Sudah Waktunya

Aku sudah sampai pada waktuku. Ujung jalan yang dituju sudah mulai terlihat. Gang sempit dengan pemintanya pun sudah tak ku pedulikan lagi. Aku hanya melihat ujung jalan itu. Sama sekali tidak menengok ke kanan maupun ke kiri. Buat apa pula aku harus menengok? Toh, hanya tembok rumah yang saja yang menciptakan gang sempit ini.

Aku sudah sampai pada waktuku. Mentari pagi sudah menyembul hendak menyapa. Ku berniat untuk menyeduh kopi saja. Namun, apakah kopi ini akan menyelesaikan masalahku? Aku pikir tidak juga. Yah, setidaknya kopi ini bisa membuatku untuk tetap terjaga. Tetap untuk menatap atau bahkan meratap.

Aku sudah sampai pada waktuku. Tidak sama ketika menunggu hujan yang tak kunjung tiba di musim kemarau. Kali ini adalah kemarau yang berbeda setelah aku mencoba menengok langit. Awan di atas mulai merasakan kegelisahan. Mereka mulai bergumul satu sama lain. Tak ada cahaya membelah langit yang coba memberi tanda. Tanpa ditanya namun selalu diharap, rintikan itu pun turun perlahan.

Aku sudah sampai pada waktuku. Semoga aku dapat melewati jalan selanjutnya yang berliku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s