Khawatir

Saya khawatir, jika nanti saya tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan kampus. Kebiasaan selama kurang lebih 4,5 tahun akan terbawa ke dunia baru saya.
Saya khawatir. Saya tidak bisa menyesuaikan dengan pemikiran “orang dewasa”. Karena saya masih merasa harus selalu diberi. Saya masih belum bisa memposisikan diri saya untuk memberi.
Saya khawatir. Saya takut tidak bisa lagi bercanda, tertawa, dan berbuat gila. Saya masih belum bisa serius.
Saya khawatir. Saya tidak bisa menulis lagi dengan bebas. Saya tidak bisa berbicara sesuka hati.
Saya khawatir, jika kekhawatiran ini adalah palsu.

Stress

Pernah gak kalian membayangkan atau memikirkan apa yang terjadi sama tubuh kalian ketika sedang stress? Gue bener-bener memikirkan hal ini. Kenapa? Karena respon tubuh gue gak enak ketika lagi stress di titik paling atas. Kalo gue kena diare, pasti gue sedang berada di titik tertinggi dari stress.
Menurut gue sih ini hal wajar, karena tubuh kita juga secara nggak langsung bakal dipengaruhi sama keadaan psikis kita. Gue sempet nanya ke salah satu teman, ternyata ketika dia berada di posisi stress paling tinggi, maag dia bakal kambuh. Jadi, gue berasumsi bahwa tubuh semua orang bakal punya respon yang berbeda ketika mengalami stress.
Gue jadi terbayang sama orang yang suka ketawa-ketawa sendiri atau berperilaku yang tidak biasa, pasti orang itu bakal diejek dengan kata-kata “wah, stress lu!”. Asik juga kan kalau itu beneran? Bayangin aja, ketika lo lagi pusing banget respon yang muncul dari tubuh lo adalah senyuman. Jelas lah bakal hilang tuh pusing, karena senyuman adalah penawar dari segala kegelisahan. Hahaha
Sebaliknya, gue juga nggak ngebayangin ketika nanti gue berada di kehidupan dewasa, masih sama kah respon tubuh gue ketika sedang stress. Sekarang aja, gue yang kuliahnya masih dibayarin orang tua, makan masih disediain, kalo stress udah begitu responnya. Gimana nanti kalo gue udah harus hidup dari keringat sendiri dan tiba-tiba stress? Masih sama kah respon tubuh gue? Atau lebih hebat? Pengennya sih, respon yang keluar ya senyuman. Tapi, gue punya keyakinan kalau manusia itu pasti bisa berjuang melawan keadaannya. Jadi, lihat saja konteksnya nanti.
Dengan menulis ini, gue sebenarnya juga bisa melepaskan diri sejenak dari stress. Mengalihkan perhatian sejenak dari mahakarya mahasiswa yang tak kunjung selesai. Maka dari itu, selagi masih ada waktu untuk bersenang-senang manfaatkan lah. Kalau semua dipikirkan dalam-dalam yang ada justru jadi stress! Haha…

Vakansi Satu Suro

Satu Suro kemarin (atau satu Muharam dalam kalender Islam), gue melakukan vakansi yang menyenangkan. Vakansi yang hampir selama dua tahun tidak gue jalani. Apakah vakansi tersebut? Gue potong rambut. Hahaha.

Tapi beneran kok, potong rambut itu adalah sebuah vakansi. Pertama lo bisa dipijet kepalanya ama tukang cukur setelah sekian lama gak pijet kepala. Kedua, lo bisa ngerasain air langsung menyentuh kulit kepala lo tanpa perlu susah payah bongkar-bongkar rambut supaya air masuk nyampe kulit kepala. Ketiga, kepala lo lebih enteng. Vakansi bukan?

Aneh? potong rambut aja kok disebut vakansi?! Sob, yang namanya vakansi gak cuma jalan-jalan ke tempat yang jauh, cukup membuat lo seneng itu udah vakansi. Pertanyaan selanjutnya, kenapa harus tanggal 1 Suro? Gue sih pengen keliatan aneh aja, kalo ditanya kenapa potong rambut, gue tinggal jawab “soalnya pas tanggal 1 Suro.” Pasti orang-orang yang mendengar itu langsung mengarahkan ke hal yang klenik dan mistis.

Namun, setelah gue potong emang secara gak sengaja banyak pertanda dari semesta yang menghampiri gue. Jadi, pas tanggal 1 Suro, abis gue potong rambut, gue langsung balik ke rumah dan gak mau keluar. Sengaja gue gak mau keluar karena masih agak aneh aja dengan rambut baru ini. Tapi, keesokan harinya, gue berangkat ke kampus jam delapan pagi. Niatnya sih mau ke Perpusnas, tapi gak jadi karena Drasup kesiangan. Ketika baru keluar rumah, di jalan menuju kampus gue ngeliat orang gondrong naik motor dan rambut keritingnya berkibar keluar helm. “Itu gue dulu pas gondrong (dulu)”. Pertanda nomor satu.

Selanjutnya, pas sampai kampus temen-temen ada yang merespon keputusan gue potong rambut. Tapi satu respon yang gak gue sangka adalah respon dari Yuriko. Dia bilang kalo kemaren dia sempet mimpi kalo gue potong rambut, tapi gak sependek yang sekarang. Dia juga bilang kalo gue terlihat kurusan setelah potong rambut (hahaha). Pertanda nomor dua.

Nah, pas gue mau pulang dari kampus, seperti biasa, gue intip-intip tuh tukang ketropak yang ada di depan gang. Ketoprak ini emang enak, jadi kadang-kadang tiap malem gue mampir dulu. Nah, kebetulan pas gue ngelirik tiba-tiba ada satu mobil berhenti, yang kayaknya mau beli ketropak, dan keluarlah sang pengemudi dengan rambut keriting gondrongnya. Salah gue ngelirik ke tukang ketoprak deh. Pertanda nomor tiga.

Entah kebetulan atau tidak dengan keputusan gue potong rambut di Satu Suro, itu teserah kalian yang membaca. Buat gue, hal ini menjadi semacam kegiatan yang tiba-tiba menyenangkan. Bayangin aja, dua tahun gue gak potong rambut. Pas gue memutuskan untuk potong rambut, tiba-tiba ada hal-hal yang ngingetin asiknya pas punya rambut gondrong. Emang sih, kadang-kadang pas kehilangan itu kita baru merasa benar-benar memiliki #asyek. Ini bener! Pas gue gondrong, bisa dibilang gue gak merawat rambut. Jarang sisiran, mentok-mentok keramasan doang. Tapi begitu abis potong baru deh pengen gondrong lagi. Tapi, yang udah, udah lah ya.

Namun, pilihan gue buat potong rambut bukan semata-mata untuk mencari momen pas tanggal satu Suro. Terkadang kita membutuhkan pengorbanan tentang sesuatu yang benar-benar kita jaga untuk mendapatkan sesuatu yang memang pantas untuk kita. Gue teringat dengan salah satu ritual yang dilaksanakan oleh orang-orang di dataran tinggi Dieng. Setahun sekali, mereka mengadakan ritual potong rambut gimbal (btw, rambut gue ada yang ngegimbal sendiri). Rambut gimbal ini dimiliki oleh anak-anak Dieng dan mereka sendiri yang menentukan kapan mau dipotong rambutnya. Ketika telah dipotong rambutnya, maka biasanya si anak mempunyai permintaan khusus yang harus dituruti.

Dari peristiwa tersebut, ada hal sederhana yang gue ambil. Anggap aja gue ini seorang anak Dieng yang berambut gimbal. Gue pun memutuskan untuk memotong rambut gue karena setelah itu gue punya keinginan yang harus dan mau gak mau harus gue penuhi. Keinginan gue adalah gue ingin mencapai hal menyenangkan ketika menutup tahun 2013. Gue ingin ada tambahan gelar sarjana di belakang nama gue. Setelah gue bisa dapatkan hal itu, gue bisa gondrong lagi kan?! Hahaha…

Terakhir, gak semua yang lo baca di sini bener. 😀