Lone Wolf

Pagi ini, ketika aku menyalakan televisi aku melihat sebuah berita yang menarik. Terjadi penembakan yang membabi buta di bioskop di Colorado saat penayangan film Batman. Pelakunya adalah seorang mahasiswa, yang menurut berita tersebut, dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Aku mencoba merenung sesaat ketika menonton berita tersebut. Kemudian, terbesit sebuah kata-kata dalam pikirku “pasti banyak orang yang berfikir bahwa itu adalah perbuatan dari jaringan teroris”.

Dari situ, ingatanku melayang ke beberapa hari yang lalu. Suatu hari, aku dan beberapa kawan sedang berdiskusi dengan salah seorang yang bisa dianggap paham mengenai isu terorisme. Dari diskusi yang berawal dari tema skripsi, membuatku mengetahui konsep baru dalam memahami terorisme.

“Tema skripsi kalian apa?” tanyanya pada kami ketika mengawali diskusi itu.

“Saya mungkin akan mengangkat mengenai evaluasi deradikalisasi yang dilakukan pemerintah, Pak.” Jawab salah seorang temanku.

Mulai dari itu, satu-persatu dari kami menjawab dan menjelaskan tentang tema skripsi yang mungkin akan kami angkat. Beliau juga memberi beberapa saran untuk tema kami agar lebih menarik pembahasannya.

“Kalian tau, terorisme itu ada apa aja bentuknya?” tiba-tiba dia bertanya.

“Berlandaskan agama dan gerakan separatis Pak.” jawabku bersamaan dengan salah seorang kawan.

“trus, apa lagi?” ia mendong kami dengan pertanyaan baru.

Kami masih terdiam, mencoba atau berpura-pura untuk berfikir.

Lone wolf, kalian tau apa itu lone wolf?” ujarnya ketika mulai menangkap ekspresi kebingungan dari wajah kami masing-masing.

Tak perlu menunggu waktu lama, ia kemudian menjelaskan apa itu lone wolf. Lone wolf adalah salah satu jenis teror yang pelakunya tidak terikat jaringan. Biasanya, pelakunya melakukan radikalisasi terhadap diri sendiri tanpa harus melalui penanaman ideologi oleh orang lain. Mereka belajar sendiri untuk membuat persenjataan melalui internet atau media lain yang tersebar luas.

Jadi, pelaku teror ini tidak terikat dalam jaringan teroris atau kelompok separatis manapun. Bisa jadi pelaku memang memiliki kebencian terhadap sekelompok orang. Hal tersebut membuat dia untuk menciptakan ketakutan-ketakutan terhadap orang-orang yang dibencinya. Selain itu, tindakannya juga bisa terinspirasi dari tindakan teroris atau perilaku yang serupa dengan apa yang ia lakukan.

Lalu, muncul pertanyaan baru dalam benakku. Apakah ia adalah lone wolf?

Depok, 21 Juli 2012

Advertisements

2 thoughts on “Lone Wolf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s