Intelijen dan Kontra-Terorisme

Untuk melakukan tindakan kontra-terorisme yang efektif membutuhkan intelijen yang kuat. Namun, untuk penanganan terorisme membutuhkan intelijen yang yang teroganisir dengan baik. permasalahan utama intelijen dalam penanganan terorisme terdapat pada human intelligence dan signal intelligence, analisis, dan kerjasama dengan aparat penegak hukum.

Berdasarkan (Democratic Control of Armed Forces) DCAF Paper, kontra-terorisme yang dilakukan oleh intelijen terdiri dari tiga kategori:

  1. Strategis: Pengumpulan informasi yang berkaitan dengan organisasi teroris, pemimpin kelompok, intensi, tujuan modus operandi, sumber keuangan, senjata, sarana disposal, hubung-an dengan faktor eksternal – lembaga intelijen asing .
  2. Taktis: Pengumpulan informasi yang terkait dengan informasi mengenai rencana aksi teror, disini lebih sering disebut dengan tindakan  preventif  dan  early  warning  dari  intelijen,  dimana pihak  intelijen  dapat  mengganggu,  menggagalkan  dan  juga merusak rencana yang telah disusun oleh kelompok teror.
  3. Psikologis: Pengumpulan informasi yang terkait dengan yang  berkaitan  dengan  masalah  peperangan  psikologis,  seperti  menghadapi perang propaganda teroris. Pihak intelijen menggunakan kemampuannya untuk memberikan counter opini dari  propaganda teroris, seperti misalnya menyebarkan informasi soal perilaku buruk anggota kelompok terorisme.

Sedangkan intelijen strategis dan psikologis telah berhasil untuk melakukan hal-hal yang patut dicakup secara luas, tetapi hal ini masih menyisakan banyak hal untuk pencarian terhadap taktik, pencegahan dan indikasi serta peringatan terhadap kasus terorisme. Hal ini disebabkan oleh sulitnya untuk memasuki wilayah dari organisasi teroris, terutama untuk mengumpulkan human intelligence.

Sementara intelijen strategis dan psikologis bisa didapatkan datanya dari akses-akses yang terbuka seperti interogasi terhadap tahanan teror atau dari data primer lainnya. Sedangkan untuk intelijen taktis pada umumnya hanya dapat diketahui dari “otak” sebuah organisasi teroris. Biasanya hal ini dilakukan dengan bentuk penyadapan.

Salah satu metode pemberantasan terorisme oleh intelijen adalah penerapan human intelligence dan signal intelligence, seperti yang sudah disampaikan di awal tulisan ini. Metode pengumpulan informasi humint adalah metode kerja intelijen klasik. Sebelum ada dinas intelijen humint mungkin sudah ada lebih dahulu. Humint berkaitan dengan penggunaan sumber daya manusia, agen intelijen untuk mendapatkan produk intelijen dari sumber terbuka dan tertutup. Sedangkan technint berkaitan dengan berbagai teknologi informasi yang digunakan untuk men-cari informasi intelijen. Keberadaan technit memang menjadi elemen yang paling penting dalam pertahanan negara. Bagi negara adidaya ataupun negara-negara Utara, mereka bisa mengoperasikan satelit (intelsat) untuk pengumpulan data strategis. Kombinasi dari kedua metode ini adalah bentuk yang paling ideal dalam dalam menghadapi ancaman dari sebuah entitas negara. Dalam metode counter  terorisme  sebelum  peristiwa  9/11,  negara  adidaya  lebih banyak menekankan kepada kemampuan technit-nya dalam melacak pelaku teror. Menggunakan metode technint masih memungkinkan selama kelompok teroris masih memiliki basis teritorium seperti tempat pelatihan gerilya seperti di Afganistan dan Mindanao atau belum menjadikan mereka dalam daftar buronan.

Penetrasi terhadap organisasi teroris adalah tugas yang sangat sulit dan juga berbahaya. Lebih mudah untuk menembus kepada  sebuah perusahaan milik negara musuh daripada organisasi teroris. Selain itu, hal ini juga menimbulkan masalah etika, yang tidak dihargai oleh opini publik. Jika intelijen menanamkan agen di organisasi teroris, pemimpinannya, pertama kali akan meminta dia untuk melakukan pembunuhan atau tindakan serupa lainnya untuk menguji kesetiaannya. Jika agen itu datang kembali dan meminta petugas penanganan apakah ia harus membunuh untuk membangun kredibilitasnya di mata para pimpinan organisasi, petugas penanganan akan menghadapi dilema. Dia tidak bisa mengatakan kepada agennya: pergi dan membunuh, sehingga kita bisa mencegah pembunuhan lainnya di masa depan. Mengatur pencuri untuk menangkap pencuri mungkin diperkenankan bagi badan keamanan dalam keadaan tertentu, tetapi melakukan pembunuhan untuk menangkap pembunuh jelas tidak.

Human intelligence merupakan suatu cara yang dapat digunakan oleh pihak intelijen untuk memamksimalkan perolehan informasi dari organisasi teroris. Terorisme merupakan suatu tindakan yang memang membutuhkan perlakuan khusus karena sulitnya menembus jaringan tersebut. upaya menembus jaringan terorisme dapat diupayakan melalui metode ini. salah satu teknik yang digunakan oleh intelijen adalah dengan melakukan covert (penyusupan). Operasi covert baru memiliki nilai informasi yang tinggi apabila sang agen intelijen dapat menelusup masuk ke dalam kelompok inti dari jaringan terorisme. Masalah yang muncul dari operasi covert adalah identitas sang agen tidak ketahui oleh otoritas keamanan atau oleh sesama agen intelijen. Hal yang lain yang sama rumitnya  adalah,  pertama,  mentransfer  informasi  yang  dimiliki oleh sang agen intelijen kepada pihak yang penegak hukum. Kedua adalah bagaimana informasi intelijen tersebut dapat diolah informasi yang berguna bagi proses penegakan hukum. Dalam hal yang pertama terlihat jelas bahwa keberadaan humint tak dapat dilepaskan dari dukungan keberadaan prasana dari metode intelijen yang lain seperi sigint atau elint (Pratama, 2006).

Kemampuan intelijen dalam melakukan upaya penindakan, pencegahan dan penanganan terorisme tidak hanya didukung oleh kemampuan agennya saja. Setiap operasi intelijen juga membutuhkan dukungan dari fasilitas pendukung lainnya. Misalnya, teknologi yang dimiliki oleh agen intelijen harus dapat mendukung operasinya. Jika, hanya mengandalkan kemampuan dari seorang agen tidaklah cukup. Selain itu, dukungan struktural juga sangat dibutuhkan demi lancarnya operasi intelijen ini. dukungan struktural ini termasuk fasilitas dan gaji yang layak bagi setiap agen. Melihat resiko dan tanggungjawab yang besar, tentu saja sudah selayaknya setiap agen mendapatkan penghargaan yang layak pula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s