Sekelumit Cerita dari Baluran

Rencana pergi ke Taman Nasional Baluran ini sebenarnya udah dari tahun kemarin, tepatnya pas libur lebaran, tapi karena waktu itu masih libur lebaran, jadinya tiket pun masih mahal buat kemana-kemana, selain itu gak ada temen juga yang bisa bareng. Akhirnya, setelah beberapa bulan setelah rencana awal yang gagal, jalan-jalan ke Baluran terwujud juga. Ide ini sebenarnya muncul dari Luthfi alias Sabon, temen SMA saya, yang merencanakan pergi ke Baluran sekaligus Kawah Ijen. Tapi, seperti biasa, namanya juga mau jalan-jalan kere, pasti ada ceritanya….

Cerita pertama dimulai dari perencanaan berangkat menuju Baluran-Kawah Ijen. Rencana saya dan teman-teman akan menuju Baluran pada tanggal 20-an Januari 2013, tetapi akhirnya mundur hingga minggu terakhir bulan Januari. Rencana awal, kita berangkat pada hari Rabu tanggal 30 Januari, tapi ada perlawanan dari Eko, salah satu teman saya yang sangat ingin ikut. Setelah melalui perdebatan yang lama di angkringan Egle, akhirnya Eko menang. Kita memutuskan berangkat hari Senin. Tapi, namanya juga rombongan, ternyata Dinsya tidak bisa ikut kalau hari Senin, melalui obrolan panjang lagi dan di Angkringan Egle lagi, akhirnya diputuskan berangkat hari Selasa. Fix!

Ceritanya, disini adalah tempat perencanaan perjalanan Baluran-Kawah Ijen
Ceritanya, disini adalah tempat perencanaan perjalanan Baluran-Kawah Ijen

Oke, sekian prolognya. Selasa pagi, tanggal 29 kita semua yang akan berangkat naik Kereta Ekonomi Sri Tanjung berkumpul di Stasiun Lempuyangan. Ada sembilan orang yang akhirnya akan berangkat, delapan dari Jogja (Saya, Sabon, Eko, Dinsya, Ferly, Cahyo, Yogi, dan Darmaji) serta seorang lagi (Angur) bertemu di Banyuwangi. Perjalanan dari Jogja dimulai pukul 07.30 dan rencananya sampai di Banyuwangi pukul 21.00, rencananya~~.

Cerita sepanjang perjalanan dari Jogja ke Banyuwangi sebenarnya banyak. Bayangkan saja, perjalanan yang dilakukan lebih dari dua belas jam. Sayang sekali kalau tidak diceritakan. Setiap orang berusaha mencari kesibukan, mulai dari ngobrol sampai  sibuk sendiri. Dinsya yang sibuk dengan buku kecilnya yang setelah diketahui dia mencatat waktu setiap kereta berhenti di setiap stasiunnya. Ferly yang selalu memperhatikan omongan pedagang yang lalu lalang serta barang-barang ‘sampel’ dagangan. Cerita menarik lainnya ada dari Stasiun Wonokromo, saya melihat seorang petugas stasiun (sepertinya polisi khusus KA) yang membantu beberapa orang yang berusaha naik ke dalam kereta karena pintu masuk kereta tidak bersebelahan dengan peron sehingga posisinya masih terlalu tinggi. Petugas tersebut membantu orang-orang untuk naik ke dalam kereta dengan menggunakan punggungnya (coba kawan-kawan yang baru saja demo tentang penggusuran kios di stasiun melihat hal ini). Selanjutnya, kereta yang saya tumpangi juga melewati tanggul lumpur Lapindo. Saya pikir, tanggulnya hanya sekitar satu hingga dua meter, tetapi ternyata lebih tinggi dari itu dan posisinya persis berada di sebelah rel kereta. Uniknya, di beberapa titik tertulis “Selamat Datang di Kawasan Wisata Lumpur Lapindo”, sebuah bencana yang berakhir menjadi wisata. Tidak hanya itu, tanggul ini pun menjadi tempat untuk memasang spanduk iklan, seruan protes warga yang menuntut Lapindo, serta kampanye….

"Wisata Lumpur Lapindo"
“Wisata Lumpur Lapindo”

Seperti telah disampaikan di awal, rencananya kita sampai di Stasiun Banyuwangi Baru pukul 21.00, rencananya… Kenyataannya kita baru sampai sekitar pukul 22.30. Perjalanan selama hampir 15 jam pun berakhir. Disana kita langsung bertemu dengan Angur yang menyusul dari Bali. Setibanya di stasiun, kita semua langsung mencari makan malam, saya dan Sabon menyempatkan bertanya sebentar ke pos polisi tentang rute ke Baluran. Akhirnya kita pun makan di sebuah warung pecel ayam, kita sudah duduk menunggu, tapi ada yang kelupaan, yaitu menanyakan harga. Setelah bertanya, ternyata harga seporsinya Rp 12.000,00. Akhirnya kita semua gak jadi makan, pindah ke sebrang, dan mendapatkan nasi goreng dengan harga Rp 6.000,00. Lumayan. Sambil makan kita juga sembari menunggu angkot yang siap disewa sampai ke Baluran. Angkot pertama yang kita temui di pos polisi mematok harga Rp 180.000,00 sampai Baluran. Coret, cari yang lain. Ohya, selama makan, saya bertemu dengan teman-teman Suara Mahasiswa (SUMA) UI yang kebetulan juga sedang ingin menuju Baluran. Selesai makan, kita langsung mendapat angkot yang bisa disewa dengan harga yang manusiawi, Rp 110.000,00 saja. Dimulailah perjalanan Banyuwangi hingga Baluran selama kurang lebih 45 menit.

Sekitar pukul 01.00 akhirnya kita sampai di Gerbang Baluran, setelah dalam perjalanan kita disuguhi dengan cerita horor dari supir angkot dan temannya serta melihat tertangkapnya maling di jalan menuju Baluran. Jalur Banyuwangi-Baluran keras bro! Apalagi kalau malam hari. Oke, balik lagi, sekitar 10 menit kita tertahan di gerbang Baluran karena kita sebelumnya belum booking sehingga petugas jaga tidak berani untuk membiarkan kita menginap di visitor center. Saran saya, sebaiknya memberi kabar ke pihak Taman Nasional Baluran terlebih dahulu jika ingin mengunjungi Baluran. Namun, karena mungkin kita memasang tampang melas dan bapak penjaganya merasa iba mereka mengijinkan kita untuk bisa bermalam di visitor center, setelah mereka berdua berdiskusi dengan menggunakan Bahasa (mungkin) Madura. Saran saya lagi, ajak lah teman anda yang bisa Bahasa Madura, dijamin aman dan nyaman sepanjang perjalanan. Akhirnya, kita pun bisa tertidur…

Keesokan harinya…

Sebelumnya, kami semua diingatkan oleh bapak penjaganya bahwa kita harus bangun sebelum pukul 07.30. Kenyataannya, kita mulai terbangun pukul 05.00, karena dahsyatnya nyamuk Baluran dan juga sinar matahari yang begitu menyengat. Sekitar pukul 05.30, datanglah salah satu pengurus TN Baluran, namanya Pak Imam. Dia yang menwarkan kepada kami semua tentang transportasi dan penginapan selama di Baluran. Karena kita memang baru terbangun dan belum sepenuhnya sadar, ya kita pun banyak bengongnya. Hal itu mengakibatkan Pak Imam menyangka bahwa kita tidak mempercayainya, sampai-sampai dia berkata “Saya ini Muslim Mas, saya juga Sholat. Gak mungkin saya kong-kalikong.” kita pun sebenarnya tak ada yang memikirkan sampai kesitu, ya wajar saja, kita mencari jalan yang paling murah, wajar dong kalau nawar. Namanya juga jalan-jalan kere. Akhirnya kita masuk ke Baluran, tepatnya menuju Bekol yang menjadi tempat kita menginap sekitar pukul 08.30. Kita menyewa truk dengan biaya sebesar Rp. 150.000,00 dan hanya diisi dengan sembilan orang. Mahal? Emang. Setelah mengetahui ongkosnya mahal, kita pun sempat berpikir untuk jalan kaki dari Bekol hingga gerbang saat pulang, lumayan sekitar 12 km. Sepanjang jalan menuju Bekol, kita sudah disajikan pemandangan yang sangat bagus. kita melihat merak, rusa, dan ayam hutan berkeliaran bebas. Belum lagi ditambah dengan segerombolan kupu-kupu serta burung yang terbang bebas. Kalo kata Cahyo, ayam hutan itu pasti kalah kalau dijadikan ayam aduan.

Sesampainya di Bekol, kita langsung disambut oleh seekor burung merak dan sekawanan monyet yang berada di depan penginapan yang akan kita sewa. Kita pun duduk-duduk, bersantai sejenak, ada yang kejar-kejaran dengan merak, pokoknya enjoy dulu. Namun, tidak lama berselang, kantong plastik kita diserbu oleh monyet, dan akhirnya seekor monyet pun berhasil mengambil Sari Roti. Monyet juga punya selera rupanya.

Monyet Penikmat Sari Roti
Monyet Penikmat Sari Roti
Burung Merak menyambut di Bekol
Burung Merak menyambut di Bekol

Kami menginap di Wisma Rusa dengan biaya Rp 35.000,00/0rang, tapi kita hanya menyewa dua kamar, karena memang yang tersedia hanya dua kamar. Akhirnya, 3 orang hanya dikenai biaya masing-masing Rp 10.000,00. Jadi, untuk menginap kita menghabiskan sebanyak Rp 240.000,00 (kalau tidak salah). Pukul 10.00, kita semua tidur dan rencananya pukul 11.00 kita semua jalan menuju pantai Bama, rencananya~~

Kenyataannya, sebagian dari kami baru terbangun pukul 12.00 dan akhirnya kita menuju pantai Bama pukul 13.00, tanpa mandi sebelumnya karena kita memang akan mandi di sana. Perjalanan menuju pantai Bama ditempuh dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Karena cuaca yang mendung, kita sudah mempersiapkan perjalanan dengan masing-masing membawa jas hujan. Perjalanan menuju pantai Bama ditempuh selama 45 menit. Tidak begitu melelahkan, sumpah! Selama perjalanan, suguhan pemandangan berupa hamparan rumput serta hewan-hewan liar yang ada sangatlah menyenangkan. Namun sayang, banteng belum dapat kami jumpai.

Jalan menuju Pantai Bama
Jalan menuju Pantai Bama

Satu hal yang menjadi tujuan kami sesampainya di Pantai Bama, cafetaria. Ya, kami kelaparan karena kami tidak jadi membawa kompor karena ternyata kompornya rusak. Sampai di Bama, kita pesan makan, bersantai di tepi pantai sembari menanti nasi gorengnya matang dan memulai petualangan pantai. Selesai makan, kita semua langsung menceburkan diri ke laut. Ohya, barang-barang bawaan harus tetap terjaga karena di sepanjang pantai ini banyak sekali monyet berkeliaran yang bisa mencuri barang bawaan kita. Kita mulai bermain di pantai dengan snorkeling, untuk mendapatkan pemandangan bawah laut yang bagus kita harus berenang hingga 200 meter dari tepi. Jauh dan melelahkan. Saya sendiri pun tidak sejauh itu. Hanya mendapatkan ikan yang sangat kecil dan rumput laut. Ujar Josua, salah satu anak SUMA, ia baru melihat karang setelah berenang sanagt jauh ke tengah. Sebetulnya kami ingin menyewa perahu untuk mencapai tengah, tetapi saat itu operatornya tidak ada. Biaya menyewa alat snorkeling sebesar Rp. 30.000,00/set dan untuk menyewa kano sebesar Rp. 20.000,00/jam. Di Pantai Bama ini, saya juga sempat menikmati Bulu Babi Bakar. Rasanya seperti kerang, tetapi lebih lembek dan agak sidkit amis dan sudah tidak beracun, karena yang dimakan bagian dalamnya. Buat saya masih enak kok, bahkan nagih. Hahaha. Kami menghabiskan waktu di pantai hingga pukul 17.00 dan kemudian kembali ke penginapan.

Bulu Babi bakar
Bulu Babi bakar
Pantai Bama. Air lautnya tenang
Pantai Bama. Air lautnya tenang

Sampai di penginapan, kami semua langsung bersih-bersih diri dan mempersiapkan untuk makan malam. Permasalahannya adalah kami tidak membawa kompor karena rusak. Untungnya, ada teman-teman SUMA yang di penginapannya terdapat kompor. Maka, kami meminjam kompor yang ada di penginapan mereka. Terima kasih untuk teman-teman SUMA. 😀

Kami pun memulai memasak, ada juga yang mengobrol dengan teman-teman SUMA. Saya sendiri berada di luar bersama Ipang, Sam, Rama dan anak-anak SUMA yang lainnya. Ada satu cerita menarik di malam itu. Cerita ini didapatkan dari bapak yang mengantarkan makanan kepada anak SUMA. Bapak tersebut adalah pemilik cafetaria yang ada di Pantai Bama, jadi dia mengantarkan makanan dari pantai. Singkat cerita, ia agak lama mengantar karena dalam perjalanan ia bertemu dengan segerombolan kerbau yang sedang menyebrang dan juga mencari makan. Hal tersebut memaksa ia dan istrinya menunggu hingga kerbau itu menyingkir. “Kalau sampai ketabrak, rasanya sama dengan ketabrak mobil.” ujar Bapak itu. Kita pun yang berada di luar penasaran, tetapi tetap saja tidak berani untuk mencari ke tempat kerbau itu berada karena memang suasananya sangat gelap. Setelah beberapa menit Bapak itu kembali ke pantai, makanan yang kami bikin pun selesai. Makanannya cukup sederhana, mie goreng yang ditaburi dengan orek tempe serta air hangat untuk menyeduh susu maupun wedang jahe. Meakipun sederhana, tetapi sensasinya luar biasa karena kita makan dengan cara kembulan.

Selesai makan, Sabon, sebagai ketua tim (#asyeek) melakukan evaluasi, terutama evaluasi keuangan. Kita merekap kondisi keuangan kita karena ini masih baru menempuh setengah perjalanan. Setelah dihitung-hitung ternyata untuk kembali ke gerbang depan kita bisa naik truk kembali, tanpa perlu berjalan kaki. Rencananya, kami akan menumpang truk yang sudah disewa oleh kelompok lain yang kebetulan juga berada di satu penginapan, yang kebetulan juga berasal dari Jogja. Setelah menghitung uang, kita pun mengobrol sampai listrik mati, karena di Bekol, listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga 23.00. Setelah listrik mati, kita pun tertidur…

Hari selanjutnya…

Kita semua bangun pukul 04.00, karena kita berencana untuk melihat sunrise melalui gardu pandang. Pukul 04.30, kita semua menuju gardu pandang. Namun sayang, karena cuaca mendung, maka sunrise pun tidak nampak. Akhirnya, kita melanjutkan kegiatan dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan. Hanya satu orang yang kembali melanjutkan tidur, yaitu Ferly. Selesai berjalan-jalan, kita membuat api dari kayu dan sampah yang ada untuk membuat sereal dan susu. Kami bersantai hingga pukul 06.30 lalu kembali lagi ke penginapan untuk persiapan perjalanan selanjutnya.

Gunung Bauran dilihat dari gardu pandang
Gunung Baluran dilihat dari gardu pandang
Ferly yang lagi mejeng bersama tengkorak kerbau dan banteng
Ferly yang lagi mejeng bersama tengkorak kerbau dan banteng

Pukul 09.00, setelah kita semua selesai berkemas, kita langsung menuju ke bawah, bergabung dengan kelompok lain. Sebelumnya, kita berpamitan kepada pengurus penginapan. Ia pun sempat bercerita sebentar bahwa saat ini jumlah banteng, yang menjadi daya tari di Baluran, populasinya sedang menurun. Di penangkaran hanya ada tiga ekor banteng, sedangkan yang lainnya belum tahu. Bahkan ada rencana bahwa kebun binatang Surabaya akan menyumbangkan bantengnya karena kebun binatang tersebut akan tutup dalam waktu dekat. Setelah diberi tahu seperti itu, kami pun menuju tempat penangkaran banteng, tetapi apa daya, ketika kami menanyakannya kepada polisi hutan, ternyata kami tidak diijinkan untuk masuk.  Akhirnya, kami kembali ke depan penginapan untuk menunggu truk kami datang. Biayanya kali ini lebih murah, karena ada tiga kelompok, maka tiap kelompok dikenai biaya Rp 50.000,00 saja. Saran: semakin banyak menemukan kelompok untuk berangkat bersama, semakin murah biaya yang dikeluarkan.

DSC_0079

Pukul 10.30, kami tiba kembali di visitor center. Ternyata, disini juga ada mahasiswa yang magang. Berdasarkan penglihatan saya, mahasiswa tersebut berasal dari USU, jauh bro! Kami pun berjalan hingga ke depan untuk menunggu bis. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya bis yang dinanti pun datang. Selama perjalanan Baluran hingga terminal Banyuwangi saya dan beberapa teman tertidur. Sesampainya di terminal, kita begitu merasa kelaparan. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan ke stasiun, untuk membeli tiket pulang ke Jogja, dan mampir makan jika ada warung. Meskipun demikian, di terminal kami tetap saja dikerubungi oleh orang-orang yang menawarkan menumpang angkot. Jarak terminal hingga stasiun sejauh tiga kilometer. Di terminal kita ditawari Rp 5.000,00 per orang untuk sampai stasiun, kita pun tetap berjalan hingga sempat pula ada yang menawarkan Rp 2.000,00 hingga stasiun. Dan kita pun tetap berjalan. Setelah berjalan kurang lebih 1,5 km, akhirnya kita menemukan warung makan. Dari kondisinya, warung ini seringkali disinggahi oleh para supir truk. Makanannya pun cukup enak dan murah. saya makan dengan sayur, telor dan tahu serta es teh dua gelas hanya habis Rp 10.000,00. Selesai makan, kita disuguhi dangdut ala pantura yang diputar melalui dvd player. Kami pun juga ditawari untuk menyewa mobil milik Bapak Erwin untuk menuju Ijen, biayanya sebesar Rp 100.000,00 sekali jalan. Kita juga berencana untuk menyewa mobil Bapak Erwin sekembalinya dari Ijen menuju Banyuwangi.

warung murah meriah. Liat tivi di pojok kiri atas, digoyang dangdut pantura bro....
warung murah meriah. Liat tivi di pojok kiri atas, digoyang dangdut pantura bro….

Sebelum menuju Ijen, kami menyempatkan diri mampir ke Stasiun Banyuwangi Baru untuk membeli tiket pulang ke Jogja sekaligus membeli logistik untuk keperluan selama di Ijen. Sesampainya di stasiun, kami harus menunggu hingga pukul 13.30, karena loket baru buka di jam tersebut. Setelah selesai, kami pun menuju Ijen. Namun, tepat pada hari Jumat, saya justru terbangun dan sedang berada di Pasar Rebo. Saya tidak ingat apakah saya ikut ke Kawah Ijen atau tidak.

Depok, 3 Februari 2013

Advertisements

4 thoughts on “Sekelumit Cerita dari Baluran

    1. Gak sempet. Tapi kemaren dikasih tau ama orang yg dari Pantai Bama kalo pas dia mau ke Bekol banyak kerbau keluar. Katanya memang seringnya malam keluarnya. Tapi so far memuaskan kok. Katanya lebih oke kalo pas musim kemarau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s