Fatahillah Food Festival (Katanya)

Satu minggu yang lalu saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta yang di sana sedang berlangsung Fatahillah Food Festival. Rencana ini sebenarnya juga dadakan. Saya berangkat dari Depok dengan Ekky. Sementara itu, ternyata Ovan dan kawan-kawan juga mengajak kemari. Tetapi saya memilih naik kereta, sedangkan Ovan dkk naik motor, karena setelah itu rencananya mereka akan nonton Iwan Fals (yang ternyata setelah sampai monas cuma dapet macetnya doang).

Berangkat dari Depok dengan optimisme dan ekspektasi yang tinggi, tapi ujung-ujungnya malah kecewa. Lalu, sebenarnya apa yang saya ekspektasikan? Kita semua pasti tahu dengan acara Braga Culinary Night yang diselenggarakan di Bandung beberapa bulan yang lalu. Seperti itulah yang ada di kepala saya. Mengapa demikian? Karena, dari informasi yang tertulis dan disebarluaskan, kegiatan ini baru dimulai sekitar jam lima sore dan berakhir jam sepuluh malam. Dari kegiatan yang sama-sama diselenggarakan di malam hari berarti apa yang disajikan tentu tidak akan jauh berbeda. Apa yang ada di kepala saya adalah gambaran Braga Culinary Night yang diselenggarakan di Kota Tua. Artinya, ketika saya datang, saya bisa makan jajanan pasar atau cemilan tradisional dengan puas dan tidak begitu berdesak-desakan, karena diselenggarakan di Kota Tua. Ternyata hasilnya berbeda.

Kerumunan di Food Festival yang terkesan eksklusif
Kerumunan di Food Festival yang terkesan eksklusif

Pertama, yang paling bikin menyesal adalah makanan yang disediakan adalah makanan-makanan berat semua. Seperti yang saya sebutkan di awal tadi, saya mengira bahwa akan banyak jajanan di sini, ternyata tidak. Stan makanan yang tersedia sebagian besar adalah makanan berat, yang harus menggunakan nasi. Bentuk yang tersaji di sini kesannya justru seperti tempat makanĀ  yang tadinya ada diĀ  dalam mall sekarang dipindahkan ke halaman Museum Fatahillah. Belum lagi sekat yang ada di arena “festival” tersebut. Seolah-olah menghilangkan identitas Taman Fatahillah yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang tanpa adanya batas ruang.

Selanjutnya, model pembayaran yang bagi saya kurang nyaman. Semua makanan dan minuman di sini harganya kelipatan lima ribu rupiah. Selanjutnya, tidak ada aturan yang jelas. Tiba-tiba saja, saya dan Ekky mendapatkan informasi dari salah satu teman kampus yang kita temui di sana bahwa sebenarnya voucher tersebut bisa direfund. Kalau saja kita tidak dapat informasi tersebut, bisa saja vouchernya kita buang sia-sia.

Saya sempat berfikir jika penyelenggaraan kegiatan ini hanya setengah-setengah saja. Untuk ukuran sebuah food festival, ruang yang digunakan sangatlah kecil dan yang disajikan tidak sesuai dengan konteks waktu. Hanya disediakan tempat kurang dari seperempat luas lapangan dan justru banyak makanan berat yang tersaji ketika pilihan waktunya adalah malam hari. Padahal, berdasarkan informasi yang saya dapat, tujuan dari diselenggarakannya food fest ini adalah bagian dari revitalisasi kota tua. Penyelenggara sempat menjanjikan jika makanan yang disediakan adalah makanan khas ibu kota. Namun yang saya temui justru kuliner nusantara, tapi ini bukan masalah. Hanya saja kurang terasa “Jakarta dan Kota Tua-nya”.

Tapi gak apa-apa, soalnya cakalang yang saya makan enak dan pedas (biarpun mahal)! Semoga Food Festival berikutnya bisa lebih menyenangkan.

Advertisements