Bebas Bro….

Waktu lalu, aku pernah bicara mengenai bagaimana kita, seorang manusia, yang hakikatnya adalah seorang individu bebas yang dapat berekspresi sesuai inginnya. Tulisan ini pun akan membahas hal yang tidak jauh beda dari sebelumnya. Aku akan sedikit berpendepat juga dengan topik yang sama, yaitu kebebasan.

Kala lalu, aku sedikit bergedik melihat luapan-luapan ekspresi individu di sebuah sarana interaksi antar individu. Makin jauh dari waktu itu, aku semakin mengernyitkan dahi setelah melihat keadaan yang makin meruncing dan keruh. Aku mulai berpikir inikah makna kebebasan yang selalu digembor-gemborkan?

Mungkin, kebebasan yang akan diceritakan disini bertolak belakang dengan makna kebebasan yang kita saksikan di salah satu iklan operator seluler di televisi. Iklan yang menurutku agak nyinyir tersebut menggambarkan bahwa konstruksi kebebasan yang ada pada masyarakat saat ini justru tidaklah bebas.

Aku mencoba berpikir bahwa kebebasan yang kebanyakan terjadi saat ini justru mengambil hak orang lain untuk menjadi individu bebas. Ketika aku menjadi bebas, pasti aku akan melakukan sesuatu hal sesuai dengan kehendakku. Aku pasti akan melakukan apapun yang akan menguntungkanku, tak peduli apakah orang lain akan merasa untung atau, sebaliknya, rugi.

“Kalian boleh bebas, asalkan tidak mengganggu kebebasan orang lain.” – Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono,  M.Sc.

Maka dari itu, aku terkadang mencoba untuk memahami bahwa untuk menjadi bebas juga tidak sesederhana yang kita pikirkan, apalagi pikiran tersebut terlahir hanya sekedar dari angin yang bertiup bebas. Yah, menurutku, paling tidak, untuk menjadi seorang individu yang bisa bebas dan diakui kebebasannya terlebih dahulu harus menjadi individu yang dewasa.

Untuk menjadi bebas dan dewasa setidaknya (menurutku) kita harus memaknainya dengan tepat. Dan aku merasa bahwa aku beruntung telah mendapatkan bisikan makna tersebut. Makna ini aku dapatkan dari Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono,  M.Sc., Dekan FISIP UI, yang beliau pernah berkata bahwa “Kalian boleh bebas, asalkan tidak mengganggu kebebasan orang lain.”. Sederhana bukan?

Lalu, ketika kita belum dewasa apakah berarti kita belum bebas? Tidak juga, tapi ketika kita belum dewasa terkadang kita belum tahu batas bebas itu ada di mana, jadi kita selalu merasa bahwa kebebasan itu belum kita dapat, padahal kita sudah memilikinya. Atau sebaliknya, kita sudah mendapatkan kebebasan itu tetapi kita melampaui batasannya. Kedua hal ini yang menurutku menyebabkan kebebasan kita justru merugikan orang lain.

Memang sulit untuk mendapatkan predikat yang disebut dengan individu bebas. Bahkan aku sendiri belum tahu apakah aku ini sudah dewasa dan bisa menjadi individu yang bebas dengan proporsi yang pas. Dan, pada dasarnya dewasa sangatlah berbeda dengan tua. Ada orang yang dewasa dalam tubuh yang belum tua, atau sebaliknya. Menjadi dewasa pun merupakan sebuah fase dari kehidupan manusia karena untuk menjadi seorang individu yang dewasa dan bijak, kita harus menjadi seorang yang liar dan terlihat bodoh.

Nah, sekarang pilihan bagiku dan mungkin bagi kawan-kawan yang membaca tulisan ini, apakah kalian merasa menjadi individu yang bebas karena telah dewasa dan bijak, atau menjadi individu yang ‘bebas’ karena masih liar dan bodoh. Hanya orang lain yang bisa menilai, bukan diri kita. Choose your choice!

#bebash broh…

Depok, 12 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s