Kita Bisa Menjadi Ancaman Mereka

Satu bulan terakhir, euforia pecinta sepakbola nasional sedang memuncak. Apa yang selama ini telah hilang bisa dirasakan kembali. Semua itu berasal dari prestasi sepakbola anak muda, Tim Nasional U-19. Setelah mengalahkan Vietnam dalam laga Final AFF U-19, maka euforia juara kembali dirasakan di Indonesia. Tidak hanya itu, dalam waktu yang singkat mereka bisa membuktikan untuk lolos ke Putaran Final AFC U-19 setelah menaklukkan juara bertahan, Korea Selatan.
“Pertandingan semalam ibarat memberikan pengalaman surealis.” Ujar salah satu kawan saat saya bertemu dengannya sehari setelah kemenangan melawan Korea Selatan. Memang, tontonan yang disajikan timnas selama AFF dan kualifikasi AFC seperti memanjakan mata dan membuat jantung jarang berdebar. Semua yang menonton pasti akan senyum-senyum sendiri melihat permainan yang benar-benar menghibur. Apalagi, ketika pertandingan melawan Filipina dan Laos, timnas kita bisa memaksa mereka untuk menerapkan strategi ‘parkir bus’. Lama sekali saya tidak melihat kejadian seperti ini, dan yang sering justru sebaliknya.
Pesta pun dimulai. Kegembiraan orang-orang atas prestasi ini tumpah seketika. Tengok saja timeline twitter selama satu hingga dua jam setelah pertandingan melawan Korea Selatan, wacana yang terbangun hanyalah menyoal sepakbola. Semua menjadi tahu tentang bola, semua seolah-olah menjadi pandit sepakbola. Saya masih menganggap wajar dengan yang demikian, bahkan secara sadar pun saya ikut terlibat di dalamnya.
Lalu, beranjak lah kita ke hari berikutnya. Wacana yang terbangun hampir di seluruh media adalah bagaimana caranya supaya anak-anak muda Indonesia ini bisa terhindar dari pengaruh para politisi dan juga orang-orang di PSSI, yang menurut mereka, bisa mengganggu atau bahkan merusak harmoni yang saat ini sedang terjaga rapi di timnas U-19.
Ambil contoh ketika ketua PSSI berkomentar bahwa setelah AFF, para pemain berpotensi untuk menjadi bintang iklan. Apa yang terjadi? Masyarakat protes. Bahkan Pak SBY pun ikut memperingatkan PSSI supaya tak mengacaukan timnas U-19. “Era pengurus PSSI bertengkar dan tidak kompak sudah lewat. Jangan terjadi lagi. Jangan biarkan konflik pengurus mengacaukan Timnas kita,” Tulis Pak SBY di laman Facebook miliknya.
Lalu, bagaimana dengan kita, masyarakat itu sendiri, dalam memandang keberhasilan timnas U-19? Kemungkinan pertama adalah kita akan mendukung mereka dengan tulus dan wajar. Atau, yang kedua, adalah kita akan mendukung mereka dengan cara-cara yang berlebihan. Sampai tulisan ini saya buat, saya melihat secara subjektif kemungkinan kedua lah yang akan muncul.
Baru saja saya menonton berita yang menceritakan respon masyarakat terhadap kemenangan timnas. Ada beberapa pemain yang diajak untuk berkonvoi mengelilingi kota asalnya. Ada pula pemain yang diarak di desanya, berkeliling dari balai desa menuju rumahnya. Gambaran-gambaran seperti ini menunjukkan bahwa begitu besarnya ekspektasi yang digantungkan oleh masyarakat kepada anak-anak muda ini.
Apakah salah kita berekspektasi secara berlebihan terhadap mereka? Buktinya, permainan mereka bisa jadi menjawab ekspektasi tersebut. Menurut saya sendiri, hal seperti ini adalah kesalahan. Ada satu hal pembeda yang menjadi karakter khas dari mereka, yaitu, mereka adalah sekumpulan anak yang masih muda. Menurut saya, janganlah kita berekspektasi secara berlebihan terhadap mereka. ekspektasi tersebut bisa saja mereka konversi sebagai sebuah beban. Tentu kita tidak ingin melihat mereka bermain penuh beban bukan?
Usia mereka yang masih muda tentu saja menunjukkan bahwa jiwa mereka juga masih muda. Jiwa yang dipenuhi dengan mimpi dan tebalnya keyakinan. Sudah sangat jelas bahwa mimpi dan keyakinan merupakan bagian dari tim ini. Evan Dimas pernah berujar bahwa semua bisa dikalahkan, kecuali Tuhan dan orang tua. Keyakinan yang seperti ini lah yang harus tetap dijaga sampai akhir. Jangan sampai, kita yang berniat mendukung mereka justru memberikan realitas yang bisa merusak mimpi dan keyakinan mereka.
Jangan sampai ucapan Mochtar Lubis saat pidato kebudayaan tahun 1977, tentang sifat manusia Indonesia teramini melalui wajah sepakbola negeri ini. Ia sempat berujar bahwa manusia Indonesia memiliki watak yang lemah, karakternya kuat. Maksud dari ucapannya adalah bahwa kita dapat saja berubah-ubah keyakinannya, kadang kita memihak kadang kita menjadi lawan.
Ucapan Mochtar Lubis bila dikaitkan dengan sepakbola kita, bisa jadi, kita mendukung kemudian kita menghujat. Harapan saya, euforia dan ekspektasi berlebihan yang sempat terjadi saat AFF 2010 jangan sampai terulang. Begitu besar harapan yang tumbuh, tetapi ketika hasil yang ada berbeda dengan harapan itu maka orang-orang berjalan menjauh satu-persatu.
Jadi, apakah kita (masyarakat) akan menjadi pesaing para politisi, dan sejenisnya dalam menebar ancaman bagi Timnas Indonesia U-19? Cuma kita sendiri yang tahu jawabannya.

Antara Lawan, Kawan, dan Musuh

Bicara mengenai rivalitas, mari kita menengok dua liga besar di dunia yang memang telah ditakdirkan menjadi tempat bernaungnya dua pasang klub yang memiliki sejarah rivalitas yang panjang. Real Madrid dan Barcelona di Liga Spanyol serta AC Milan dan Inter Milan di Liga Italia.

Mari kita melihat cerita apa saja yang telah terjadi antara Real Madrid dan Barcelona terlebih dahulu. Salah satu kisah yang paling menarik dalam kurun waktu dua dasawarsa tearkhir, yang melibatkan kedua klub ini adalah hijrahnya pemain dari Barcelona ke Real Madrid. Perpindahan pemain diantara kedua klub ini sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1902 saat Alfonso Albeniz hijrah dari Klub Katalan menuju Klub Ibukota. Namun, pada Juli 2000, sebuah berita di bursa transfer cukup mencengangkan. Pertama, tokoh utamanya adalah Luis Figo yang kelak akan menjadi peraih ballon d’or di tahun itu. Kedua, transfer senilai 37,5 juta pounds menjadi angka yang termahal saat itu. Dan ketiga, Ia memutuskan untuk pindah menuju ke rival klub asalnya, dari Barcelona menuju Real Madrid.

Tak ayal, saat menjalani laga El Clasico, Figo pun menerima cemoohan dari fans Barcelona saat timnya bertandang ke Nou Camp. Bahkan pada musim 2002/2003, Ia disuguhi kepala babi saat berkunjung ke kandang Barcelona. Bahkan salah satu kanal olahraga terkemuka di Eropa, ESPN, menuliskan bahwa hal tersebut merupakan hadiah dari sebuah pengkhianatan terbesar yang dilakukan oleh Figo.

Kisah Figo merupakan salah satu dari sekian banyak kisah yang muncul selama berpuluh tahun rivalitas kedua klub tersebut. Saat ini pun, rivalitas tersebut masih berbau tajam. Bahkan, dalam beberapa musim terakhir, banyak orang mengatakan bahwa Liga Spanyol hanya terdiri dari dua klub ini. Selain itu, rivalitas ini diperkuat dengan hadirnya Ronaldo dan Messi yang selalu berebut untuk menjadi nomor satu.

Rivalitas keduanya bukan saja terjadi di atas lapangan tetapi juga terjadi di luar. Mungkin sebagian dari Anda telah mengetahui bahwa di Spanyol terdapat kubu-kubu yang bersifat primodial. Barcelona sering dianggap mewakili Catalan, sebuah wilayah di Spanyol yang telah lama berupaya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Sedangkan Real Madrid dianggap sebagai wakil kelompok Castillian yang menjadi simbol dari kelompok bangsawan, penguasa, dan dominan di Spanyol. Bahkan, untuk menegaskan pernyataan tersebut, bendera Catalan sering kali dijadikan koreo oleh fans Barcelona ketika klubnya bertanding di Nou Camp, apalagi saat menghadapi Real Madrid. Namun, hal ini tidak lah menjadi faktor utama rivalitas kedua klub ini. Toh, masih banyak pendukung kedua klub tersebut yang berasal dari luar Spanyol.

Lalu bagaimana dengan rivalitas antara AC Milan dan Inter Milan? Dua klub yang berasal dari kota yang sama, bahkan berbagi homebase yang sama. AC Milan, yang menjadi ‘kakak’ dari Inter Milan karena terlahir sembilan tahun lebih dahulu ketimbang Inter Milan, didirikan oleh Alfred Edwards pada tahun 1899. Selama sembilan tahun itu pula hanya ada satu klub di Milano. Namun, pada 1908, Milan Cricket and Football Club, atau yang bisa disebut sebagai AC Milan, mengalami perpecahan. Sekelompok orang Italia dan Swiss tidak senang dengan dominasi pemain Italia dan menginginkan banyak pemain asing. Namun, usul tersebut ditolak, sehingga sekelompok orang tersebut keluar dan membentuk klub Internazionale, yang dengan tujuan diisi oleh banyak stranieri. Hingga kini, rivalitas tersebut tetap ‘dipelihara’ selama hampir 105 tahun.

Layaknya sebuah rivalitas, tentu terdapat intrik menarik di dalamnya. Salah satu yang bisa diamati adalah perilaku dari para ultras. Seperti yang kita ketahui bahwa kedua klub ini berbagi kandang yang sama sehingga tempat dari setiap ultras hanya berada di tribun yang berbeda. AC Milan di Curva Sud dan Inter Milan di Curva Nord. Daya  tarik dari ultras di Italia adalah koreo yang selalu mereka lakukan sebelum pertandingan. Hal yang paling menarik, dan masih berhubungan dengan pengkhianatan, adalah saat terjadi derby della madoninna tahun 2010. Saat itu, Leonardo baru saja menangani Inter Milan, setelah, pada musim sebelumnya ia menjadi allenatore di AC Milan. Koreo di Curva Sud pun bergambarkan lukisan Da Vinci, Perjamuan Terakhir dengan Leonardo sebagai Judasnya. Koreo yang ada di Curva Nord saat berlangsung derby pun tak kalah seru. Seperti yang muncul pada derby terakhir yang menceritakan mengenai kebijakan transfer AC Milan. Dalam koreo tersebut, para penghuni Curva Nord mengejek AC Milan atas kepindahan Ibrahimovic dan Silva ke PSG.

Namun, tragedi yang cukup mengerikan sempat terjadi pada tahun 2005 saat perempatfinal Liga Champions. Saat itu AC Milan memimpin dengan skor 1-0 dan agregat 3-0. Tiba-tiba, pertandingan dihentikan karena terdapat flare yang dilemparkan ke lapangan dan mengenai pundak Dida. Kejadian tersebut diawali oleh keputusan kontroversial wasit yang mengakibatkan fans Inter marah. Pertandingan semat ditunda selama 30 menit, tetapi hanya bisa dilanjutkan beberapa menit karena masih ada flare yang dilemparkan lagi. Akhirnya, diputuskan bahwa pertandingan dimenangkan oleh AC Milan.

Ketika kita bicara mengenai rivalitas, baiknya tidak melulu selalu berakhir dengan kekerasan, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Melihat rivalitas Catalan dan Castillian, toh tidak semua supporter berasal dari daerah tersebut. Rivalitas antara Ronaldo dan Messi pun sebatas persaingan untuk mengejar prestasi. Bahkan, kalimat-kalimat yang sering diucapkan Ronaldo untuk menegaskan rivalitasnya dengan Messi bukan kalimat yang bersifat ofensif. Toh jika kita melihat Top Eleven versi FIFA tahun 2012 didominasi dengan lima pemain Madrid dan lima pemain Barcelona, sama halnya dengan Timnas Spanyol, yang menguasai Eropa dan Dunia saat ini, didominasi pemain kedua klub tersebut.

Melihat yang terjadi di Italia, banyak pemain Inter Milan yang simpati terhadap Cassano yang terkena stroke musim lalu atau, sebaliknya, banyak pemain AC Milan yang bersimpati dengan cedera Milito saat ini. Seperti yang dilakukan El Shaarawy melalui akun Facebooknya. “Saya mengharapkan yang terbaik untuk Diego Milito. Saya mengirimkan pelukan (untuk dirinya). Anda adalah juara sejati dan saya harap Anda akan kembali bermain secepatnya!” tulisnya.

Bagi Saya, dan mungkin juga Anda yang sepaham, mungkin agak aneh ketika melihat orang-orang yang berdebat kusir baik secara langsung maupun melalui akun media sosial. Ketika melihat hal tersebut, selalu terpikir, memangnya siapa kita? Kalau bagi saya sendiri, Saya adalah seorang fans abal-abal sebuah klub sepakbola Eropa, yang bahkan belum pernah menyaksikan langsung, dan bahkan saya baru kenal klub idola saya 10 tahun yang lalu. Dengan kapasitas itu sepertinya tak perlu ada hal yang harus diperjuangkan secara berlebihan. Bagi saya, rivalitas sebuah klub harus dimiliki demi adanya permainan dan dram di atas lapangan yang menghibur. Namun sebuah rivalitas jangan sampai berlanjut hingga mengakibatkan kekerasan. Menutup tulisan ini, saya mengutip jargon kebanyakan orang yang mencerminkan fenomena ini. “we’re rival, but not enemies!”

*Tulisan ini pernah dimuat di definefootball.com

Komersialisasi Sepakbola yang Berlebihan

Liga Italia Serie A telah melewati gionarta ketiga dan AC Milan masih mendapatkan hasil yang belum memuaskan. Satu kemenangan dan sisanya kalah di kandang sendiri. Performa dari klub unggulan ini memang mengejutkan. Beberapa orang berpendapat bahwa hal ini terjadi karena kebijakan klub yang melepas pemain-pemain kunci.

Menjelang musim 2012/2013 merupakan tantangan bagi AC Milan. Ditinggal oleh beberapa pemain andalan yang memang sudah mulai memasuki masa tua sekaligus tidak lagi menjadi andalan pelatih Allegri. Selain itu, kepergian Ibrahimovic dan Thiago Silva, yang menjadi andalan dalam dua musim terakhir, ke PSG merupakan kehilangan yang sangat besar bagi klub. Kebijakan Berlusconi dalam merekrut pemain di bursa transfer juga dipertanyakan karena tidak ada ‘pemain bintang’ yang masuk ke dalam tim. Keadaan ini lah yang menjadi ‘kambing hitam’ keterpurukan Rossoneri di awal musim 2012/2013.

Namun, sebenarnya ada hal yang jauh lebih berpengaruh dari alasan-alasan yang telah disebutkan diatas. Apabila kita mencermati secara lebih jauh, terdapat sebuah fenomena yang menarik yaitu munculnya taipan-taipan atau kelas borjuis (mengambil istilah dari Marx) yang mencoba menguasai industri sepakbola. Sebenarnya, fenomena ini bukanlah fenomena yang baru. Bahkan, pada era 1980-an, Berlusconi dan Moratti merupakan dua orang tokoh yang memulai aktivitas ini dengan membeli AC Milan (Berlusconi) dan ‘tetangganya’ Internazionale (Moratti).

Pada tahun 2000, Real Madrid memiliki presiden baru yang bernama Florentino Perez, seorang pengusaha sekaligus politikus di Spanyol. Ia memulai membangun Madrid untuk menjadi sebuah tim yang mewah dengan menggunakan modal yang ia miliki. Gebrakan pertama yang ia lakukan adalah perekrutan Luis Figo, pemain yang diambil dari rival terberat mereka di Liga Spanyol, Barcelona. Selanjutnya, secara berurutan ia merekrut Zinedine Zidane, David Beckham, dan beberapa pemain lainnya. Tim yang ia bangun ini kemudian diberi julukan sebagai Los Galacticos, yang artinya kurang lebih adalah tim yang bertabur bintang.

Fenomena ini berlanjut dan terus berlanjut. Chelsea, sebuah klub besar yang kemudian menjadi sangat hebat setelah diakuisisi oleh taipan asal Rusia, Roman Abrahamovich. Manchester City, yang tidak mau ketinggalan dengan tetangganya, dibeli oleh Sheikh Mansour. Terakhir adalah Paris Saint Germain (PSG) yang sedang rajin-rajinnya memburu pemain-pemain bintang. Klub ini pun juga berasal dari kucuran uang dari Qatar Investment Authority.

Roman Abramovich, taipan asal Rusia yang merupakan pemilik Chelsea

Penjelasan diatas mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi hegemoni yang ditimbulkan dari klub-klub yang ‘kaya mendadak’. Hal ini tentu saja diharapkan tidak mengurangi antusiasme kompetisi dalam setiap liga. Namun, sepertinya hal tersebut urung terjadi.

Sebenarnya, federasi sepakbola Eropa telah mengatur segala kebijakan klub yang terkait dengan uang atau belanja klub, termasuk kebijakan transfer pemain, di dalam Financial Fair Play (FFP). Peraturan tersebut dibuat agar setiap klub tidak berlebihan dalam menggunakan kebijakan keuangannya sehingga tidak akan timpang dengan klub-klub lainnya.

***

Komersialisasi sepakbola saat ini memang sangat mengerikan dan berlebihan. Hanya mereka yang memiliki modal banyak lah yang mampu bertahan dan mencapai eksistensinya di dunia persepakbolaan. Mereka yang kuat secara finansial akan dengan mudah ‘membeli’ gelar juara. Sedangkan klub yang secara finansial dianggap pas-pasan akan selalu berusah untuk memproduksi pemain-pemain berkualitas supaya klub-klub bermodal melirik mereka.

Hubungan mereka ini terlihat seperti hubungan kaum penguasa dengan kaum pekerja. Kaum penguasa disini bisa disebut juga sebagai kaum borjuis. Sedangkan klub-klub medioker dipaksa ‘untuk’ memproduksi pemain-pemain yang nantinya ketika telah matang akan dimanfaatkan oleh kaum borjuis untuk membeli gelar juara.

Fenomena lain adalah adanya hegemoni dua klub raksasa di Liga Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Mereka menguasai sepenuhnya liga sehingga liga tersebut dianggap hanya sebagai pertarungan dua klub tersebut. Akibatnya, hak siar paling banyak diberikan kepada kedua klub ini. padahal, hak siar merupakan salah satu pendapatan yang menguntungkan bagi sebuah klub. Bisa dibayangkan, setiap minggunya, laga-laga Liga Spanyol yang disiarkan  televisi hanya berkutat pada kedua klub tersebut.

Messi dan Ronaldo, dua pemain yang menjadi tokoh utama dalam persaingan Barcelona dan Real Madrid. Sumber: AFP PHOTO/ JAVIER SORIANO

Hal tersebut memunculkan berbagai macam reaksi, termasuk salah satunya adalah munculnya kebijakan FFP. Reaksi yang lebih ekstrim lagi adalah munculnya gagasan untuk menciptakan liga yang pesertanya selain Real Madrid dan Barcelona.

Namun, apabila tidak ada fenomena klub-klub yang menjadi raja baru apakah sebuah kompetisi akan menarik? Belum tentu. Justru hal ini adalah sebuah percikan-percikan penghias sepakbola di era modern. Tentunya kita tidak boleh lupa bahwa fenomena ini sudah terjadi sejak zaman Maradona mulai merumput di Eropa.

Depok, 17 September 2012