Antara Lawan, Kawan, dan Musuh

Bicara mengenai rivalitas, mari kita menengok dua liga besar di dunia yang memang telah ditakdirkan menjadi tempat bernaungnya dua pasang klub yang memiliki sejarah rivalitas yang panjang. Real Madrid dan Barcelona di Liga Spanyol serta AC Milan dan Inter Milan di Liga Italia.

Mari kita melihat cerita apa saja yang telah terjadi antara Real Madrid dan Barcelona terlebih dahulu. Salah satu kisah yang paling menarik dalam kurun waktu dua dasawarsa tearkhir, yang melibatkan kedua klub ini adalah hijrahnya pemain dari Barcelona ke Real Madrid. Perpindahan pemain diantara kedua klub ini sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1902 saat Alfonso Albeniz hijrah dari Klub Katalan menuju Klub Ibukota. Namun, pada Juli 2000, sebuah berita di bursa transfer cukup mencengangkan. Pertama, tokoh utamanya adalah Luis Figo yang kelak akan menjadi peraih ballon d’or di tahun itu. Kedua, transfer senilai 37,5 juta pounds menjadi angka yang termahal saat itu. Dan ketiga, Ia memutuskan untuk pindah menuju ke rival klub asalnya, dari Barcelona menuju Real Madrid.

Tak ayal, saat menjalani laga El Clasico, Figo pun menerima cemoohan dari fans Barcelona saat timnya bertandang ke Nou Camp. Bahkan pada musim 2002/2003, Ia disuguhi kepala babi saat berkunjung ke kandang Barcelona. Bahkan salah satu kanal olahraga terkemuka di Eropa, ESPN, menuliskan bahwa hal tersebut merupakan hadiah dari sebuah pengkhianatan terbesar yang dilakukan oleh Figo.

Kisah Figo merupakan salah satu dari sekian banyak kisah yang muncul selama berpuluh tahun rivalitas kedua klub tersebut. Saat ini pun, rivalitas tersebut masih berbau tajam. Bahkan, dalam beberapa musim terakhir, banyak orang mengatakan bahwa Liga Spanyol hanya terdiri dari dua klub ini. Selain itu, rivalitas ini diperkuat dengan hadirnya Ronaldo dan Messi yang selalu berebut untuk menjadi nomor satu.

Rivalitas keduanya bukan saja terjadi di atas lapangan tetapi juga terjadi di luar. Mungkin sebagian dari Anda telah mengetahui bahwa di Spanyol terdapat kubu-kubu yang bersifat primodial. Barcelona sering dianggap mewakili Catalan, sebuah wilayah di Spanyol yang telah lama berupaya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Sedangkan Real Madrid dianggap sebagai wakil kelompok Castillian yang menjadi simbol dari kelompok bangsawan, penguasa, dan dominan di Spanyol. Bahkan, untuk menegaskan pernyataan tersebut, bendera Catalan sering kali dijadikan koreo oleh fans Barcelona ketika klubnya bertanding di Nou Camp, apalagi saat menghadapi Real Madrid. Namun, hal ini tidak lah menjadi faktor utama rivalitas kedua klub ini. Toh, masih banyak pendukung kedua klub tersebut yang berasal dari luar Spanyol.

Lalu bagaimana dengan rivalitas antara AC Milan dan Inter Milan? Dua klub yang berasal dari kota yang sama, bahkan berbagi homebase yang sama. AC Milan, yang menjadi ‘kakak’ dari Inter Milan karena terlahir sembilan tahun lebih dahulu ketimbang Inter Milan, didirikan oleh Alfred Edwards pada tahun 1899. Selama sembilan tahun itu pula hanya ada satu klub di Milano. Namun, pada 1908, Milan Cricket and Football Club, atau yang bisa disebut sebagai AC Milan, mengalami perpecahan. Sekelompok orang Italia dan Swiss tidak senang dengan dominasi pemain Italia dan menginginkan banyak pemain asing. Namun, usul tersebut ditolak, sehingga sekelompok orang tersebut keluar dan membentuk klub Internazionale, yang dengan tujuan diisi oleh banyak stranieri. Hingga kini, rivalitas tersebut tetap ‘dipelihara’ selama hampir 105 tahun.

Layaknya sebuah rivalitas, tentu terdapat intrik menarik di dalamnya. Salah satu yang bisa diamati adalah perilaku dari para ultras. Seperti yang kita ketahui bahwa kedua klub ini berbagi kandang yang sama sehingga tempat dari setiap ultras hanya berada di tribun yang berbeda. AC Milan di Curva Sud dan Inter Milan di Curva Nord. Daya  tarik dari ultras di Italia adalah koreo yang selalu mereka lakukan sebelum pertandingan. Hal yang paling menarik, dan masih berhubungan dengan pengkhianatan, adalah saat terjadi derby della madoninna tahun 2010. Saat itu, Leonardo baru saja menangani Inter Milan, setelah, pada musim sebelumnya ia menjadi allenatore di AC Milan. Koreo di Curva Sud pun bergambarkan lukisan Da Vinci, Perjamuan Terakhir dengan Leonardo sebagai Judasnya. Koreo yang ada di Curva Nord saat berlangsung derby pun tak kalah seru. Seperti yang muncul pada derby terakhir yang menceritakan mengenai kebijakan transfer AC Milan. Dalam koreo tersebut, para penghuni Curva Nord mengejek AC Milan atas kepindahan Ibrahimovic dan Silva ke PSG.

Namun, tragedi yang cukup mengerikan sempat terjadi pada tahun 2005 saat perempatfinal Liga Champions. Saat itu AC Milan memimpin dengan skor 1-0 dan agregat 3-0. Tiba-tiba, pertandingan dihentikan karena terdapat flare yang dilemparkan ke lapangan dan mengenai pundak Dida. Kejadian tersebut diawali oleh keputusan kontroversial wasit yang mengakibatkan fans Inter marah. Pertandingan semat ditunda selama 30 menit, tetapi hanya bisa dilanjutkan beberapa menit karena masih ada flare yang dilemparkan lagi. Akhirnya, diputuskan bahwa pertandingan dimenangkan oleh AC Milan.

Ketika kita bicara mengenai rivalitas, baiknya tidak melulu selalu berakhir dengan kekerasan, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Melihat rivalitas Catalan dan Castillian, toh tidak semua supporter berasal dari daerah tersebut. Rivalitas antara Ronaldo dan Messi pun sebatas persaingan untuk mengejar prestasi. Bahkan, kalimat-kalimat yang sering diucapkan Ronaldo untuk menegaskan rivalitasnya dengan Messi bukan kalimat yang bersifat ofensif. Toh jika kita melihat Top Eleven versi FIFA tahun 2012 didominasi dengan lima pemain Madrid dan lima pemain Barcelona, sama halnya dengan Timnas Spanyol, yang menguasai Eropa dan Dunia saat ini, didominasi pemain kedua klub tersebut.

Melihat yang terjadi di Italia, banyak pemain Inter Milan yang simpati terhadap Cassano yang terkena stroke musim lalu atau, sebaliknya, banyak pemain AC Milan yang bersimpati dengan cedera Milito saat ini. Seperti yang dilakukan El Shaarawy melalui akun Facebooknya. “Saya mengharapkan yang terbaik untuk Diego Milito. Saya mengirimkan pelukan (untuk dirinya). Anda adalah juara sejati dan saya harap Anda akan kembali bermain secepatnya!” tulisnya.

Bagi Saya, dan mungkin juga Anda yang sepaham, mungkin agak aneh ketika melihat orang-orang yang berdebat kusir baik secara langsung maupun melalui akun media sosial. Ketika melihat hal tersebut, selalu terpikir, memangnya siapa kita? Kalau bagi saya sendiri, Saya adalah seorang fans abal-abal sebuah klub sepakbola Eropa, yang bahkan belum pernah menyaksikan langsung, dan bahkan saya baru kenal klub idola saya 10 tahun yang lalu. Dengan kapasitas itu sepertinya tak perlu ada hal yang harus diperjuangkan secara berlebihan. Bagi saya, rivalitas sebuah klub harus dimiliki demi adanya permainan dan dram di atas lapangan yang menghibur. Namun sebuah rivalitas jangan sampai berlanjut hingga mengakibatkan kekerasan. Menutup tulisan ini, saya mengutip jargon kebanyakan orang yang mencerminkan fenomena ini. “we’re rival, but not enemies!”

*Tulisan ini pernah dimuat di definefootball.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s