Tak Selamanya Kita Belajar

Sudah tiga tahun predikat mahasiswa melekat pada diri saya. Selama itu pula berbagai macam pengalaman dan perasaan sebagai telah bercampur aduk mempengaruhi keadaan diri. Namun, mungkin saja pengalaman tiga tahun saya ini tidak sebanding dengan mereka, mahasiswa angkatan ‘90-an atau bahkan sebelumnya. Bagi mereka, waktu tiga tahun bisa dianggap sebagai masa perkenalan sebagai seorang mahasiswa.

Namun, kita harus kembali melihat dalam konteks ruang dan waktu. Tentu saja perputaran zaman tidak bisa kita lawan dan hanya yang mampu betahan dan menyesuaikan diri yang mampu bertahan. Begitu pula dengan mahasiswa. Segala macam aktivitas dan simbol-simbol yang melambangkan rasa mahasiswa juga harus menyesuaiakan dengan konteksnya.

Dua paragraf di atas hanya sebagai sebuah  pengantar ke substansi sesungguhnya yang akan ada di dalam tulisan ini. Acap kali kita mendengar sebuah ucapan kawan-kawan kita yang sibuk berkegiatan di lingkungan kampus bahwa mereka ingin “belajar” untuk mendapatkan sesuatu hal yang lebih dari organisasi yang mereka ikuti. Mereka merasa bahwa dengan menjalankan kegiatan tersebut, mereka ditempa untuk menjadi lebih dalam segala hal. Ya, pernyataan itu tidak salah tetapi juga tidak sepenuhnya dapat kita telan begitu saja.

Seperti yang telah disebutkan diawal bahwa kita, sebagai mahasiswa, harus dapat menyesuaikan sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Kita, yang saat ini hidup di masa modern dan semua serba digital, dituntut untuk bisa menjadi manusia modern yang sesuai dengan eranya. Kita tidak bisa terjebak dengan romantisme masa lalu yang justru membuat kita terkungkung dalam tubuh modern tetapi pemikiran yang klasik.

Hal ini sangat merefleksikan diri kita yang sering kali berkata “Gue ikutan kegiatan/organisasi “x” untuk belajar”. Apakah kita memang telah benar-benar belajar? Apakah hal yang telah kita dapatkan dari proses belajar tersebut bisa kita serap dengan baik? Apakah nantinya kita bisa memberikan sesuatu kepada mereka yang ingin belajar dari kita karena kita telah belajar terlebih dahulu?

Satu lagi yang menjadi sebuah esensi dari jati diri seorang mahasiswa adalah bahwa semakin tua diri kita di kampus bukan berarti kita telah belajar atau bahkan mempelajari segala hal yang telah dilalui. Kita hanya sebatas lebih tahu dari mereka yang lebih muda. Dan saya sendiri pun berani berkata bahwa banyak sekali tipe mahasiswa seperti ini, mungkin juga saya termasuk di dalam tipe ini.

Kita harus sadar, semua masih mentah pada awalnya. Kita hanya bisa untuk saling menjaga dan menyayangi supaya bisa menjadi dewasa dan bijaksana dari hari ke hari. Sebagai manusia sudah menjadi kodratnya untuk belajar karena rasa ingin tahu kita yang teramat besar. Tentu kita juga mengenal proses, yang semua itu tidak cuma kita dapat dalam lingkaran tertentu. Banyak lingkaran-lingkaran lain yang bisa kita manfaatkan untuk belajar, apalagi jika kita masih menyandang status sebagai mahasiswa.

Konklusi paling penting dari tulisan ini adalah bahwa dalam konteks tertentu kita tidak melulu belajar. Kalau kita masih terus-menerus belajar, lalu siapa yang bakal memberikan kepada mereka-mereka yang masih muda? Kita tentunya tidak ingin jika ada gradasi dari generasi ke generasi berikutnya bukan?

Jadi, pilihan ada pada diri masing-masing. Satu hal yang paling saya ingin hindari bahwa suatu ketika di masa yang akan datang saya menyesal karena tidak memanfaatkan momen sebagai mahasiswa dengan sebaik-baiknya.

 Depok, 12 September 2012

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s