Jogjakarta

Satu minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11 Januari 2014, saya akhirnya bisa kembali ke Jogja. Setelah sempat beberapa kali menunda kepulangan, karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, kesempatan itu akhirnya tiba.

Sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Jogja, pulang pun pun paling hanya setiap libur kuliah. Waktu lebaran saja lebih banyak saya habiskan di Depok, karena kakek nenek saya memang tinggal di sana. Menariknya, setiap saya pulang ke Jogja selalu saja ada hal menarik dan baru buat saya. Meskipun Jogja memiliki ritme kehidupan yang cenderung lebih lambat dibandingkan Jakarta, tetapi saya selalu merasa ada yang berubah di setiap kedatangan saya di sana. Entah manusianya, suasananya, atau rupa kotanya.

Kepulangan saya yang terakhir kemarin memang agak berbeda. Saya pulang dengan membawa berita baik untuk keluarga dan kawan-kawan saya, sekaligus memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang keluar dari mulut mereka. Mengapa? Karena pada hari Sabtu tanggal 8 Februari, saya telah meresmikan diri menjadi sarjana. Sebenarnya, tujuan utama saya untuk pulang ke Jogja adalah untuk bertemu dengan informan penelitian saya yang telah banyak membantu dalam proses penulisan skripsi. Saya sebenarnya tidak berani untuk bertemu dengan kawan-kawan atau keluarga, karena saya memprediksi bahwa akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru dan itu benar-benar terjadi. Tapi apa daya, mereka terkadang menjadi alasan utama, atau paling tidak alasan kedua saya untuk kembali ke Jogja.

Kembali lagi ke cerita ketika saya berada di Jogja kemarin, Yang Maha Kuasa sedang memberikan ‘hadiah’ berupa hujan abu yang berasal dari Letusan Gunung Kelud. Abu yang menumpuk bahkan jauh lebih tebal apabila dibandingkan ketika Gunung Merapi Erupsi. Namun, dibalik bencana tersebut, saya menemukan sebuah gambaran yang menyenangkan mengenai orang-orang Jogja (bisa disebut juga sebagai orang Jawa).

Sebelum bicara mengenai “gambaran yang menyenangkan” itu, saya akan bercerita mengenai pengalaman saya menjadi seorang Jawa. Menjadi seorang Jawa itu menyenangkan, tetapi juga banyak merasa kebingungan. Tradisi di Jawa sangat menjunjung tinggi hierarki dan patriarki. Selama saya tinggal di Jogja, dan berada di lingkungan teman atau keluarga, hal ini sangat terasa. Satu-satunya orang yang sampai saat ini masih bisa menerima dan agak memahami kebingungan itu adalah bapak saya. Sering kali kami berbicara mengenai gagasan-gagasan orang jawa yang masih sangat simbolik. Kami sering membicarakan dan saling bertanya mengenai Pakaian Adat Jawa, yang senjata khas (keris)-nya diletakkan di belakang, bukan di depan seperti dalam pakaian adat suku lain. Atau juga membicarakan mengenai Bahasa Jawa yang memiliki banyak tingkatan (kalau saya tidak salah ada lima tingkat). Sampai membicarakan hal yang tidak penting seperti mengapa jaman dahulu STOVIA sempat disebut sebagai sekolah dokter jawa? Apakah yang boleh menjadi dokter hanya orang Jawa? Namun demikian, kebingungan di atas bukan berarti menyatakan bahwa saya melakukan penolakan menjadi seorang Jawa. Saya tetaplah seorang Jawa.

Kembali lagi ke pengalaman saya saat pulang kemarin. Ketika di Jogja terjadi hujan abu dari Gunung Kelud, saya menemukan sebuah pengalaman bahwa masyarakat Jogja, yang didominasi oleh masyarakat Jawa, sangat luar biasa ketika merespons adanya bencana. Mereka tidak menunjukkan kepanikan yang berlebihan. Padahal selama sehari penuh hampir seluruh aktivitas lumpuh. Pengalaman seperti ini bukan hanya sekali. Ketika terjadi gempa pada tahun 2006 dan erupsi Merapi tahun 2010, saya juga menemukan pola aktivitas yang sama. Hal yang berpengaruh dalam perilaku tersebut adalah konsep gotong-royong di dalam masyarakat Jawa yang dijunjung tinggi. Ada satu kegiatan yang disebut dengan gugur gunung, yaitu bergotong-royong membersihkan desa. Setelah hujan abu kemarin, kegiatan ini terlihat dimana-mana. Tanpa perlu instruksi dari kepala RT, masyarakat memliki kesadaran untuk membersihkan lingkungannya. Hal semacam ini lah yang masih membuat saya bangga menjadi seorang Jawa dan akan saya jaga.

Seperti yang saya sampaikan di awal bahwa setiap kepulangan saya pasti ada hal menarik. Pengalaman di atas merupakan salah satu hal menarik yang saya temukan di Jogja. Setelah hampir lima tahun meninggalkan Jogja, saya justru tidak bisa melupakannya, saya justru makin merindu. Banyak orang bilang bahwa seburuk-buruknya harimu di Jogja, sebanding dengan hari yang baik di tempat lain. Untuk pendapat tersebut saya tidak bisa untuk berkata salah. Namun, saya tidak ingin terlalu lama di Jogja. Biarkan saya kangen dengannya sehingga saya masih punya rasa untuk pulang ke rumah.

Advertisements

6 thoughts on “Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s