Arjuna

Pagi masih seperti biasa. Aku hanya melakukan pekerjaan yang memang seharusnya ku lakukan. Seorang bocah laki-laki kecil berlarian di tepi pantai. Tidak jauh dari situ, ada sepasang kekasih yang sedang bermesra sembari menikmati pagi di pantai. Mungkin kedua orang itu adalah orang tua dari bocah itu, ya, karena baru mereka saja yang tampak.

Aku yang sedari tadi tertidur pulas tiba-tiba terbangun oleh dering telpon genggamku. Setelah agak tersedar aku mulai menyentuh telepon genggam itu. Sudah ada lima panggilan tidak terjawab dan tujuh pesan singkat.

“Kutunggu kau di Hotel Arjuna. Sekarang.” Bunyi pesan yang paling terakhir masuk.

Aku tertegun sejenak. Ada apa dia tiba-tiba mengajakku bertemu? Hampir lima tahun kita tidak pernah bertemu. Kabar terakhir yang aku dengar, Ia pergi merantau ke ibu kota dan tak lama setelah itu ia menikah dengan lelaki yang ditemuinya di sana. Diamku hanya untuk memikirkan apa yang telah aku perbuat selama lima tahun ke belakang? Adakah hutangku padanya yang belum terbayar?

Setelah selesai membersihkan diri, aku langsung bergegas menuju tempat yang tertera di pesan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan masih menghampiri kepalaku. Niatanku menghampiri teman lama ini murni karena ingin membantunya, kalau, mungkin, saat ini dia sedang mengalami kesulitan.

Tiga puluh menit perjalanan ku tempuh, akhirnya aku sampai juga di tempat ini. Rasa penasaran itu semakin menguat ketika ku bertemu dengan sorot matanya. Lima tahun sudah lewat tetapi aku masih bisa membaca apa yang dipikirkannya melalui tatapan matanya. Bukan tatapan tajam yang ingin meluap. Bukan juga mata yang berbinar yang muncul. Tapi itu adalah mata yang meninta, entah apa yang dipinta.

Tak terasa senja telah berubah menjadi malam. Semakin gelap semakin terlihat ada hal yang tersirat dibalik ucapannya yang berputar-putar. Aku sebenernya telah bisa menangkap maksud dari setiap perkataannya secara perlahan. Kalimat demi kalimat yang terucap seperti pola renda yang ada di bajunya, yang tentunya membuatnya semakin menawan, berulang-ulang dan sama. Obrolan kita sedikit sekali gurau, tanpa basa-basi, dan mungkin kita sedang terguras oleh nilai luar.

“Malam ini kalau bisa. Besok aku akan kembali ke Jakarta.” Ucapnya ketika aku sudah mengiyakan untuk membantunya dan bertanya kapan aku harus membantunya.

Sebelum matahari muncul, aku sudah meninggalkan tempat itu, meninggalkan dia dengan tidurnya yang lelap. Aku tak ingin melihatnya kecewa untuk menyesal, atau sebaliknya. Pagi itu, aku merasa telah menjadi aku yang baru. Entah kenapa, ada hal yang berubah dalam diriku.

***

Enam bulan berlalu dari pertemuan itu. Saat ini aku telah berpindah. Menjauh dari kotanya dan juga kota kecilku. Kepindahanku ke pulau indah ini hanya diketahui oleh orang tuaku dan beberapa kawan yang sempat aku jadikan tempat bercerita. Aku meminta dan memohon kepada mereka supaya tidak memberi tahu tempatku yang baru ini kepada siapapun, termasuk perempuan yang ku temui malam itu.

Aku mulai menikmati hidupku yang baru ini. Aku bukan mencari kehidupan di sini, tetapi aku membuatnya sendiri. Memang, pada saat kedatanganku di tempat ini aku masih mencari kehidupan, sama seperti fase-fase kehidupanku ketika mencapai titik transisi. Tetapi aku merasa bahwa aku tidak dapat menemukan kehidupanku, apalagi sejak malam itu. Lalu aku memutuskan untuk membuatnya, bukankah kalau kita tidak menemukan apa yang kita cari, kita harus bisa membuatnya sendiri, termasuk urusan kehidupan. Pikirku.

Dari hari ke hari aku mulai bisa menikmati hidup baru ini. Hidup baru yang aku ciptakan sendiri. Semua terasa berbeda dan aku menyukainya.

***

Bocah itu masih berlarian sambil bermain pasir yang menyelip disela-sela jari kakinya yang mungil. Aku sendiri mulai duduk bersandar setelah berbenah sebentar. Baru sekitar lima menit duduk, aku mulai tidak nyaman. Sepertinya ada hal yang menggangguku. Aku menantap sekitar, tapi memang belum ada pengunjung lagi selain keluarga muda itu. Tatapanku kini beralih dari si bocah ke orang tuanya. Sang ibu nampaknya juga memperhatikanku sekilas dan kemudian membisikkan suatu hal kepada suaminya. Aku tidak tahu, apakah mereka membicarakanku atau tidak. Atau mungkin aku yang terlalu ge-er.

Tiba-tiba sepasang suami istri itu menghampiri dan aku meyakini bahwa aku mengenal perempuan itu. Mata perempuan itu kembali berbicara, kali ini berbeda dengan pertemuan di hotel itu.

“Kamu sekarang tinggal di sini? Sudah berapa lama?” tanyanya padaku.

Aku sekedar menjawab dan bercerita panjang lebar tentang  perjalananku yang menghilang selama hampir tiga tahun sejak pertemuan terakhir dengannya. Ia sendiri mulai mengenalkan suami dan liburannya di pulau ini.

“Terimakasih banyak.” Suaminya tiba-tiba menjabat tanganku yang kemudian disambut oleh senyum istrinya.

“Arjuna…” Sang ibu memanggil anaknya untuk diperkenalkan padaku.

Wajahnya yang mungil dan sifat anak-anak yang masih kental membuatku tersenyum kecil. Tingkah laku anak yang berumur tiga tahun ini masih saja mencuri perhatianku. Aku dapat merasakan bahwa ada bagian dari diriku yang terdapat dalam diri anak ini.

“Dia adalah Arjuna kami, Arjuna kita juga.” ucap perempuan itu padaku dan suaminya. Aku mengerti maksudnya. Bahkan sejak ku ketahui bahwa anak itu bernama Arjuna.

Akhirnya, keraguanku selama ini karena menganggap bahwa aku akan dikesampingkan perlahan hilang. Aku mulai bisa merasakan bahagia walaupun terkadang menjadi tersepelekan. Dengan begitu juga, aku dapat mempunyai kesempatan untuk terkejut karena sebuah misteri. Layaknya hari ini dan mungkin esok hari.

Yogyakarta, 5 Mei 2013

Cerita tentang Manusia

Manusia, yang selalu ingin berlari. Ia mengejar apa yang diinginkannya. Jiwanya tak akan pernah puas. Buat mereka, kepuasan itu hanya sesaat.

Manusia, makhluk modern. Ia akan mencari yang namanya kemenangan. Kemenangan terhadap lingkungan sekitarnya dan individu lain yang ada di sekelilingnya.

Manusia, selalu mengenang yang buruk. Ia seakan lupa bahwa di dunia ini tersedia begitu banyak hal yang menyenangkan. Sering ia beranggapan jika kesenangan orang lain adalah kesengsaraan bagi dirinya.

Hei kalian, yang selalu mengejar pencapaian. Ingatlah sebuah tutur tentang mereka yang punya nama besar! Sebagian dari mereka terekam hanya sebatas nama. Namun, masih ada yang memberi memori tentang gagasan dan pengetahuan. Mungkin, mereka adalah yang berlari tepat arah. Kini? (mungkin) banyak yang terjerumus ke antah berantah.

Hei kalian, yang setiap waktu ingin menjadi pemenang. Tengoklah sekelilingmu. Berilah terang pada mereka yang masih gelap. Berilah untaian cinta dan kasih untuk mereka yang kerap murka. Ceritakanlah kisah hidupmu yang menyenangkan, sedari kecil hingga kini. Ajarkanlah mereka tuk menjadi manusia. Niscaya, kau adalah pemenang, bagi mereka, dan tentu saja bagi dirimu sendiri.

Hei kalian, yang hidupnya hanya dirundung dengan penyesalan. Coba sekali waktu kau kenang hal yang baik dari perjalanan hidupmu. Tak mungkin kita tak punya yang baik dalam memori kita. Bukankah kebaikan akan membawa keindahan? Sementara, keindahan adalah mimpi tentang kehidupan selanjutnya.

Sepotong ingatan tentang persoalan hidup. Terlintas, hidup adalah perjuangan untuk menunda mati. Manusia selalu ingin menang, berlari dari kejaran kematian, dan selalu mengenang yang buruk sembari berharap tak terjadi untuk kedua kali. Realita. Meski yang sadar hanya ingin mati sekali, bukan berkali-kali.

Ini tentang kalian. Kalian adalah kamu, dia, dan aku.

Mimpi

Pagi ini aku terbangun dengan penuh kegelisahan. Mimpi semalam masih membayangiku. Bahkan setelah aku membasuh muka dengan air yang dinginnya sangat menusuk.

***

Aku tinggal di sebuah kota yang besar di negeri ini. Disana aku sedang mencoba untuk menuntut ilmu yang sangat amat aku dambakan sejak dulu. Perjuanganku untuk mencapai kota ini tidaklah mudah. Bukan hanya ujian yang layaknya dihadapi oleh anak SMA yang ingin duduk di bangku kuliah, tetapi ada banyak kendala yang justru lebih berat menghalang.

Aku punya tempat kesukaan di kota ini. Tempatnya tidak jauh dari kampusku. Sekedar berjalan kaki atau bersepeda pun tidak masalah bagiku. Ya, benar sekali, semenjak tinggal disini, aku sangat suka bersepeda, mungkin karena angin lembut dan udara sejuk yang selalu menyapa setiap saat. Mungkin, kalau kalian datang ke tempat kesukaanku ini, kalian akan menganggapnya biasa saja. Tidak ada yang spesial dari tempat ini. Hanya tanah lapang yang dikelilingi oleh pepohonan dan beberapa warung kopi berdiri menanti pengunjung menghampirinya. Seperti yang kukatakan tadi, aku sangat suka menikmati angin dan udara di kota ini dan menurutku, tempat ini lah yang paling pas untuk sekedar memulai, berbagi hingga habis mengenang.

***

Sore ini, aku berfikir akan menjadi sore yang seperti biasa. Namun, kejadian di pukul dua lebih limabelas menit tadi mengubah segalanya. Mengubah semua hal yang telah aku rencanakan. Ketika aku membereskan kamar, aku menemukan beberapa catatan yang terlihat usang dan berdebu. Aku kembali membuka, membolak-baliknya sambil mengibaskan supaya debunya hilang sedikit demi sedikit. Kubaca perlahan catatan tersebut dan secara tiba-tiba juga aku terkejut sekaligus teringat suatu hal. Aku mulai panik, aku mulai gelisah dan aku tak tahu lagi harus memulai dari mana.

Catatan tersebut mungkin tidak menjadi sesuatu yang penting buat orang lain, tapi tidak bagiku. Catatan itu berisikan beberapa janji-janjiku bersama yang terkasih. Sebuah janji yang harus aku tepati ketika aku bisa menginjakkan kaki di kota ini. Bodoh sekali diriku ini yang sudah hampir tiga tahun berada di kota ini tapi tidak ingat sama sekali tentang janji itu. Bodoh sekali diri ini ketika aku hanya mementingkan diri sendiri dan lupa dengan yang membawamu hingga sampai melayang seperti saat ini. Yah, memang bodoh, tetapi aku tidak ingin melakukan kebodohan yang kedua kalinya.

Aku langsung berjalan menuju tempat yang seharusnya sudah dari tiga tahun yang lalu aku singgahi. Sepanjang jalan hanya ada rasa penyesalan karena baru saat ini aku melakukannya. Tapi, aku yang lain mengucap bahwa kenapa harus terus menerus menyesali kalau saat ini yang dibutuhkan adalah bertindak. Bertindak tanpa perlu banyak berucap tentang keluh yang kenyataannya terus menerus mengaduh selama hampir tiga jam empatpuluhlima menit. Oke, fokus!

***

Aku telah sampai di tempat dimana aku bersama sang terkasih menulis catatan itu. Aku menjadi linglung dan bingung tentang apa yang telah aku tuliskan tiga tahun yang lalu. Sangat tak terbayang kalau hari ini merupakan hari yang sangat amat terlambat. Bukan terlambat sepersekian detik, menit, atau jam, tetapi terlambat sepersekian tahun.

Aku hanya bisa bersandar pada akar pohon besar yang tiga tahun lalu aku buat untuk bersandar dengannya. Bayangan hari itu muncul kembali dalam anganku dan memang tidak bisa terhapus secara penuh. Aku tak ingin kimput hanya karena bayangan yang berkali-kali muncul. Aku sadar jika selamanya aku tak bisa seperti ini. aku mencoba menenangkan diri dengan menghirup dan menikmati kopi yang telah ku pesan beberapa menit yang lalu. Biarkan kafein membongkar imajiku yang liar dan tidak bisa dikendalikan itu.

Di sudut lain aku melihat seseorang bersama terkasihnya melakukan hal yang sama dengan apa yang hampir tiga tahun lalu terjadi disini. Aku melihatnya dan mulai berbisik pelan.

“Semoga kalian lebih beruntung.” ucapku lirih.

Setelah itu, lamunanku berlanjut ditemani dengan segelas kopi yang tak kunjung surut. Dan, mulai saat itu, tempat ini menjadi tempat kesukaanku.

***

Aku bangkit dari mimpiku dan aku sadari bahwa saat ini aku berada di kota yang terik, panas, dan berdebu. Sudah tak ada lagi sepeda yang disapu dengan angin yang semilir. Tak ada lagi pohon dengan akar besar yang bisa dijadikan tempat bersandar. Dan aku teringat kembali bahwa yang terkasih telah lama pergi. Dan semua itu hanyalah mimpi.

Memang, terkadang hal yang kita inginkan bukan suatu hal yang kita butuhkan. Dan yang paling kita butuhkan saat ini adalah merelakan.