra terorisme yang dilaksanakan ini dikenal dengan Prevention, Rehabilitation, and After-Care approach. Pendekatan preventif bertujuan agar seorang individu tidak terlibat dalam permasalahan terorisme. Pendekatan rehabilitasi bertujuan untuk merehabilitasi seorang yang telah menjadi tahanan. Sedangkan pendekatan aftercare bertujuan untuk memfasilitasi individu agar bisa kembali lagi ke masyarakat setelah bebas dari masa penahanan.  Pendekatan ini diimpelementasikan oleh pemerintah dalam bentuk seminar-seminar yang diadakan di publik yang memberi informasi tentang Islam dan cara untuk menanggulangi agar tidak terlibat dalam kelompok radikal. Selain itu, pemerintah juga melakukan penelitian terhadap para peserta program rehabilitasi untuk mengetahui latar belakang mereka. Hal yang paling banyak ditemukan adalah mereka tidak mendapatkan pendidikan tentang keagamaan yang baik pada masa kecilnya. Hal tersebut yang menyebabkan mereka terjebak di dalam kelompok radikal. Mereka dipengaruhi oleh kelompok radikal melalui media seperti video, buku, kaset dan internet. Pada kelompok yang berbeda mereka dipengaruhi dengan pendekatan militer dan wacana tentang perlawanan terhadap barat, Program yang dilakukan pemerintah Saudi Arabia disebut sebagai program konseling. Program yang menggunakan ketiga pendekatan tersebut memiliki karakteristik diskusi dan debat keagamaan, dukungan sosial yang ekstensif dan kewajiban dari setiap keluarga. Hal yang perlu ditekankan adalah setiap tahanan yang baru keluar dari program ini melakukan pendekatan terhadap orang-orang yang masih terpengaruh oleh pemikiran radikal. Selain itu, untuk mengembalikan orang tersebut ke dalam masyarakat dilakukan melalui program sosialisasi di masyarakat. Program tersebut difasilitasi oleh banyak lembaga di Saudi Arabia. Selain itu, bentuk pelaksanaan yang lain adalah membuat diskusi di dalam penjara dengan pelibatan ulama terkemuka di Saudi Arabia. Hal ini juga sering dilakukan tidak hanya terhadap tahanan teroris, tetapi pada tahanan lain.

Program Deradikalisasi di Yaman

Aksi terorisme di Yaman berakar pada gerakan radikal Islam yang pada tahun 1980 berpartisipasi dalam perang di Afghanistan melawan Uni Soviet. Setelah perang tersebut, pemerintah Yaman mengizinkan para warga negaranya kembali ke negaranya. Namun, berdasarkan laporan intelegen AS, pemerintah Yaman harus menghentikan kebijakan tersebut. dari hal tersebut lahirlah para penentang pemerintahan dan melahirkan gerakan radikal. Setelah tahun 2000-an, muncul berbagai serangan teror di Yaman. Terlebih pasca serangan 9/11, pemerintah menangkap orang-orang yang diduga terlibat jaringan teroris internasional. Untuk menghindarkan hal tersebut, pemerintah Yaman membuat strategi kontra terorisme. Bentuk kontra terorisme yang diselanggarakan pemerintah Yaman adalah dengan membentuk komisi dialog. Hal ini dibentuk langsung oleh Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh pada tahun 2002.  Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan membuat pertemuan antara ulama dan pejabat pemerintahan. Hasilnya adalah akan direncanakan dialog dengan kelompok radikal Islam. Komite yang terbentuk disebut sebagai Comitee for Religious Dialogue. Dialog tersebut dilakukan oleh para ulama kepada para tahanan di penjara. Hasil dialog yang pertama menyatakan bahwa para tahanan melakukan aksi teror karena mereka menganggap bahwa Yaman bukan merupakan negara Islam dan pemerintah yang sekarang mendukung barat. Kemudian para ulama beragumen bahwa konstitusi di Yaman sejalan dengan Al-Quran dan Sunnah. Diskusi yang kedua mengungkapkan mengenai perjanjian internasional. Para tahanan menyatakan bahwa perjanjian tersebut sangat tidak Islami. Para ulama menggunakan bukti bahwa pada zaman nabi, Muhammad pun memiliki perjanjian dengan umat kristiani. Diskusi selanjutnya membicarakan bahwa para tahanan tidak setuju rezim yang dipimpin presiden saat itu tidak seperti khalifah yang memimpin. Hal ini dibantah bahwa presiden yang terpilih saat ini bukan penunjukkan langsung tetapi melalui pemilihan. Hal ini berarti bahwa presiden saat ini terpilih karena mewakili kepentingan masyarakat umum. Diskusi lain yang dibahas adalah tentang perijinan untuk membunuh non muslim. Para ulama memiliki argumen bahwa di Al-Quran tidak ada justufikasi untuk membunuh orang lain. Hal yan ada hanya jika dalam kondisi perang atau membela diri. Program ini mengijinkan orang yang mengikutinya untuk mendapatkan program amnesti. Selain itu, mereka juga akan mendapatkan program rehabilitasi dari pemerintah Yaman.

Program Deradikalisasi Mesir

Program deradikalisasi merupakan program kolektif bersama dengan Libya. Pendekatan yang dilakukan oleh Mesir berbeda dengan pembahasan yang sebelumnya. Jika di Saudi Arabia dan yaman lebih berfokus pada individu, Mesir melakukan pendekatan kepada organisasi Islam radikal. Hal yang dilakukan dalam proses deradikalisasi kolektif adalah dengan mengidentifikasi apa yang terjadi antara rezim Hosni Mubarak denga Jamaah Islamiyah (JI) dan Egyptian Islamic Jihad (EIJ) di Mesir. Hal ini dilakukan untuk melakukan negosiasi antara pemerintah dengan pimpinan kelompok militan. Negosiasi yang ditawarkan adalah pemerintah membebaskan tahanan dan menawarkan keuntungan yang banyak.  Pada awal 1990, pemerintahan mesir belum mempunyai program deradikalisasi yang jelas. Hal yang dilakukan adalah melakukan gerakan yang langsung menyentuh akar rumput dari organisasi Islam radikal. Hal yang dilakukan adalah dengan memberikan buku-buku yang menunjukkan pemahaman agama Islam secara lebih menyeluruh. Namun, hal ini mengalami kegagalan untuk mengubah pemahaman para penganut radikal. Hal yang kemudian dilakukan adalah dengan melakukan negosiasi dengan JI. Pada tahun 1997, pimpinan JI dibebaskan dengan syarat mereka tidak akan menyerang pemerintahan. Masalah yang kemudian muncul adalah serangan JI yang bersifat unilateral. Pemerintah takut ditipu oleh kelompok radikal Islam apabila mereka akan menyerang rezim Mubarak. Meskipun demikian, pemerintah melakukan upaya deradikalisasi dengan melibatkan pimpinan JI untuk melakukan deradikalisasi terhadap pengikutnya. Pasca 9/11, pemerintahan mengijinkan pemimpin kelompok JI untuk mengunjungi tahanan yang terlibat dan tergabung dalam kelompok JI. Langkah selanjutnya dari pemerintah Mesir adalah menerbitkan buku yang menunjukkan langkah-langkah deradikalisasi di Mesir. Hasil akhirnya adalah, pada tahun 2003, pemerintah melepaskan tahanan yang berafliasi dalam kelompok JI yang mendukung kebijakan pemerintah dan posisi baru kelompok mereka. Metode ini juga diterapkan di kelompok EIJ, tetapi tidak berhasil karena pemimpin EIJ ditahan di Yaman karena keterlibatannya dalam 9/11. Akhirnya, cara yang ditempuh adalah dengan menggunakan anggota kelompok JI untuk melakukan deradikalisasi terhadap pimpinan EIJ. Pemerintah juga memfasilitasi anggota JI untuk menemui pemimpin EIJ. Selain itu, para anggota kelompok berjanji akan berpihak pada pemerintah jika pimpinannya bisa bebas dan mereka dapat membantu pemerintah untuk melakukan deradikalsasi. Dengan melihat hal ini, praktek deradikalisasi di Mesir bisa dianggap sukses. Program ini sangat memberikan efek positif bagi para militan maupun pemerintah. Hal yang dapat diperoleh para militan misalnya pekerjaan, jaminan kesehatan dan kompensasi terhadap kerugian masa lampau.

Program Deradikalisasi di Singapura

Program deradikalisasi yang diadakan oleh Singapura bisa disebut sebagai program yang komprehensif. Singapura memiliki program yang disusun untuk melakukan rehabilitasi. Pemerintah Singapura tidak ingin para tahanan hanya berada di dalam sel, tetapi juga dapat penanganan berupa rehabilitasi. Program rehabilitasi di Singapura ada tiga macam dan dilakukan oleh Internal Security Departement (ISD) dari kementrian dalam negeri. Pertama adalah rehabilitasi psikologis. Program ini dimulai ketika para tahanan berada di dalam penjara. Para psikolog secara bertahap datang ke penjara untuk memberi treatment kepada tahanan. Para tahanan mengungkapkan bahwa mereka merasa kesepian dan terpisahkan dari orang lain, maka penanganan yang diberikan adalah dengan mengijinkan keluarga datang seminggu sekali. Para psikolog mencoba untuk membicarakan perasaan dan situasi yang dialami mereka, tetapi tidak untuk melakukan perubahan nilai-nilai. Para tahanan menganggap bahwa perubahan itu akan terjadi di dalam diri mereka sendiri secara bertahap. Kuncidari proses ini adalah terbangunnya kepercayaan yang kuat antara para tahanan dan penegak hukum yang menangani mereka. Tujuan program ini adalah untuk menetralkan sikap dari para tahanan. Program rehabilitasi kedua adalah rehabilitasi keagamaan. Program ini melibatkan diskusi keagamaan yang melibatkan pemuka agama. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan pemahaman para tahanan terhadap Islam secara utuh. Hal yang ditempuh untuk melakukan ini adalah dengan membentuk Religious Rehabilitation Group (RRG). RRG melakukan konseling terhadap para tahanan dengan membantu pemahaman mereka berdasarkan penelitian, administratif dan logika. Rehabilitas keagamaan ini bertujuan untuk membuka pikiran para tahanan agar menjadi inklusif dalam memahami Islam. Berdasarkan diskusi dengan para tahanan dan keluarganya, RRG bekerja dengan model peniadaan apa yang telah diberikan oleh ideolog JI. Mereka berusaha untuk mengkoreksi kesalahan intepretasi tentang konsep-konsep Islam yang dipahami oleh para tahanan. Program ketiga adalah rehabilitasi sosial, pelibatan masyarakat dan dukungan dari keluarga. Program ini berbentuk pelatihan terhadap tahanan untuk meningkatkan kemampuan vokasional sehingga mereka dapat mencari pekerjaan ketika sudah bebas.  Pelibatan masyarakat ini diimplementasikan dalam bentuk pemolisian masyarakat dan melibatkan mereka dalam pengajaran tentang agama Islam. ISD bekerjasama dengan lembaga Pergas mengadakan seminar terhadap kelompok masyarakat muslim tentang upaya deradikalisasi di dalam masyarakat. Pelibatan keluarga bertujuan agar keluarga dari tahanan tidak merasa marah dengan ditahannya anggota keluarga mereka dan menghilangkan sentimen dari masyarakat umum.

Program Deradikalisasi di Indonesia

Program deradikalisasi di Indonesia menggunakan dua cara yaitu menggunakan interogasi kultural dan menggunakan mantan teroris. Pertama, adalah menggunakan interogasi kultural membutuhkan interogator yang dapat memahami dan menyesuaikan cara dan budaya dari tahanan. Misalnya dengan menggunakan penggunaan bahasa yang sama. Sebagian teroris mau mengungkapkan berbagai hal bila ditanya dengan metode yang seperti ini. mereka hanya mau bicara kepada yang dapat dipercaya, sedangkan orang-orang yang berhubungan dengan pemerintahan dianggap musuh. Mereka yang dapat melakukan ini adalah orang yang berpengalaman atau mantan teroris yang benar-benar memahami budaya para teroris. Selain itu juga dibutuhkan adanya perlakuan yang humanis di dalam penjara dan meningkatkan ikatan antara tahanan dan pengak hukum. Metode yang kedua adalah dengan pelibatan mantan teroris. Mereka mencari mantan teroris yang mempunyai peranan besar ketika masih terlibat dalam jaringan terorisme. Salah satu mantan teroris yang terlibat adalah Natsir Abas. Abas yang memiliki pengetahuan tentang kegiatan teroris melakukan pembujukan kepada para teroris lain. Setelah ia bebas dari penjara akibat kasus bom Bali, ia melakukan dialog dengan teroris yang ditahan agar dapat bekerjasama dengan polisi. Ia dapat melakukan ini karena dahulu ia memiliki pengaruh yang kuat di dalam kelompok. Ia menjelaskan bahwa pendirian negara Islam itu bukan tujuan utama. Ia menyatakan bahwa pendirian negara Islam bukan solusi yang tepat untuk permasalahan kebangsaan.

Perbedaan Program Deradikalisasi di Saudi Arabia, Yaman, Singapura, dan Mesir dengan di Indonesia

Perbedaan program deradikalisasi di Indonesia dengan empat negara lainnya ada beberapa hal. Pertama, Indonesia tidak menggunakan pendekatan rehabilitasi terhadap pemahaman agama dari para pelaku terorisme. Indonesia tidak melakukan penjelasan ulang mengenai konsep Islam yang benar dan menyeluruh. Program di Indonesia tidak melibatkan ulama, tetapi melibatkan penegak hukum dan mantan teroris. Kedua, Indonesia tidak melakukan pendekatan terhadap kelompok namun secara individu saja. Berbeda dengan Mesir yang melakukan pendekatan khusus kepada kelompok-kelompok Islam radikal. Ketiga, deradikalisasi di Indonesia cenderung hanya melibatkan mpenegak hukum dan mantan teroris. Berbeda dengan negara lain yang melibatkan masyarakat dalam deradikalisasi. Masyarakat di Indonesia tidak diberi pemahaman tentang pemikiran radikal yang dapat menyebabkan mereka bergabung dalam kelompok radikal. Keempat, metode deradikalisasi di Indonesia menggunakan pendekatan kultural. Hal ini yang tidak dapat ditemukan di negara lain. Program di Indonesia lebih mudah untuk mendapatkan informasi dari teroris karena menggunakan pendekatan kultural sehingga hal ini dapat membantu tindakan preventif terhadap penanganan terorisme.

Sumber:

Wiktrowicz, Quintan. A Genealogy of Radical Islam. Studies in Conflict & Terrorism, Vol. 28. 2005: pp. 75-97

Rabasa, Angel. Dkk. Deradicalizing Islamist Extrimists. Santa Monica: RAND Corporation, 2010

*) Sebagai salah satu tugas mata kuliah Teror dan Terorisme

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s