Jepang dan Mimpi Tsubasa

Hingar-bingar kemeriahan Olimpiade London 2012 telah berakhir. Banyak sekali momentum spesial yang terjadi di perhelatan akbar empat tahunan itu. Kejutan tersebut juga tidak lain ‘menimpa’ kontingen Indonesia. Mulai dari prestasi yang diraih kontingen angkat besi hingga tradisi emas dari cabang badminton yang terhenti. Namun, bukan kompetisi kalau tidak ada yang dinamakan dengan kemenangan dan kekalahan. Seharusnya, kita mampu melihat berbagai macam fenomena yang muncul di perhelatan ini.

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan membahas fenomena kegagalan kontingen Indonesia yang tidak mendapatkan emas. Atau juga, tidak akan membahas tentang pemain badminton yang didiskualifikasi karena melakukan kecurangan. Menurut penulis, hal tersebut sudah banyak yang membahasnya.

Salah satu hal yang paling menarik yang muncul di Olimpiade London ini adalah munculnya kekuatan Asia yang mendominasi cabang sepakbola. Siapa sangka bahwa Jepang dan Korea Selatan mendominasi empat besar, baik di regu putra maupun putri. Bahkan hanya ada satu negara Eropa di cabang sepakbola putri, sedangkan di sepakbola putra sama sekali tidak nampak kekuatan Eropa. Justru negara-negara dari Benua Asia dan Amerika saling berebut dominasi di cabang sepakbola ini. Padahal setiap harinya kita disuguhi oleh sepakbola Eropa yang diwakili oleh klub-klubnya. Namun, mengapa justru kekuatan Amerika dan (baru-baru ini) Asia mulai mendominasi?

Oke, mari sekarang kita melihat lebih detil ke salah satu negara yang menjadi aktor dalam perebutan medali emas di Olimpiade London itu. Kali ini penulis akan coba menyinggung tentang kiprah Jepang di dunia sepakbola. Jepang menjadi kekuatan yang menakutkan di dunia, apalagi pasca Piala Dunia 2002 yang mereka menjadi tuan rumahnya bersama Korea Selatan.

Lalu, apa saja yang membuat sepakbola Jepang mengalami kemajuan yang sedemikian pesat? Mengapa Indonesia tidak bisa menyamainya? Padahal, dari beberapa informasi yang ada, konon katanya J-League (Liga Jepang) terinspirasi oleh Liga Galatama yang menjadi kompetisi sepakbola di Indonesia pada tahun ‘80-an hingga awal ‘90-an.

Berawal dari Mimpi

Masih ingat dengan Film Captain Tsubasa? Ya, film ini merupakan salah satu pemicu kebangkitan sepakbola Jepang. Siapa yang menyangka bahwa Jepang yang pada tahun 1960-an peringkatnya masih berada di bawah Indonesia bisa menjadi digdaya seperti saat ini. Siapa juga yang menyangka bahwa sepakbola yang kalah populer dibandingkan dengan baseball dapat merajai Asia bahkan (hampir) Dunia?

Berawal dari sepuluh tahun yang lalu, muncul film yang menginspirasi orang-orang di Jepang untuk bermain sepakbola, bahkan lebih dahsyat lagi, film tersebut mengajak untuk bermimpi bahwa mereka (rakyat Jepang) bisa bermain sepakbola di Eropa. Ya, bukan Jepang namanya jika tidak bermain imajinasi dalam menyukseskan dinamika perkembangan bangsa mereka.

Mimpi mereka melalui Tsubasa ini dapat dilihat hasilnya saat ini. Banyak pemain Jepang yang telah merumput di Eropa. Pemain Jepang yang paling fenomenal saat ini adalah Shinji Kagawa yang telah merumput bersama Manchester United.

Tsubasa tidak hanya menginspirasi masyarakat Jepang. Bahkan, dunia pun terpengaruh oleh tokoh ini. Salah satu pemain sepakbola yang mendapatkan pengaruhnya adalah Fernando Torres. Ia mengakui bahwa pada saat kecil ia sering sekali menonton Tsubasa. “I can say this animation should be a bible for a boy who dreams about being footballer” ungkap Torres.Catatan lebih lengkapnya dapat dilihat disini.

Strategi yang Apik

Namun, Jepang bukan negara yang hanya bisa bermimpi. Mereka menjadikan mimpi tersebut sebagai pemicu semangat rakyatnya. Di sisi lain, pemerintah, federasi sepakbola, dan pihak swasta sama-sama membangun sepakbola di Jepang agar sesuai dengan impian mereka.

Dimulai dari penyelenggaraan J-League pada tahun 1995, setahun setelah Galatama yang dibanggakan di Indonesia bubar karena berbagai isu yang menimpa, diantaranya, suap, larangan pemakaian pemain asing, dan isu main mata antar klub. Padahal, seperti yang telah disebutkan di awal, Galatama adalah liga yang menginspirasi berdirinya J-League.

Pengelolaan yang baik membuat J-League berjalan secaara pasti untuk mendapatkan pengaruhnya di level Asia. Kini, J-League telah menjadi salah satu liga yang diperhitungkan oleh para pemain berlevel internasional dan juga menjadi lahan para scout dari Eropa untuk mencari bibit muda untuk menjadi pemain di klubnya.

Kesuksesan Jepang dalam membangun sepakbola juga didukung oleh pihak rakyatnya, khususnya pihak swasta. Pengelolaan klub sudah dijalankan secara profesional dengan operasional yang benar-benar sepenuhnya dikelola oleh pihak swasta. Dilihat dari model ekonomi yang dianut Jepang, yaitu kapitalisme murni, model pengelolaan klub juga mengadaptasi corak kapitalisme. Spirit inovasi dan kreativitas menjadi pemicu utama dalam kompetisi ini.

Hal menarik lainnya adalah dalam penyelenggaraan J-League terdapat visi yang bertajuk “One Hundred Year Vision”. Visi ini berusaha untuk menjadi liga bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi, liga dijadikan sebagai ajak untuk menciptakan iklim olahraga di masyarakat. Hal ini berbentuk pemanfaatan komunitas di stadion-stadion untuk mencipta budaya berolahraga agar hal ini dapat mengakar kepada masyarakat secara langsung.

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa Jepang tidak main-main dalam mengembangkan sepakbolanya. Mereka memulainya dari mimpi kemudian dilanjutkan dengan strategi yang apik. Wajar saja, jika pencapaian mereka saat ini dapat dikatakan spektakuler. Lalu bagaimana dengan Indonesia.

Sebuah Ironi bagi Indonesia

Mungkin banyak dari kita yang sudah terlena dengan informasi yang beredar bahwa J-League terinspirasi dari produk Indonesia. Banyak dari kita yang telah jumawa bahwa hal tersebut adalah pencapaian terbaik dari negeri ini. kita yang seperti ini adalah kita yang terlalu terlena oleh rangkaian kata-kata manis yang ada dalam sejarah.

Mari kita lihat kondisi saat ini. Pengelolaan liga di Indonesia belum dapat dikatakan mapan, bahkan dapat dianggap mengalami kemunduran dari sebelumnya. Kita masih bisa melihat dan mengikuti perseteruan antara dua kelompok yang merasa menjadi penggerak dari induk organisasi sepakbola di negeri ini. perseteruan antara PSSI dan KPSI membuat berjalannya liga dan kompetisi dinomorduakan. Konflik yang belum berujung ini menyebabkan perkembangan sepakbola di level klub menjadi terhambat. Antusiasme masyarakat terhadap sepakbola nasional pun bisa dikatakan menurun, hal ini membuat mereka menjadi kembali terhipnotis dengan sepakbola Eropa. Sepakbola nasional lama-kelamaan akan dipandang sebelah mata oleh masyarakatnya sendiri apabila konflik ini tiada berakhir.

Namun, bukan berarti dengan kondisi seperti ini langkah kita terhenti. Setidaknya kita masih bisa bermimpi, sama seperti orang-orang Jepang sepuluh tahun yang lalu. Namun, jangan selamanya kita bermimpi karena saat ini kita berada di dunia yang nyata bukan imajiner. Terakhir, selama Si Madun masih menendang bola, selama itulah yang namanya harapan masih ada.

Yogyakarta, 15 Agustus 2012

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Jepang dan Mimpi Tsubasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s