Berdamai dengan Pembela Islam

Lima belas tahun yang lalu, di negeri terdapat peristiwa bersejarah yaitu reformasi, yang telah diperjuangkan oleh sebagian rakyat pada tahun 1998. Seharusnya, apa yang telah dicita-citakan oleh para pendahulu kita sudah mulai terasa saat ini. Salah satu hal yang seharusnya sudah terasa adalah perihal kebebasan Namun, apakah memang sekarang ini kita sudah benar-benar mendapatkan kebebasan?

Salah satu bentuk kebebasan yang sangat amat terasa adalah kebebasan kita untuk berkumpul dan berserikat, yang hal ini sangat sulit dinikmati ketika masa Orde Baru.  Ketika kita berbicara mengenai serikat, maka, paska reformasi muncul banyak organisasi atau gerakan, termasuk gerakan Islam. Diantara gerakan tersebut, tiba-tiba muncul banyak sekali organisasi yang ingin menjadi pembela Islam. Sebuah penelitian dari Setara Institute menunjukkan bahwa setelah tahun 1998, setidaknya terdapat sebelas organisasi Islam yang berdiri dan juga bersifat parallel terhadap berdirinya partai politik Islam.[i] Diantara organisasi tersebut saya menilainya sebagai organisasi yang seolah-olah menjadi barisan terdepan dalam menegakkan ajaran Islam.

Tidak akan menjadi masalah ketika gerakan para organisasi pembela Islam ini dilakukan dengan cara-cara yang damai. Namun, permasalahannya saat ini adalah mereka seolah-olah menjadi latah dan terlanjur terperosok karena terbuai dengan kebebasan yang ada. Mereka melakukan berbagai tindakan kekerasan yang dilegitimasi sebagai sebuah upaya dalam rangka membela agama Islam. Pastinya kita sudah mengetahui bahwa organisasi macam ini sering sekali melakukan tindak kekerasan, seperti, melakukan aksi sweeping hingga dapat menilai orang lain sebagai seorang kafir karena menurut mereka ajarannya tidak sepaham.

Belajar dari seorang Gus Dur yang sangat toleran terhadap sesama, saya memiliki suatu pendapat bahwa mereka hanya belum siap menghadapi modernitas. Ketidaksiapan mereka ini lah yang membuat mereka menjadi tidak toleran terhadap sesama. Ketika mereka menyatakan bahwa melakukan hal tersebut demi amar ma’ruf nahi mungkar, saya pun tidak bisa mengatakan tidak setuju. Namun, tentu masih banyak cara selain menggunakan tangan untuk melakukan kekerasan.

Bagi saya, tindakan mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi justru melakukannya dengan kekerasan merupakan sebuah cerminan bahwa mereka tidak siap menghadapi modernitas dunia. Mereka kecewa terhadap kenyataan di dunia yang saat ini mereka hadapi lalu kemudian mereka mencoba untuk mencari jawaban dan jalan keluarnya. Akan tetapi mereka justru terjebak dalam permasalahan yang mereka buat sendiri. Alhasil, mereka menjadi kehilangan kemampuan untuk dapat menjawab permasalahan yang ada dan yang mereka buat sendiri.

Selain itu, sebagai seorang manusia, tentu kita dibekali dengan akal pikiran yang istimewa. Anehnya, mereka justru tidak menggunakannya. Mereka memang sekumpulan orang yang sangat kuat dalam memegang ajaran agama, tetapi, merek tidak mencernanya terlebih dahulu. Mereka terlanjur mempercayakannya pada pemimpin mereka. maka, seolah-olah, sebuah penafsiran ajaran agama hanya diwakilkan oleh satu orang pemimpin saja, sehingga menimbulkan personifikasi tentang ajaran tersebut. Padahal sudah jelas-jelas bahwa dalam terdapat metode istinbat hukum dalam rangka memaknai hukum Islam. Selain itu hal tersebut juga menimbulkan kesan bahwa agama Islam menjadi dogmasistis, kemudian penuh dengan penafsiran yang harus ditaati sehingga muncul gerakan fundamentalis dan puritanisme. Akhirnya, apa yang menjadi pendapat pemimpin mereka itulah yang menjadi pedoman mereka dalam melakukan kegiatan-kegiatan organisasi.

Apa yang saya narasikan di atas bukan merupakan sebuah cerita fiksi semata. Hal tersebut sungguh terjadi di sebuah negeri yang sudah melalui lima belas tahun reformasi dan hampir tujuh dekade merdeka tetapi kebebasan belum sepenuhnya dirasakan semua orang. Sekarang mari kita lihat fakta-fakta apa saja yang terjadi di negeri ini yang berupa kekerasan yang dilakukan para pembela Islam.

Tentu kita tidak akan lupa dengan kasus Ahmadiyah yang berkali-kali dihalangi untuk melakukan peribadatan. Mulai dari penyegelan masjid, pengerusakan masjid, hingga pengusiran paksa warga Ahmadiyah dari suatu kampung. Mereka melakukan tindakan tersebut semata-mata untuk langsung memberikan penilaian terhadap Ahmadiyah jika mereka itu sesat. Mereka melakukan tindakan tersebut tanpa ada negosiasi ataupun ajakan untuk kembali ke jalan yang benar menurut mereka. hal yang menurut mereka menjadi benar adalah yang patut mereka lakukan. Hal tersebut berupa main hakim sendiri.

Kasus yang paling anyar adalah ketika salah satu organisasi pembela Islam melakukan tindakan penghinaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga akhirnya,  sang presiden pun berkicau melalui akun twitter bahwa organisasi tersebut harus menghentikan tindakan main hakim sendiri.[ii]

Satu hal lain yang perlu diperhatikan bahwa di negara ini, yang berdiri adalah negara Indonesia, bukan negara Islam. Jadi, yang dijadikan landasan hukumnya adalah hukum yang berlaku di Indonesia, bukan hukum Islam. Kekhawatirannya adalah bahwa yang menjadi tujuan dari setiap gerakan Islam adalah adanya tujuan untuk mendirikan negara Islam. Gerakan-gerakan seperti ini agaknya yang perlu diperhatikan. Salah satu hal yang dilakukan Gus Dur ketika menjadi presiden adalah tetap menjaga berjalannya prinsip-prinsip nasionalisme. Padahal, seperti yang kita ketahui, beliau berasal dari partai Islam, yang seharusnya bisa menyelipkan kepentingan politiknya. Namun, beliau tetap teguh berpegang kepada Bhineka Tunggal Ika dengan mengandalkan sikap toleran dan menghormati sesama. Rasanya, hal ini yang kurang dari jiwa-jiwa kita saat ini.

Lalu, bagaimana tindakan yang seharusnya kita lakukan terhadap organisasi-organisasi pembela Islam tersebut? Ada baiknya kita tidak bersikap yang seragam dengan mereka. toh ketika kita mencanangkan melawan kekerasan jangan dilawan dengan kekerasan bukan. Tentu baiknya kita lebih mengedepankan sikap-sikap yang damai dan toleran. Tentunya gerakan mereka tetap memiliki batas-batas yang tidak terlalu luas, berbeda dengan organisasi Islam moderat. Kita sudah menyadari bahwa mereka sedang kecewa terhadap keadaan dunia yang sudah tidak sesuai harapannya. Maka dari itu, orang yang sedang kecewa jangan sampai ditinggalkan karena nantinya dia justru akan larut lebih dalam dengan kekecewaannya, yang artinya mereka bisa menjadi lebih ekstrem.

Berbicara mengenai membela agama, Gus Dur dalam sebuah tulisannya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela mengungkapkan bahwa Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangan orang. Kebenaran Allah tidak berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tentram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela. Berarti atu tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan masa depan nanti.[iii]


[i] Ismail Hasani & Bonar T.N. (ed.), Wajah Para ‘Pembela’ Islam, Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara, 2010, h. 30.

[iii] Abdurrahman Wahid, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: LKiS, 1999, h. 68.

 

Advertisements

2 thoughts on “Berdamai dengan Pembela Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s