Komersialisasi Sepakbola yang Berlebihan

Liga Italia Serie A telah melewati gionarta ketiga dan AC Milan masih mendapatkan hasil yang belum memuaskan. Satu kemenangan dan sisanya kalah di kandang sendiri. Performa dari klub unggulan ini memang mengejutkan. Beberapa orang berpendapat bahwa hal ini terjadi karena kebijakan klub yang melepas pemain-pemain kunci.

Menjelang musim 2012/2013 merupakan tantangan bagi AC Milan. Ditinggal oleh beberapa pemain andalan yang memang sudah mulai memasuki masa tua sekaligus tidak lagi menjadi andalan pelatih Allegri. Selain itu, kepergian Ibrahimovic dan Thiago Silva, yang menjadi andalan dalam dua musim terakhir, ke PSG merupakan kehilangan yang sangat besar bagi klub. Kebijakan Berlusconi dalam merekrut pemain di bursa transfer juga dipertanyakan karena tidak ada ‘pemain bintang’ yang masuk ke dalam tim. Keadaan ini lah yang menjadi ‘kambing hitam’ keterpurukan Rossoneri di awal musim 2012/2013.

Namun, sebenarnya ada hal yang jauh lebih berpengaruh dari alasan-alasan yang telah disebutkan diatas. Apabila kita mencermati secara lebih jauh, terdapat sebuah fenomena yang menarik yaitu munculnya taipan-taipan atau kelas borjuis (mengambil istilah dari Marx) yang mencoba menguasai industri sepakbola. Sebenarnya, fenomena ini bukanlah fenomena yang baru. Bahkan, pada era 1980-an, Berlusconi dan Moratti merupakan dua orang tokoh yang memulai aktivitas ini dengan membeli AC Milan (Berlusconi) dan ‘tetangganya’ Internazionale (Moratti).

Pada tahun 2000, Real Madrid memiliki presiden baru yang bernama Florentino Perez, seorang pengusaha sekaligus politikus di Spanyol. Ia memulai membangun Madrid untuk menjadi sebuah tim yang mewah dengan menggunakan modal yang ia miliki. Gebrakan pertama yang ia lakukan adalah perekrutan Luis Figo, pemain yang diambil dari rival terberat mereka di Liga Spanyol, Barcelona. Selanjutnya, secara berurutan ia merekrut Zinedine Zidane, David Beckham, dan beberapa pemain lainnya. Tim yang ia bangun ini kemudian diberi julukan sebagai Los Galacticos, yang artinya kurang lebih adalah tim yang bertabur bintang.

Fenomena ini berlanjut dan terus berlanjut. Chelsea, sebuah klub besar yang kemudian menjadi sangat hebat setelah diakuisisi oleh taipan asal Rusia, Roman Abrahamovich. Manchester City, yang tidak mau ketinggalan dengan tetangganya, dibeli oleh Sheikh Mansour. Terakhir adalah Paris Saint Germain (PSG) yang sedang rajin-rajinnya memburu pemain-pemain bintang. Klub ini pun juga berasal dari kucuran uang dari Qatar Investment Authority.

Roman Abramovich, taipan asal Rusia yang merupakan pemilik Chelsea

Penjelasan diatas mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi hegemoni yang ditimbulkan dari klub-klub yang ‘kaya mendadak’. Hal ini tentu saja diharapkan tidak mengurangi antusiasme kompetisi dalam setiap liga. Namun, sepertinya hal tersebut urung terjadi.

Sebenarnya, federasi sepakbola Eropa telah mengatur segala kebijakan klub yang terkait dengan uang atau belanja klub, termasuk kebijakan transfer pemain, di dalam Financial Fair Play (FFP). Peraturan tersebut dibuat agar setiap klub tidak berlebihan dalam menggunakan kebijakan keuangannya sehingga tidak akan timpang dengan klub-klub lainnya.

***

Komersialisasi sepakbola saat ini memang sangat mengerikan dan berlebihan. Hanya mereka yang memiliki modal banyak lah yang mampu bertahan dan mencapai eksistensinya di dunia persepakbolaan. Mereka yang kuat secara finansial akan dengan mudah ‘membeli’ gelar juara. Sedangkan klub yang secara finansial dianggap pas-pasan akan selalu berusah untuk memproduksi pemain-pemain berkualitas supaya klub-klub bermodal melirik mereka.

Hubungan mereka ini terlihat seperti hubungan kaum penguasa dengan kaum pekerja. Kaum penguasa disini bisa disebut juga sebagai kaum borjuis. Sedangkan klub-klub medioker dipaksa ‘untuk’ memproduksi pemain-pemain yang nantinya ketika telah matang akan dimanfaatkan oleh kaum borjuis untuk membeli gelar juara.

Fenomena lain adalah adanya hegemoni dua klub raksasa di Liga Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Mereka menguasai sepenuhnya liga sehingga liga tersebut dianggap hanya sebagai pertarungan dua klub tersebut. Akibatnya, hak siar paling banyak diberikan kepada kedua klub ini. padahal, hak siar merupakan salah satu pendapatan yang menguntungkan bagi sebuah klub. Bisa dibayangkan, setiap minggunya, laga-laga Liga Spanyol yang disiarkan  televisi hanya berkutat pada kedua klub tersebut.

Messi dan Ronaldo, dua pemain yang menjadi tokoh utama dalam persaingan Barcelona dan Real Madrid. Sumber: AFP PHOTO/ JAVIER SORIANO

Hal tersebut memunculkan berbagai macam reaksi, termasuk salah satunya adalah munculnya kebijakan FFP. Reaksi yang lebih ekstrim lagi adalah munculnya gagasan untuk menciptakan liga yang pesertanya selain Real Madrid dan Barcelona.

Namun, apabila tidak ada fenomena klub-klub yang menjadi raja baru apakah sebuah kompetisi akan menarik? Belum tentu. Justru hal ini adalah sebuah percikan-percikan penghias sepakbola di era modern. Tentunya kita tidak boleh lupa bahwa fenomena ini sudah terjadi sejak zaman Maradona mulai merumput di Eropa.

Depok, 17 September 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s