Dinamika Pra-Perilaku Pelaku Terorisme

Catatan ini merupakan sebuah intisari dari diskusi yang ada ketika kuliah umum bersama Petrus Golose. Pembahasan ini dikaji dari sudut pandang psikologi kriminal, yaitu konsep tentang dinamika pra-perilaku.

***

Hari Selasa (3/4), diadakan kuliah umum mengenai terorisme yang diisi oleh Petrus Golose. Kuliah umum ini membicarakan mengenai aktivitas pendanaan kegiatan teror. Kegiatan teror yang terjadi di Indonesia sebagian besar dananya berasal dari jaringan Al-Qaeda, baik yang berasal dari luar negeri maupun yang berasal dari dalam negeri.

Aktivitas terorisme mendapat dukungan dana dari Al-Qaeda dalam berbagai bentuk dan cara. Salah satu cara yang kerap diterapkan di dalam negeri adalah melalui perampokan. Perampokan yang terjadi di CIMB NIAGA Medan disinyalir terkait dengan pendanaan untuk kegiatan terorisme. Selain itu, bentuk-bentuk lain yang juga digunakan oleh pihak teroris adalah melalui penggalangan dana. Ada beberapa kegiatan penggalangan dana yang berkedok kegiatan sosial tetapi justru disalahgunakan untuk mendukung kegiatan terorisme.

Apabila dikaitkan dengan psikologi kriminal, kegiatan para teroris ini dapat dikaitkan dengan tahapan perilaku. Tahapan perilaku ini ada beberapa tahap yang dimulai dari tahap yang statis hingga tahapan yang dinamis.

Pertama adalah belief. Belief merupakan keyakinan yang terdapat dalam diri seorang individu. Keyakinan ini tidak bisa dipertanyakan kembali atau diubah. Apabila dikaitkan dengan aktivitas terorisme, tahapan ini terkait dengan ideologi yang dianut oleh para pelaku. Kecenderungan ideologi tersebut sulit untuk diubah karena ideologi yang tertanam biasanya bersifat statis.

Kedua adalah values atau nilai. Nilai ini merupakan sesuatu yang dianggap benar atau salah. Nilai yang dianut oleh para pelaku bahwa segala hal yang tidak sesuai keyakinannya adalah hal yang salah. Maka dari itu, mereka memilih untuk mengambil jalan untuk menumpas hal-hal yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Ketiga adalah moral, yaitu sejauh mana seorang individu sepakat untuk melakukan suatu hal. Moral ini mempengaruhi individu dalam memutuskan melaksanakan suatu hal. Hal ini juga berkaitan dengan cara mereka untuk mencari sumber pendanaan. Mereka memutuskan untuk melakukan perampokan atau penggalangan dana karena menurut mereka hal ini telah sesuai. Tindakan ini diambil karena mereka beranggapan bahwa dana yang terdapat dalam masyarakat merupakan dana yang bisa mereka gunakan juga untuk melakukan aksi teror.

Tahapan selanjutnya adalah kepribadian. Kepribadian ini merupakan ciri individu yang bersifat menetap. Kepribadian dari sesorang yang telah dibentuk dari tahap sebelumnya mempengaruhi terbentuknya kepribadian yang bersifat tetap. Dari tahapan sebelumnya, maka kepribadian dari pelaku terorisme akan terbentuk sesuai apa yang telah dibentuk.

Selanjutnya, terdapat tahap penilaian/adjusment. Tahapan ini mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan. Selain itu, kebertanggungjawaban dari keputusan perilaku juga dipengaruhi oleh penilaian. Bentuk dari tahapan ini adalah bagaimana orang lain dalam kelompoknya melihat tindakan yang telah dilakukan.

Tahapan selanjutnya dari pra perilaku adalah motif. Motif merupakan petunjuk dari perilaku. Seseorang akan menjalankan suatu hal apabila ada petunjuknya, dan petunjuk perilaku tersebut adalah motif. Petunjuk ini didapat dari sesama pelaku teror untuk melakukan suatu tindakan. Petunjuk merupakan hal yang dijadikan acuan untuk bertindak, termasuk untuk melakukan pencarian dana untuk mendukung aksi teror.

Selanjutnya adalah persepsi. Persepsi merupakan perasaan subyektif. Persepsi ini tergantung kepada subyektifitas dan perspektif dari individu. Persepsi ini dilihat dari bagaimana seorang individu melihat suatu perilaku yang akan dilaksanakan, apakah sesuai dengan subjektifitasnya atau tidak.

Tahapan yang selanjutnya adalah konasi yaitu kecenderungan yang mulai dipengaruhi dari hal-hal yang diluar individu. Bentuk dari konasi ini bisa dilihat dari pengaruh-pengaruh yang diberikan oleh orang lain kepada pelaku teror. Konasi ini bisa dilihat dalam bentuk dukungan dari sesama pelaku teror.

Selanjutnya adalah tahapan yang disebut dengan sikap. Sikap disini sifatnya sebagai peramal perilaku. Dari sikap dapat dilihat bahwa nantinya akan diketahui perilaku yang akan muncul. sikap ini merupakan bentuk-bentuk peramal perilaku, yaitu, apa saja kemungkinan yang akan terjadi nantinya.

Tahap terakhir sebelum adanya perilaku adalah intensi. Intensi merupakan niat dari individu untuk melakukan suatu hal. Tanpa adanya intensi, sebuah perilaku tidak dapat terjadi. Niat seorang pelaku teror untuk melaksanakan aksi terorisme merupakan salah satu tahapan terakhir yang menjadi kunci apakah teror tersebut akan berjalan atau tidak.

Dinamika pra-perilaku dikatakan kompleks dan bervariasi karena tahapan yang dilakukan sangat beragam. Tahapan-tahapan pra-perilaku tersebut diawali dari sifat yang statis dan semakin dinamis. Belief, values, dan moral sifatnya lebih statis. Sedangkan semakin ke kanan dimulai dari adjusment hingga intensi sifatnya semakin dinamis. Hal ini yang menyebabkan bahwa dinamika pra-perilaku sifatnya sangat dinamis.

Berkaitan dengan perilaku terorisme, dinamika perilaku ini sangat berhubungan dengan bagaimana perilaku tersebut dapat terjadi. Keputusan perilaku teror dapat terjadi atau tidak ditentukan dengan tahapan-tahapan pra-perilaku ini. Apabila dikaitkan dengan sumber pendanaan yang dilakukan oleh kelompok teror ini, perilaku yang dilakukan juga berhubungan dengan tahapan pra-perilaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s