Perjuangan Institusional Kartosoewirjo

Kulit Muka Seri Buku Tempo Edisi Kartosoewirjo

Judul Buku : Kartosoewirjo Mimpi Negara Islam

Penulis : Nugroho Dewanto, Redaksi KPG

Penerbit : KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan : Pertama, 2011

Tebal : xi + 145 halaman.

Hari ini, saya telah membaca tentang sebuah catatan tentang seorang tokoh pada masa awal kemerdekaan. Catatan ini merupakan sekumpulan artikel yang dikerjakan oleh Tempo yang diberi judul Seri Buku Tempo: Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan. Tokoh tersebut adalah S.M. Kartosoewirjo.

Mengapa saya memilih buku ini? Jawabannya sama seperti orang kebanyakan yang suka membaca, ingin menambah khazanah sehingga kemudian dapat berbagi dengan yang lain. Selain itu, juga sebagai tambahan referensi dalam penyusunan skripsi saya.

Seperti biasa, Tempo begitu cantik memainkan tutur bahasa dalam tulisan-tulisan yang bercerita tentang Imam Negara Islam Indonesia ini. secara garis besar, buku ini menceritakan tiga riwayat hidup Kartosoewirjo. Masa pencarian jati diri seorang Kartosoewirjo, masa perjuangan mendirikan Negara Islam, dan masa pasca kematiannya.

Kartosoewirjo, sosok yang lebih dikenal sebagai seorang penggagas Negara Islam Indonesia (NII) merupakan orang yang lebih terlihat sebagai seorang abangan ketimbang santri – mengacu pada penggolongan Geertz. Ayahnya yang seorang mantri candu pada masa Kolonial Belanda membuatnya tidak menerima pendidikan agama sebanyak orang-orang yang dianggap sebagai ulama. Selain itu, ia mengampu pendidikan di School der Tweede Klasse, HIS, ELS, kemudian melanjutkan di Europeesche Lagere School atau yang lebih sering dikenal sebagai sekolah dokter jawa. Dari latar belakang pendidikan yang telah disebutkan tersebut dapat kita lihat bahwa pendidikan yang diampunya pun bukan pendidikan agama bahkan, pada masa itu, pendidikan yang diterapkan Pemerintah Kolonial Belanda cenderung sekuler.

Selama belajar di sekolah dokter jawa, ia memilih untuk bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto, untuk dijadikan teman diskusi sekaligus gurunya dalam mendalami ajaran Agama Islam. Sebelumnya, Ia belajar mengenai pergerakan dengan membaca buku-buku tentang sosialisme yang didapatkan dari Mas Marco Kartodikromo, pamannya. Dari pamannya tersebut ia kemudian belajar menulis, dan selanjutnya mengisi berbagai rubrik di surat kabar milik Tjokroaminoto, Fadjar Asia. Selama berguru dengan Tjokroaminoto, Ia tidak sendirian. Murid Tjokroaminoto yang lain yaitu Soekarno dan Semaoen.

Kiprahnya dalam aktivitas politik dimulai dengan mengikuti Jong Java dan Jong Islamieten Bond. Selanjutnya, ia masuk ke dalam Syarikat Islam. Selama berpolitik di Surabaya, pemikirannya sangat khas dan mirip dengan pamannya, tetapi ia memilih jalan untuk bergabung dengan Partai Islam.

Tahun 1929, Ia beranjak ke Garut untuk memperdalam kembali ilmu agamanya. Kelak, Garut akan menjadi basis wilayah Kartosoewirjo ketika melakukan perjuangan menegakkan NII. Awal mula ia melakukan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI?TII) berasal dari ketika dirinya bergabung dengan Masyumi. Konflik yang terjadi di Masyumi membuatnya tidak lagi merasa satu visi dengan partai. Oleh karena itu, saat dia menjadi pemimpin partai wilayah Priangan ia melepaskan diri dan mengajak pengikutnya untuk bergabung bersamanya. Iman, Hijrah, Jihad, prinsip inilah yang diyakini olehnya dalam melakukan perjuangan DI/TII.

Ada satu hal menarik selama perjuangan gerilya yang dilakukan oleh Kartosoewirjo. Sebagai seorang yang hidup dalam kondisi sosial masyarakat yang mayoritas abangan, kehidupannya tidak bisa lepas dari hal-hal yang berbau klenik. Menurut salah seorang anggota Tentara Islam Indonesia, Karto memiliki dua buah senjata yang bila disatukan, mimpinya mendirikan negara islam akan terwujud. Selain itu, Karto juga gemar bertapa di gua-gua yang berada di Gunung Kidul. Fakta ini tentu saja menunjukkan bahwa seorang Kartosoewirjo bukan individu yang memiliki garis keturunan Islam yang kuat.

Gambaran perjuangan yang dilakukan Kartosoewirjo dalam menegakkan negara Islam Indonesia harus kita pahami bahwa sifatnya hanya perjuangan institusional, bukan substansial. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa Kartosoewirjo keluar dari Masyumu karena kekecewaannya terhadap partai tersebut. Selain itu, kekecewaan yang lain muncul setelah Pemerintah Indonesia gagal mempertahankan wilayahnya pada perjanjian Renville. Wilayah Priangan yang sebelumnya masuk sebagai wilayah Indonesia, pasca perjanjian Renville, menjadi wilayah Belanda. Akhirnya, pasukan Siliwangi harus hirah ke Yogyakarta, sementara pasukan Hizbullah bentukannya memilih tetap bertahan dan melakukan gerilya.

Cerminan perjuangan isntitusional lainnya adalah bahwa dirinya yang menganggap ada dua tahapan revolusi. Pertama, melawan kolonial untuk merdeka dan kemudian melawan pemerintahan untuk mendirikan negara Islam. Hal ini dikarenakan bahwa dirinya yang “bukan seorang santri” sehingga pengetahuannya tentang Islam tidak begitu mendalam seperti tokoh Islam lain pada masa itu. Kartosoewirjo yang hanya belajar Islam dari buku-buku berbahasa Belanda yang didapatkan di sekolahnya dan juga dari Tjokroaminoto, ternyata belum mampu untuk menambah pengetahuannya. Oleh karena itu, kemungkinannya, Ia belum paham dasar-dasar dan urgensi untuk mendirikan Negara Islam Indonesia.

Juni 1962, Kartosoewirjo mengakhiri perjuangannya. Ia tertangkap oleh tentara di persembunyiannya yang berada di Gunung Rakutak. Dibawalah dirinya ke Jakarta untuk diadili dan langsung divonis hukuman mati dengan tiga macam dakwaan. Percobaan makar, melawan negara, dan percobaan pembunuhan terhadap Presiden.

Kartosoewirjo bersama Panglima Siliwangi, Ibrahim Adjie, setelah penangkapan dirinya

Pasca eksekusi hukuman mati hingga saat ini, sisa-sisa perjuangan Negara Islam Indonesia masih berserakkan di negeri ini. Meskipun selama kurang lebih 50 tahun ini nafasnya masih ada, tetapi keberadaannya selama kurun waktu tersebut mengalami fluktuasi. Tidak hanya itu, perpecahan juga terjadi dalam berbagai macam faksi. Hal ini tidak terlepas dari perebutan kekuasaan diantara orang-orang yang merasa murid langsung dari Kartosoewirjo. Faksi yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah Jamaah Islamiyah bentukan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir, kemudian faksi selanjutnya adalah NII Al-Zaytun yang dipimpin oleh Panji Gumilang.

Fenomena inilah yang seharusnya menjadi amatan pemerintah. Bagaimana sebuah perjuangan perlawanan terhadap negara masih berhembus nafasnya meskipun pemimpinnya telah dibunuh mati 50 tahun silam. Tentu saja pola pembinaan terhadap keturunan dari pengikutnya yang perlu diperhatikan. Ini adalah salah satu model jejaring yang tidak terasa tetapi sangat cepat pergerakannya. Meskipun dahulu telah ada percobaan asimilasi terhadap seluruh anggota DI/TII, tetapi hal ini belum mengenai keturunan-keturunan mereka. Anggap saja ini sebuah program deradikalisasi, maka kegiatan tersebut harus mengenai keturunannya pula. Namun, saat ini, nampaknya pelajaran dari peristiwa 50 tahun yang lalu belum bisa diambil sebagai pelajaran oleh pemerintah.

Bagaimanapun cara penanggulangannya, bahkan hingga terbunuhnya pimpinan kelompok, tetapi kalau jaringannya belum terputus maka perjuangan mereka akan semakin militan dan mulai menggerogoti kedaulatan negeri ini secara perlahan.

 Depok, 24 September 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s